Supreme Cultivation

Supreme Cultivation
Sc.34



Setelah mengatakan bahwa dirinya siap dengan tugas yang akan diberikan oleh sang guru.


Ming Can kemudian bertanya, tugas seerti apa yang harus dirinya jalankan sebelum pergi ke alam atas.


"Tugas seperti apa yang harus aku jalankan sebelum pergi ke alam atas?" tanya Ming Can.


"Pertama, kau pergilah ke barat dari ibukota ini" ucap Mu Haiji.


"Kenapa barat?" tanya Ming Can.


"Aku disana merasakan keberadaan peninggalan iblis" ucap Mu Haiji.


"Bisa guru jelaskan lebih jauh dan lebih jelas lagi soal misi ini?" tanya Ming Can.


"Baiklah, dengarkan" ucap Mu Haiji.


"Sepertinya ada sebuah peninggalan iblis yang bisa memanggil kembali para iblis yang sudah mati di sebelah barat sana" ucap Mu Haiji.


"Dan apa peninggalan iblis itu?" tanya Ming Can.


"Gurumu ini juga belum tahu pasti apa itu bentuk peninggalannya, namun kemungkinan besar adalah sebuah patung atau bahkan altar pemuja iblis" ucap Mu Haiji.


"Bagaimana cara aku menemukan keberadaan dua hal tersebut yang berkaitan sangat erat dengan iblis?" tanya Ming Can.


"Itu mudah"


"Pertama, pasti akan selalu terjadi penculikan pada seorang bayi yang baru lahir ataupun seorang anak gadis perawan"


"Kedua, akan ada banyak sekali pembantaian yang dilakukan"


Begitulah jawaban Mu Haiji atas pertanyaan Ming Can sebelumnya.


"Baiklah, aku sudah dapat penjelasan dan petunjuknya darimu guru" jawab Ming Can mantap.


"Kau suda siap pergi?" tanya Mu Haiji.


"Benar!" jawab Ming Can semangat.


"Baguslah, setelah selesai kau harus kembali kemari untuk tugas berikutnya" jawab Mu Haiji sebelum Ming Can pergi dari sana.


"Baik!" jawab Ming Can.


Akhirnya setelah percakapan barusan, Ming Can segera pergi dari dalam kediaman ilusi dan muncul di ibukota tempat dirinya menghilang sebelum ini untuk masuk kedalam kediaman ilusi.


"Baiklah, tinggal pergi menuju arah barat" ucap Ming Can.


Namun dirinya ingat sesuatu hal.


"Aku lebih baik menutup identitasku saja" ucap Ming Can sambil mengeluarkan topeng dari dalam cincin spatialnya.


Topeng tersebut berwarna hitam pekat dengan corak mawar emas di bagian sebelah kanan topeng tersebut.


Setelah topeng dipakai, Ming Can segera pergi dari sana menuju keluar ibukota dengan menempuh perjalanan menuju arah arat sampai entah kemana.


...


Dalam perjalanan, Ming Can sekarang ini terus saja bergerak dengan santai karena tidak terlalu terburu-buru juga.


Saat sedang bergerak didalam hutan dengan terbang santai, Ming Can bertemu dengan tiga orang bandit yang terlihat sedang mengejar-ngejar seorang perempuan cantik.


Ming Can hanya diam saja memperhatikan dari atas dahan pohon yang besar dan tinggi.


Sedangkan si wanita yang tengah dikejar-kejar oleh para bandit tersebut nampak ketakutan sekali dengan wajah panik dan terus berlari-larian di dalam hutan.


"Hahaha....cantik jangan lari"


"Benar, kemarilah dan temani kami bermain"


"Wanita cantik sepertimu sepertinya akan sangat merdu jika bernyanyi untuk kami"


Para bandit tersebut terus mengejar wanita tersebut dengan cara bermain-main, karena mereka menyangka target mereka kali ini tidak akan terlepas sebab hanya seorang perempua biasa tanpa kekuatan kultivasi sama sekali.


Jadi mereka berpikir seorang manusia biasa yang lemah seperti itu tidak akan bisa kabur dari mereka yang merupakan seorang kultivator tahap Langit 9.


Perempuan tersebut yang terus berlari-lari akhirnya tersandung sebuah akar pohon hingga terjatuh, dan tubuhnya berhasil ditangkap oleh para bandit.


