
Ming can dengan yang lainnya selesai melakukan perjamuan malam hari itu yang disediakan oleh keluarga Yun Mei.
Saat ini mereka semua tengah berada diruangan aula bersama dengan para tetua dan orang-orang lainnya yang siap mendengarkan cerita Yun Mei dan yang lainnya mengenai apa yang telah dialami selama direruntuhan lima elemen.
"Bisakah kamu ceritakan apa yang telah kamu lalui dan alamai selama didalam reruntuhan lima elemen Yun Mei?" tanya sang ayah.
"Tentu ayah" jawab Yun Mei.
Dengan senang hati Yun Mei menceritakan hal apa saja yang telah dilalui dan didapatkan selama direruntuhan lima elemen, namun tidak menceritakan bagian saat dirinya yang memiliki momen romatis dengan Ming Can.
Cerita panjang tersebut diakhiri setelah 3 batang dupa berlalu.
"Jadi Lin Dong beserta dengan Feng Shui terbunuh oleh kelompok pasukan manusia batu sang penghuni reruntuhan lima elemen yang setara dengan kultivator tahap langit 5?" tanya ayah Yun Mei.
"Benar, Ming Can kemudian Yu Tianlang dan 7 permata bisa mejadi saksi" ucap Yun Mei.
"Apakah semua yang dikatakan Yun Mei benar? Dan semua itu tidak ada hubungannya dengan kalian?" tanya ayah Yun Mei yang merupakan patriak keluarga Yun.
"Benar, tuan" jawab Ming Can dengan Yu Tianlang.
"Jika begini walau ada mereka datang kemari untuk bertanya, maka tidak akan ada masalah apapun" ucap ayah Yun Mei bernafas lega.
"Karena hari sudah malam, kalian lebih baik beristirahat dikamar yang akan disediakan kami" ucap ibu Yun Mei.
"Kami ucapkan terimakasih atas sambutan dan segala hal-hal lainnya" ucap Ming Can.
"Bukan masalah, kalian akan diantarkan para pelayan untuk menuju ke kamar kalian masing-masing" ucap ayah Yun Mei.
"Baik" jawab Ming Can dengan Yu Tianlang.
Mereka akhirnya bubar dari aula, dan menuju kediaman masing-masing untuk beristirahat.
Ming Can yang sudah berada didalam kamar dihampiri oleh 7 permata.
"Kalian tidak tidur di kamar kalian?" tanya Ming Can.
Zu dengan yang lainnya melepaskan topeng mereka.
"Kami ingin tidur dengan anda, bolehkah tuan?" tanya Zu.
"Baiklah" jawab Ming Can.
Akhirnya Ming can berbaring tidur diatas kasur dengan dikelilingi oleh 7 permata yang tidur dalam keadaan pulas.
Ming Can masih belum bisa tidur karena tidak bisa, dirinya masihlah lelaki normal yang ketika dalam situasi sekarang ini menjadi benar-benar kacau dalam hal perasaan dan nafsu yang bercampur satu.
"Huft.....aku sedang apa dan kenapa sebenarnya ini"
Ming Can tiba-tiba merasakan hawa keberadaan dari seseorang yang mendekati kamar tempat dia tidur.
7 permata juga sudah bangun dan ikut menyadari hawa keberadaan tersebut, kemudian mereka lansung berganti pakaian dengan cepat.
"Tuan, ini?" tanya Zu.
"Pakai topeng kalian" perintah Ming Can.
7 permata yang sudah menggunakan kembali topengnya langsung diperintahkan bersembunyi dibalik kegelapan.
Ming Can sendiri pura-pura tertidur dengan pulas, sampai orang yang berada diluar pintu kamarnya kemudian masuk kedalam kamar yang ditempati oleh dirinya.
Ming Can menyadari bahwa yang masuk kedalam kamar ialah Yun Mei.
"Mau apa dia kemari tengah malam begini?" pikir Ming Can.
Ming Can masih tidak bergerak sebab masih ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Yun Mei didalam kamarnya tengah malam begini.
Namun betapa mengejutkan saat Yun Mei tiba-tiba naik keatas tubuhnya dan berniat mencium dirinya.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Ming Can.
!
Yun Mei terkejut saat mendengar Ming Can berbicara.
"Ka-kamu belum tidur?" tanya Yun Mei.
Ming Can membuka matanya dan menatap Yun Mei yang hanya mengenakan pakaian tidur yang tipis dan sexy diatas tubuhnya.
"Kenapa balik menanya?" tanya Ming Can.
