
Mereka semua berada didalam ruangan bawah tanah dengan ukuran yang cukup luas.
"Ayah, kenapa datang kemari?" tanya si pria paruh baya.
"Nak Ming, benar?" tanya si kakek pada Ming Can.
"Benar, senior" jawab Ming Can.
"Aku adalah patriak keluarga Ji, Ji Xing"
"Pria paruh baya yang merupakan ayah Shiyu bernama asli Ji Xiao, dan dia adalah putra pertama dan satu-satunya diriku"
"Istri Ji Xiao bernama Qingwei, serta anak mereka dan cucuku adalah Ji Shiyu"
Begitulah penjelasan yang tidak terlalu panjang bagi Ming Can, namun serasa langsung benar-benar kaget karena penjelasan mengejutkan itu.
"Saya benar-benar terkejut sekali senior Ji, mohon maaf saya tidak tahu siapa anda sebenarnya karna saya orang baru di sini" ucap Ming Can sopan.
"Sudah tidak apa" jawab Ji Xing.
"Ayah kau tadi bilang apa?" tanya Ji Xiao seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya, apalagi melihat kearah Qingwei yang sampai meneteskan air matanya.
"Huft.....aku restui hubungan kalian dengan satu syarat" jawab Ji Xing.
Ming Can sudah bisa tahu apa yang sedang diobrolkan dan karena masalah apa obrolan tersebut terjadi hari ini.
"Apakah ayah serius?" tanya Ji Xiao senang.
"Benar" jawan Ji Xing.
"Apapun syarat itu akan aku lakukan asal dapat restu ayah" jawab Ji Xiao.
"Syaratnya mudah, kau kembalilah dengan istri dan anakmu ke kalurga Ji dan tinggal disana" ucap Ji Xing.
"Baik, aku akan turuti" jawab Ji Xiao.
"Terimakasih ayah" ucap Ji Xiao dan Qingwei bersamaan.
Sementara Ming Can hanya diam memperhatikan saja, sedangkan Ji Shiyu malah terlihat linglung dengan situasi seperti apa yang sekarang ini tengah dihadapi dirinya.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Ji Shiyu.
"Sayang, biar ibu yang cerita" ucap Qingwei.
"Ehm" jawab Ji Shiyu.
"Jadi dulu ibu dengan ayahmu saling jatuh cinta dan memiliki hubungan khusus, namun dikarenakan kakek mu tidak merestui hubungan kami, membuat ayahmu memutuskan keluar dari keluarg Ji dan memilih pergi dengan ibu untuk memulai hidup berdua"
"Sampai waktu berlalu dan tibalah hari ini" Begitulah cerita singkat yang diberitahukan oleh Qingwei pada sang anaknya Ji Shiyu.
"Benarkah itu ayah?" tanya Ji Shiyu.
"Benar, dan ini adalah hari yang membahagiakan ketika kakek mu berkata seperti barusan" jawab Ji Xiao.
Ji Shiyu menatap kearah Ji Xing sang kakek san bertanya "kenapa kakek dulu tidak merestui hubungan ayah dengan ibu?"
"Itu karena ibumu hanyalah kalangan orang biasa, dan ayahmu begitu mencintainya sampai tidak mau berpisah dengannya" jawab Ji Xing merasa bersalah ketika sang cucu bertanya begitu pada dirinya.
"Aku akan ikut dengan ayah dan ibu untuk kekeluarga Ji, namun dengan satu syarat" ucap Ji Shiyu.
"Apa itu cucuku?" tanya Ji Xing.
"Hilangkan sifat tidak baik di hati dan dirimu, yang pernah memandang rendah dan memandang remeh orang lain karena berasal dari orang biasa" ucap Ji Shiyu.
"Baik, kakek akan turuti keinginanmu itu" jawab Ji Xing.
"Sebenarnya kakek juga sudah merubah sikap kakek setelah ayahmu pergi dari rumah dulu, dan menyadari sikap kakek" jawab Ji Xing.
"Baguslah, pokoknya awas saja jika kakek berlaku seperti itu lagi dimasa depan!" tegas Ji Shiyu.
Kemudian obrolan selesai dan mereka semua pergi menuju kediaman keluarga Ji.
.....
Kediaman Ji.
Ming Can masihlah harus ikut dengan keluarga Ji ini, sampai kekediaman utama keluarga Ji.
Akhirnya Ji Xing memberikan pengumuman atas kembalinya Ji Xiao dan keluarganya, sekaligus perayaan yang memang sepertinya sudah disiapkan dari awal.