"Menajuh!!! dasar para bajingan sialan!!" teriak wanita tersebut.


"Hahaha, bermainlah dulu cantik" ucap salah satu bandit.


Ming Can yang berada diatas dahan pohon menyaksikan semua itu, dan kemudian mengeluarkan tekniknya.


Tahta Api dan Es!


Diatas kepala Ming Can muncul sebuah tahta dengan dua elemen berbeda di kedua sisi kursi tahtanya.


Lalu Ming Can menembakan bola-bola elemen yang terdiri dari dua elemen yang berbeda tersebut kearah para bandit.


Swush!


Swush!


Swush!


Boom!


Boom!


Boom!


Para bandit yang terkena tembakan bola-bole elemen milik Ming Can langsung terbakar atau berubah menjadi butiran debu.


Wanita yang barusan sudah merasa benar-benar panik dan ketakutan, menjadi terdiam karena bingung dengan apa yang barusan terjadi para bandit gunung tersebut.


Namun Ming Can yang diatas pohon turun dan menghampiri wanita tersebut.


"Kau baik-baik saja nona?" tanya Ming Can.


"Ak-aku baik, siapa kamu?" tanya wanita itu yang merasa waspada terhadap Ming Can yang mengenakan topeng hitam bercorak mawar emas.


"Aku yang telah menolong dirimu dari musibah barusan" jawab Ming Can.


"Ternyata itu kamu, terimakasih tuan" ucap wanita tersebut sambil berdiri dan menunduk hormat pada Ming Can.


"Sama-sama" jawab Ming Can.


"Tuan, anda ini mau kemana?" tanya wanita tersebut.


"Aku hanya melakukan perjalanan saja menuju ke barat" ucap Ming Can.


"Begitu.....lalu siapa nama anda?" tanya wanita tersebut.


"Panggil saja Ming" jawab Ming Can.


"Kenalkan, saya adalah Bing" ucap wanita tersebut.


"Bing, adakah kota terdekat dari sini?" tanya Ming Can.


"Ada, kota Kristal" jawab Bing.


"Apakah di kota tersebut ada sebuah kejadian aneh seperti pembunuhan atau penculikan massal?" tanya Ming Can.


"Kalau pembunuhan tidak ada, namun penculikan iya" jawab Bing.


"Bisa kau ceritakan lebih jauh lagi?" tanya Ming Can.


"Tentu" jawab Bing.


"Namun ada baiknya kita mencari tempat yang lebih nyaman terlebih dahulu" ucap Ming Can.


"Benar juga" jawab Bing.


"Akhh!"


Ming Can yang melihat itu bertanya akan kondisi Bing.


"Kau kenapa Bing?" tanya Ming Can sambil memegangi tubuhnya.


Bing merasakan jantungnya berdetak kencang saat berdekatan dengan Ming, dan wajahnya sedikit merona merah dan terasa panas.


"Kaki sakit Ming" ucap Bing.


"Coba aku lihat" ucap Ming Can.


Bing kemudian berpegangan pada pohon didekatnya untuk menopang tubuhnya, dan Ming Can sendiri memeriksa kondisi kaki Bing yang ternyata terkilir.


"Kakimu terkilir, mungkin karena kau jatuh sebelumnya" ucap Ming.


"Bagaimana ini, aku tidak bisa berjalan" ucap Bing yang merasa bingung.


"Aku akan coba sembuhkan, kau diamlah dulu" ucap Ming Can.


"Apakah akan sakit?" tanya Bing was-was.


"Tidak" jawab Ming Can.


Ming Can kemudian menempelkan lengannya diatas bagian kaki Bing yang terkilir dan mulai menggunakan kemampuan penyembuhan miliknya.


Ming Can menyalurkan energi dalamnya pada bagian terkilir di kaki Bing, sampai perlahan-lahan Bing merasakan bahwa kakinya membaik dan terasa nyaman.


"Selesai" ucap Ming Can.


"Kau benar, aku sudah sembuh" ucap Bing senang.


"Baguslah, sekarang kita akan berjalan menuju kota" ucap Ming Can.


"Baik" jawab Bing.


Mereka berjalan menuju kota Kristal yang berjarak beberapa kilo saja, namun karena Bing hanya manusia biasa dirinya merasa capek dan lelah saat berjalan satu kilo.