"Ak-u hanya i-ngin....." ucapan Yun Mei terdengar gugup dan tidak jelas.
Ming Can kemudian menyela dengan berkata "ingin apa hm?"
Yun Mei menggigit bibir bagian bawahnya sebelum akhirnya dengan berani mengatakan "aku menyukaimu Ming"
"Huft......"
Ming Can kemudian menarik tubuh Yun Mei sampai akhirnya terbaring diatas dirinya sekarang dibawah selimut tebal dan hangat.
"Dengarkan.....aku tidak memiliki perasaan lebih padamu selain sebagai teman, dan aku minta maaf jika sudah membuat dirimu menjadi sedih begini karena tidak mendapat balasan cintaku" ucap Ming Can.
"Hiks....hiks....apakah karena aku kurang cantik?" tanya Yun Mei.
"Bukan, kau cantik" jawab Ming Can.
"Lalu kenapa?" tanya Yun Mei.
"Aku sudah bilang, bahwa aku tidak ada perasaan lebih dari sekedar teman pada dirimu" ucap Ming Can.
"Hiks....hiks....hua...huaaa" Yun mei makin menangis sejadi-jadinya malam itu.
Ming Can masih berusaha menenangkan dirinya dengan sebuah pelukan hangat dan juga usapan lembut pada bagian punggung Yun Mei.
Sampai satu batang dupa berlalu........
"Sekarang sudah tenang?" tanya Ming Can.
Yun Mei menganggukan kepalanya.
"Sekarang kembalilah kedalam kamarmu" ucap Ming Can.
"Sebelum itu, apakah kita masih bisa bertemu setelah ini?" tanya Yun Mei berharap.
"Aku tidak tahu, setelah ini aku harus pergi kerumah Yu Tianlang dan melakukan perjalanan keliling dunia setelahnya" ucap Ming Can memberitahukan.
"Boleh aku tetap menyimpan perasaan suka ini?" tanya Yun Mei.
"Kuharap kamu buang jauh-jauh rasa suka tersebut pada diriku yang sudah jelas-jelas tidak punya rasa padamu, dan cobalah buka perasaan hatimu untuk pria lain yang masih banyak diluaran sana yang mungkin lebih baik dari diriku" jawab Ming Can.
"....baiklah akan aku usahakan" ucap Yun Mei sambil beranjak berdiri.
Setelahnya Yun Mei keluar dari dalam kamar yang ditempati Ming Can, 7 permata memunculkan kembali keberadaannya.
"Tuan apakah ini tidak akan jadi masalah?" tanya Zu khawatir.
"Sudah, kalian mau lanjut tidur apa tidak?" tanya Ming Can.
"Iya!" jawab 7 permata kompak.
Mereka kembali tidur dengan nyenyak seperti sebelumnya, sampai waktu menjelang pagi mereka baru bangun dalam keadaan segar bugar.
Ming Can yang baru membuka mata disambut oleh 7 wajah kecantikan yang menyambutnya dengan senyuman dan sapaan "selamat pagi tuan"
Segera mereka bersiap-siap untuk pergi hari itu dari kediaman Yun untuk pergi menuju kota sebelah dengan tujuan kediaman Yu.
....
Ming Can dengan Yu Tianlang dan 7 permata sudah berada didepan gerbang kediaman keluarga Yun.
"Ming hati-hati" ucap Yun Mei.
"Iya, dan aku punya hadiah sebelum kita berpisah" ucap Ming Can sambil mengeluarkan sebuah pill yang dibuatnya saat didalam reruntuhan lima elemen.
Ming Can menyerahkan pill tersebut ketangan Yun Mei dan berkata "pill tersebut bisa membuatmu menerobos 3 tingakatan ranah kecil, sehingga ketika kau konsumsi akan membuat kultivasimu yang berada di langit 1 meningkat sampai tahap langit 4"
Semua orang didepan gerbang kediaman Yun yang ikut mengantarkan kepergian Ming Can dan rombongan dibuat terkejut akan ucapan Ming Can.
"Terimakasih Ming" jawab Yun Mei.
"Sama-sama, dan berhati-hatilah dimasa depan" ucap Ming Can.
"Aku akan mengingat semua saran yang pernah dirimu ajarkan padaku sewaktu di reruntuhan lima elemen" jawab Yun Mei.
"Bagus, jadilah kultivator wanita yang kuat dalam dunia yang kejam ini" ucap Ming Can sebelum berbalik badan dan melangkah perlahan demi perlahan meninggalkan kediaman Yun.
"Sampai jumpa lagi" teriak Yun Mei.