Perayaan tersebut berlangsung dengan meriah dan sampai malam baru berakhir.
Ming Can tengah mengobrol bersama dengan Ji Xing dihalaman belakang.
"Nak Ming, berapa lama akan tinggal di kota ini?" tanya Ji Xing.
"Saya masih belum tahu akan berapa lama tinggal disini, namun untuk sementara kemungkinan akan menetap disini" jawab Ming Can.
"Bagaimana menurutmu soal Ji Shiyu?" tanya Ji Xing.
"Soal kultivasinya ataukah hal lainnya?" tanya Ming Can balik.
"Keduanya" jawab Ji Xing.
"Di cantik dan baik, juga memiliki sifat feminin yang mempesona kaum pria dan wanita"
"Sedangkan untuk kultivasinya, dia memang masihlah lemah hanya berada di tahap Bumi 9 jika dibandingkan dengan para tuan dan nona muda dari keluarga lainnya di kota ini" jawab Ming Can.
"Begitu.....apakah kau ada minat dengannya?" tanya Ji Xing.
"Maaf, aku saat ini masihlah lemah dan masih mengumpulkan kekuatan" jawab Ming Can.
"Jadi?" tanya Ji Xing.
"Aku belum mempunyai keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu" jawab Ming Can.
"Begitu....."
"Oh ya, besok akan ada pertandingan untuk memperebutkan posisi murid baru di sekte Awan Langit" jelas Ji Xing.
"Apa saja persyaratan untuk mendaftar?" tanya Ming Can.
"Dibawah 50 tahun, dengan ranah kultivasi minimal tahap Raja 5" jawab Ji Xing.
"Sekte Awan Langit, sepertinya aku harus mendaftar disana" jawab Ming Can.
"Kalau begitu, semoha beruntung dalam pertarungan besok" jawab Ji Xing.
"Ji Shiyu, kemarilah dan jangan hanya menguping pembicaraan kami dari situ sambil sembunyi-sembunyi begitu, aku punya hadiah untukmu" ucap Ming Can.
Ji Xing hanya tersenyum saja.
Datanglah Ji Shiyu kehadapan Ji Xing dengan Ming Can yang sedang duduk dihadapan belakang malam itu.
"Maaf, karena menguping pembicaraan kakek denganm Ming" jawa Ji Shiyu sambil menunduk sedikit dan meminta maaf.
"Hahaha, bukan masalah" jawab Ji Xing.
"Ambillah pill ini, dan kau harus mengkonsumsinya malam ini juga" ucap Ming Can.
Ji Shiyu menerima pill tersebut dan mengucapkan terimakasih "terimakasih"
"Pill itu bisa membuat kekuatan kultivasi milikmu meningkat drastis dan menembus beberapa tahapan" jelas Ming Can.
"Benarkah?" tanya Ji Shiyu dengan tak percaya.
"Jika ingin tahu efeknya, segera coba" jawab Ming Can.
"Baiklah, aku ucapkan terimakasih kembali kepadamu" jawab Ji Shiyu.
"Aku sarankan jika sudah menyerap khasiat pill tersebut, kau lebih baik berlatih dengan giat terlebih dahulu sebelum melakukan penjelajahan kemanapun" himbau Ming Can.
"Baik" jawab Ji Shiyu.
"Apakah dia ada kemungkinan untuk mengikuti kompetisi besok?" tanya Ji Xing.
"Tidak boleh, dia lebih baik belajar banyak terlebih dahulu mengenai dunia kejam ini" jawab Ming Can.
"Jikalau begitu, aku sendiri yang akan melatihnya" jawab Ji Xing.
Obrolan selesai, Ming Can pulang penginapanan.
....
Esok harinya.
Ming Can sudah berada di lokasi penyeleksian murid sekte Awan Langit.
Setelah ikut mendaftar dengan orang-orang yang lainnya, Ming Can sekarang tengah berkumpul didekat panggung arena pertempuran bersama dengan peserta lainnya yang akan mengikuti seleksi pendaftaran masuk sekte Awan Langit.
Setelah waktu pendaftaran ditutup, ada seorang wanita muda dan cantik naik keatas panggung arena pertempuran.