"Aku gendong saja agar kita lebih cepat sampai" ucap Ming Can.


"Apakah tidak merepotkan dirimu?" tanya Bing.


Ming Can tidak menjawab dan langsung mengangkat tubuh Bing ala tuan putri, sambil dirinya kemudian terbang dengan cepat menuju arah kota Kristal.


....


Sampai didekat gerbang masuk kota Kristal, Ming Can menurunkan Bing dari pangkuannya.


"Kita hampir sampai, jadi berjalanlah" ucap Ming Can.


"Baik" jawab Bing.


Mereka berjalan meuju gerbang kota dan masuk kedalam kota Kristal setelah membayar satu koin emas untuk berdua.


Karena biaya masuk kedalam kota Kristal hanya lima koin perak saja.


"Tuan, bagaimana jika kita mengobrol dirumahku saja?" usul Bing.


"Baiklah, ide bagus" jawab Ming Can.


"Kalau begitu ikuti saya" jawab Bing.


Mereka berjalan menuju arah timur dari gerbang kota, sampai masuk kedalam wilayah pemukiman para warga biasa.


Dan tibalah mereka pada salah satu rumah sederhana yang berada di pemukiman tersebut.


"Ini rumah saya tuan" ucap Bing.


"Rumah yang sederhana" ucap Ming Can.


"Saya hanyalah orang kecil tuan" ucap Bing.


"Tidak apa, yang penting hidup jujur dan baik" jawab Ming Can.


Mereka masuk kedalam rumah dan mulailah Bing menjelaskan soal cerita penculikan yang terjadi di kota ini.


"Bisakah sekarang kau mulai ceritakan soal penculikan yang terjadi?" tanya Ming Can.


"Penculikan itu sering terjadi di sore hari, dan itu terjadi di pemukiman-pemukiman penduduk biasa seperti kami ini" ucap Bing.


"Didalam kota?" tanya Ming Can.


"Benar, bahkan sudah sering banyak warga melaporkan masalah ini pada tuan kota" ucap Bing.


"Apa respon dari tuan kota?" tanya Ming Can.


"Mereka seolah tidak peduli akan kehidupan rakyat kecil seperti kami" jawab Bing.


"Baiklah, apakah ada ciri atau informasi soal para penculik-penculik ini?" tanya Ming Can.


"Ada, mereka adalah kelompok tetara bayaran srigala" ucap Bing.


Ming Can yang mendengar nama yang tidak asing ditelinganya menjadi tersenyum menyeringai dan berkata "kelompok tentara bayaran srigala rupanya"


"Benar, apakah anda kenal mereka?" tanya Bing.


Ming Can mendapatkan sebuah ide dikepalanya.


"Aku kenal mereka" ucap Ming Can.


"Apakah anda bisa melawan mereka untuk kami?" tanya Bing.


"Bisa, aku memang seharusnya berurusan dengan mereka dari dulu" ucap Ming Can.


"Syukurlah, akhirnya ada orang baik seperti anda yang bisa membantu kami membereskan masalah ini" ucap Bing lega dan senang.


"Sudah berapa banyak korban yang diculik kelompok srigala ini?" tanya Ming Can.


"Sekitar 8 orang sampai kemarin malam" ucap Bing.


"Kalau begitu aku akan menunggu kedatangan mereka sampai sore hari nanti" ucap Ming Can.


"Jika begitu, apakah anda lapar?" tanya Bing.


"Tidak terlalu" jawab Ming Can.


"Saya akan masakan makanan untuk anda" ucap Bing.


"Jangan repot-repot" ucap Ming Can.


"Tidak repot, anggap saja rasa terimakasih dari saya atas pertolongan anda sebelumnya di hutan" jawab Bing.


"Kalau begitu, aku akan menantikan masakanmu" ucap Ming Can.


"Baik, silahkan ditunggu" jawab Bing.


Bing pergi kedalam kamar terlebih dahulu untuk berdandan, baru selepas itu dirinya pergi memasakan makanan untuk Ming, orang yang berjasa menyelamatkan kehidupanya dan orang yang dia sukai.


Ming Can sendiri berada diruangan tengah sedang melihat kearah jendela luar, dan memperhatikan kehidupan di pemukiman tersebut yang terlihat damai, namun memiliki kekhawatiran di hati masing-masing rakyat.


Bersambung......


Jangan lupa


Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.


Terimakasih.