Ming can hanya membalas dengan lambaian tangan saja sambil terus berjalan kedepan tanpa berbalik menghadap kebelakang.
.......
Ming can dengan Yu Tianlang segera melakukan perjalanan cepat dengan diikuti 7 permata menuju kediaman Yu.
"Aku akan segera pulang ibu" ucap Yu Tianlang.
"Tidak usah cemas begitu, kita hanya butuh waktu 2 batang dupa lagi sebelum akhirnya bisa sampai dikediaman mu" ucap Ming Can.
"Kuharap aku tidak terlambat" harap cemas Yu Tianlang.
"Kalau begitu tambah kecepatan!" ucap Ming Can memberitahukan.
Mereka bergerak makin cepat dari sebelumnya sampai pada akhirnya bisa melihat sebuah kereta kuda berjalan kearah berlawanan dari Ming Can dan Yu Tianlang.
"Ayah!" teriak Yu Tianlang.
Segera mereka menghentikan langkah mereka dan menyambangi kereta kuda tersebut yang ternyata dikendalikan ayah Yu Tianlang.
"Ayah, kenapa disini?" tanya Yu Tianlang bingung.
"Kau akhirnya pulang, dan beruntung kita bertemu disini" ucap ayah Yu Tianlang.
"Memang ada apa?" tanya Yu Tianlang bingung.
"Paman ke-3 mu berkhianat dan melakukan kudeta, sampai pada akhirnya aku dan ibumu diusir keluar dari keluarga" ucap ayah Yu Tianlang menceritakan apa yang terjadi secara singkat.
"Lalu ibu dimana?" tanya Yu Tianlang cemas.
"Dia ada didalam kereta" ucap ayah Yu Tianlang.
"Tianlang, segera berikan padaku tanamannya" pinta Ming Can.
Tianlang tidak membantah dan langsung memberikan apa yang diminta Ming Can.
Segera Ming Can merubah teratai api tersebut menjadi sebuah cairan kuning keemasan dengan menggunakan api miliknya dan dimasukan kedalam botol kaca yang diambil dari cincin spatial.
"Minumkan pada ibumu segera, aku akan mengurus tamunya" ucap Ming Can.
Tianlang mengangguk paham dengan perkataan Ming Can, dan segera melakukannya.
Sementara Ming Can dan ayah Tianlang berada di sekitar kereta bersiap menyambut tamu yang datang.
"Anak muda, siapa namamu?" tanya ayah Tianlang.
"Junior ini bernama Ming" jawab Ming Can sopan.
"Terimakasih atas segala bantuannya terhadap Tianlang dan istriku serta sekarang ini" ucap ayah tianlang.
"Itu bukan masalah besar, lagipula Tianlang adalah temanku" jawab Ming Can.
"Perkenalkan namaku adalah Yu Zhong" ucap ayah tianlang.
"Perkenalan dan obrolannya kita teruskan nanti saja senior, ada tamu yang harus disambut" ucap Ming Can.
"Benar" jawab Yu Zhong.
"7 permata lindungi keretanya" ucap Ming Can sambil mengeluarkan pedangnya.
Swush.
7 permata yang sedari tadi bersembunyi kemudian muncul dengan posisi mengelilingi kereta kuda.
"Pasukanmu lumayan" ucap Yu Zhong.
"Terimakasih atas pujiannya senior" jawab Ming Can.
Terlihat tamu yang ditunggu sudah mulai menampakan wujudnya, ada sekitar 50 orang dengan pakaian serba hitam dan ranah kultivasi tahap Langit 7&8.
"Apakah kau sanggup nak Ming?" tanya Yu Zhong.
"Kalau begitu izinkan saya bergerak dan anda cukup jaga keretanya" ucap Ming Can sambil berjalan kedepan.
"Gerakan Pembunuh"
Ming Can menghilang dari tempat dirinya berdiri dan mulai melakukan pembunuhan.
Trang!
Tring!
Slash!
Aaarrgghhh!
Slash!
Tring!
Trang!
Aaarrgghhhkk!
Slash.
Gerakan pembunuh yang dilakukan oleh Ming Can adalah dengan bergerak cepat dan menyerangkan satu serangan telak, jika berhasil tertahan maka akan pindah menyerang yang lain terus berganti target sampai semua mati terbunuh.
Bisa dikatakan bahwa serangan dari Ming Can dalam teknik gerakan pembunuh ialah dengan bergerak cepat dengan melakukan satu serangan pada satu target secara bergantian sampai semua musuh mati.
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.