Supreme Cultivation

Supreme Cultivation
Sc.48



Selesai membinasakan penatua pertama, Ming Can pergi begitu saja dari sana dan menuju ruangan sang ayah.


Sampai di ruangan sang ayah, Ming Can mendapati sang ayah sedang duduk di kursi dan menikmati secangkit teh hangat ditangannya.


"Baru pulang sudah buat kekacauan" ucap sang ayah.


"Hehehe.....ayah pasti tahu alasan aku melakukannya bukan?" tanya Ming Can.


"Huft.....baiklah kamu sebaiknya istirahat terlebih dahulu, ayah akan membereskan kekacauan yang kamu buat dulu" ucap sang ayah.


"Baik" jawab Ming Can.


Ming Can kemudian pergi masuk kedalam kamarnya yang sudah beberapa waktu tidak ditempati olehnya, kemudian mandi.


Selesai mandi langsung berpakaian dan berbaring diatas kasur dengan nyaman.


"Balas dendam berhasil dilakukan, tujuan berikutnya aku harus memperkuat kultivasiku" ucap Ming Can.


Namun dirinya sekarang memilih untuk tidur terlebih dahulu sebelum melakukan kerja keras untuk berkultivasi di masa yang akan datang.


...------...


Malam hari.


Selepas bangun tidur, Ming Can pergi keluar kamar dan kebetulan berpapasan dengan sang ayah.


"Pergilah makan terlebih dahulu, baru setelah itu temui aku di ruanganku" printah sang ayah.


"Baik" jawab Ming Can.


Ming Can kemudian pergi keruang makan dan disana dirinya sudah disediakan makanan enak diatas meja.


"Silahkan tuan muda" ucap sang pelayan.


"Terimakasih" jawab Ming Can.


"Kalau begitu saya pamit undur diri" jawab sang pelayan.


"Ya" jawab Ming Can.


Ming Can dengan santai memakan semua makanan diatas meja, dan setelah selesai langsung bergegas menemui sang ayah sesuai perintahnya.


Sebelum masuk kedalam ruangan sang ayah, Ming Can terlebih dahulu mengetuk pintu tiga kali.


Sampai setelah diperbolehkan masuk, barulah dirinya membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.


"Duduklah" ucap sang ayah.


"Baik" jawab Ming Can.


Setelah duduk, langsung saja Ming Can buka suara "apa yang ingin dibicarkan denganku?"


"Ada sebuah rahasia yang mungkin sudah waktunya ayah beritahukan pad dirimu" ucap sang ayah tenang namun terlihat berat untuk diucapkan.


"Rahasia apa itu?" tanya Ming Can.


"Kamu bukanla anak kandung ayah" ucapnya.


"Lalu....siapa orang tuaku?" tanya Ming Can setelah cukup tenang.


"Tidak tahu, aku menemukan dirimua didepan gerbang sekte sewaktu kau masih bayi" jawabnya.


"Apakah ada tanda pengenal atau sesuatu yang lainnya?" tanya Ming Can.


Sang ayah menjawab dengan gelengan kepala.


"Huft....aku terkejut mendengar ini, namun aku lega mendengarnya langsung darimu ayah" jawab Ming Can.


"Kau tidak ada perasaan marah atau kesal padaku?" tanya sang ayah.


"Buat apa merasa kesal pada orang yang sudah membesarkan dan merawat diriku sejak kecil sampai sebesar sekarang?" tanya Ming Can.


"Syukurlah" jawab sang ayah.


"Apakah hanya itu yang ingin dibicarakan?" tanya Ming Can.


"Masih ada satu hal lagi" jawab sang ayah.


"Apa itu?" tanya Ming Can.


"Selepas perjalanan pulang dari pertempuran sebelumnya, ayah menemukan sebuah informasi yang penting" jawabnya.


"Apa itu?" tanya Ming Can.


"Akan ada sebuah pertempuran yang diadakan di kota Yuguang, dan bagi sepuluh peringkat teratas yang memenangkan kompetisi akan berkesempatan memasuki sekte besar di benua Cangla ini" ucap sang ayah.


"Jadi ayah ingin aku pergi dan mengikuti kompetisi itu?" tanya Ming Can.


"Ayah tidak akan memaksa dirimu untuk pergi jika tidak mau, namun jika kamu ingin pergi silahkan saja dan tidak akan ayah larang" jelas sang ayah.


"Baik, aku akan pergi" jawab Ming Can.


"Kau tahu bukan ada lima sekte besar di benua Cangla ini, jika kau punya kesempatan untuk memilih salah satu dari lima sekte besar itu. Maka sekte mana yang akan kau pilih?" tanya sang ayah.


"Sekte Awan Laut" jawab Ming Can.


"Pilihan yang bagus, bersiaplah dan berangkat besok pagi ke kota Yuguang" jawab sang ayah.


"Baik, kalau begitu aku pamit undur diri terlebih dahulu" jawab Ming Can pamit undur diri sekarang dari hadapan sang ayah diruangan tersebut.


"Baiklah, semoga kau beruntung" jawab sang ayah.


"Terimakasih" jawab Ming Can.


Setelah pergi dari ruangan sang ayah, Ming Can masuk kembali kedalam kamarnya dan segera menyiapkan semua beka kebutuhan dirimya untuk keberangkatan besok menuju kota Yuguang demi mengikuti kompetisi beladiri.


Bersambung......


Jangan lupa


Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.


Terimakasih.