"Semua peserta seleksi ujian masuk sekte Awan Langit, kalian aka menjalani seleksi ujian sebanyak tiga tahap"
"Pertama, uji bakat"
"Kedua, pertarungan kelompok"
"Ketiga, pertarungan satu lawan satu"
"Jika kalian bisa lolos tiga tahap ujian ini, maka kalian bisa masuk kedalam sekte Awan Langit sebagai murid luar" jelas wanita muda dan cantik tersebut dari atas panggung.
"Ujian tahap pertama akan dimulai, kalian diharuskan menyentuh batu laut biru didepan sini sampi memunculkan sebuah warna"
"Warna tersebut dibagi menjadi 7 warna, coklat,perak,kuning,merah,hijau,emas dan hitam"
"Jika kalian bisa memunculkan bakat berwarna Kuning keatas, maka kalian bisa lanjut ke babak berikutnya dalam ujian seleksi murid sekte Awan Langit"
Setelah penjelasan mengenai ujian seleksi tahap pertama usai disampaikan, semua peserta ujian seleksi sekte Awan Langit mulai naik keatas panggung satu demi satu mengukur bakat mereka dengan menyentuh batu laut biru.
Ada 10 batu laut biru diatas panggung yang disediakan untuk mengukur bakat para peserta ujian masuk seket Awan Langit.
Dari 300 peserta ujian, yang berhasil lolos adalah 200 peserta dan bisa lanjut ke tahap seleksi ujian masuk sekte Awan Langit berikutnya.
Peserta yang tidak lolos ada yang langsung pergi, ataupun berdiam diri saja untuk melihat jalannya seleksi selanjutnya.
"Kepada 200 peserta yang berhasil lanjut ke tahap seleksi berikutnya, aku ucapkan selamat"
"Dan kita akan lanjutkan ke tahap seleksi berikutnya, yaitu ujian satu lawan satu" jelas wanita cantik tersebut.
Ming Can sebelumnya berhasil mendapatkan hasil memuaskan dengan bakat yang muncul pada batu laut biru adalah warna hitam.
"Peserta nomor 80 dengan 53 dipersilahkan naik keatas arena pertarungan untuk seleksi tahap berikutnya"
Kedua peserta yang dipanggil telah naik ketas arena pertarungan, dan memulai pertempuran diatas panggung arena bertarung.
Pertarungan dialakukan dengan cukup cepat, dan yang memenangkan pertarungan adalah peserta nomor 53.
....
Setelah menunggu beberapa waktu, pada akhirnya Ming Can mendapatkan giliran untuk naik keatas arena pertarungan dan bertempur.
Ming Can diatas panggung melihat lawannya seorang pria dengan badan besar dan pedang berat dua tangan.
"Hey bukankah itu adalah si pedang besar Kai?" tanya salah satu penonton ke penonton yang lainnya dibawah panggung.
"Benar, lawannya juga kuat dan memiliki bakat hitam" jawab orang disampinnya.
"Ini akan jadi pertarungan yang menarik" jawab penonton lainnya.
Kembali keatas arena, Ming Can dengan lawannya masihlah saling tatap dan tidak mengambil gerakan apapun satu sama lainnya secara sembarangan.
"Lawanku adalah seorang pengguna pedang besar yang jelas mengutamakan kekuatan daripada kecepatannya, maka ini harusnya mudah" gumam Ming Can dalam benaknya saat menilai kemampuan lawannya.
"Pertarungan dimulai" ucap panitia yang menjadi penyelenggara acara.
Swush.
Ming Can menghilang dengan cepat dari tempat dirinya berdiri, dan muncul dibelakang si pria badan besar tersebut.
Boom!
Sengaja Ming Can memukul pedangnya yang berada dipunggu sampai membuat pria itu terbang keatas udara.
Tidak cukup sampai disitu saja, malainkan Ming Can dengan sengaja menyerang kearah pria badan besar tersebut.
Wush.
Ming can kembali muncul dihadapan si pria besar yang tengah terbang diudara, dan memberikan pukulan kuat kebawah.
Boom!
Pria badan besar tersebut nampak terhempas kebawah dengan kuat, tapi sebelum sampai menyentuh tanah langsung dipukul kembali keudara sehingga pria badan besar tersebut terbang kembali keudara.
Boom!
Gerakan serangan tersebut terus dilakukan secara berulang-ulang.
Boom!
Boom!
Sampai akhirnya si pria badan besar luka parah dan tidak sadarkan diri setelah terkena pukulan beruntun dari Ming Can barusan.
Dan dinyatakan Ming Can sebagai pemenang pertempuran tersebut, setelah pertarungan usai antara keduanya diatas panggung pertempuran barusan.
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.