
Mereka semua sekarang berada di sebuah kediaman sederhana yang berada di pinggiran ibukota.
Terlihat ada sosok pria tua yang menunggu kedatangan mereka disana.
"Semuanya, perkenalkan ini adalah tetua kehormatan sekte Awan Laut kami" ucap wanita muda tersebut dengan hormat.
"Namaku Zhantian, aku biasanya tidak bertugas sebagai tetua yang menyeleksi calon murid baru seperti kalian sekarang ini"
"Namun entah karena angin apa, aku menginginkan untuk mengikuti acara ini sebagai tetua yang bertugas untuk menyeleksi calon murid baru sekte Awan Laut" jelas pria tua didepan mereka semua.
"Sedangkan aku bernama Meiyuri, salah satu dari 10 murid peringkat teratas dalam jajaran murid dalam di sekte Awan Laut" jelas seorang wanita muda dan cantik yang memandu Ming Can dan kelompoknya kemari.
"Baiklah, lebih baik kita langsung kembali menuju sekte saja" ucap Zhantian.
"Tidak perlu siapkan persedian?" tanya Yunshan.
"Tidak usah, sebab aku ingin kita mencari makanan di perjalanan saja dengan berburu"
"Dan aku anggap sebagai pelatihan kalian" ucap Zhantian.
"Baik" jawab mereka semua.
Dengan hanya mengandalkan berlari ditambah energi dalam, mereka semua bergerak dari sana menuju keluar dari ibukota.
Sambil berjalan,
Zhantian menatap kearah Ming Can dan bertanya "siapa namamu?"
"Junior bernama Ming" jawabnya hormat.
"Kau terima ini" ucap Zhantian sembari memberikan satu buah token berwarna merah dengan gambar awan emas ditengahnya.
"Ini apa?" tanya Ming Can.
"Pertama-tama kau harus teteskan darahmu disitu" ucap Zhantian.
Ming Can hanya menurut saja, kemudian sesaat setelah token tersebut diberikan setetes darah Ming Can. Token tersebut bersinar sesaat sebelum akhirnya muncul sebuah nama sisi lain token tersebut.
"Ming Can"
"Kau pintar menyembunyikan identitas rupanya" ucap Zhantian.
Sedangkan Yunshan dengan yang lainnya dibuat kaget dengan identitas asli Ming Can.
"Kau ternyata membohongi kami sedari tadi" ucap Yunshan.
"Hahaha, aku hanya berhati-hati saja" jawab Ming Can.
"Oh ya, token itu merupakan tanda bahwa kau adalah muridku"
"Dan perlu kau tahu bahwa hanya dirimu saja muridku satu-satunya" jelas Zhantian.
"Apa!?"
Teriak Yunshan dengan yang lainnya terkejut dengan perkataan Zhantian barusan.
"Itu artinya Ming Can sekarang adalah murid satu-satunya tetua kehormatan sekte Awan Laut?" tanya Yuniu.
"Benar, dan sebagai muridku akan mendapatkan beberapa manfaat khusus untukmu" ucap Zhantian.
"Terimakasih guru" jawab Ming Can.
"Bagus, aku tidak perlu sembahmu"
"Aku hanya ingin dirimu ikuti pelatihanku" ucap Zhangtian.
"Namun dengan begini, akan jadi masalah bagi Ming Can jika banyak orang yang tahu di sekte bahwa seorang murid baru bisa menjadi murid seorang tetua kehormatan sekte" ucap Xi.
"Ini tidak akan terjadi, karena jika ada sedikit saja keributan didalam area sekte. Maka akan segera ditangkap dan selesaikan dengan baik-baik dalam aula hukum" jawab Meiyuri.
"Sekte Awan Laut bukanlah omong kosong belaka" ucap Yuziu.
"Perjalanan kita perlu berapa lama?" tanya Liuya.
"Dari sini menuju sekte Awan Laut butuh waktu setengah hari" ucap Meiyuri.
"Kita harus melewati ngarai darma, dengan hutan shintiuya" ucap Zhantian.
"Ada apa dengan dua tempat tersebut?" tanya Gumin.
"Di ngarai darma ada kabut ilusi dan burung yang agresif" ucap Zhantian.
"Cara kita lewat bagaimana?" tanya Guxi.
"Jangan bergerak dengan tiba-tiba, dan jangan ribut" ucap Zhantian.
Mereka bergerak lebih cepat menuju ngarai darma, sampai tiba disana setelah menempuh waktu selama 1 batang dupa.
....
"Ingat untuk tidak membuat gerakan secara tiba-tiba, dan jangan ribut" ucap Zhantian sebelum memimpin jalan didepan untuk masuk melalui ngarai darma.
Sementara Ming Can dengan Meiyuri berada dibelakang.
"Senior, bagaimana situasi disana?" tanya Ming Can.
"Kondisi para murid?" tanya Meiyuri.
"Semuanya" ucap Ming Can.
"Kondisi murid dibagi menjadi murid luar,dalam,inti,elit dan emas" ucap Meiyuri.
"Sekuat apa dan selemah apa para murid disana?" tanya Ming Can.
"Yang terlemah di murid luar berada ditahap Kaisar 5, dan yang terkuat diantara para murid emas adalah Heaven 8" ucap Meiyuri.
"Sebelumnya boleh aku panggil senior dengan nama?" tanya Ming Can.
"Tidak boleh, kau harus panggi-" ucapan Meiyuri terhenti karena dirinya hampir terjatuh kedalam air.
Namun ditangkap oleh Ming Can, dan membengkap mulutnya agar tidak berteriak.
Mereka saling mengunci pandangan, Ming Can melepas bekapan lengannya di mulut Meiyuri.
Jantung keduanya saling berpacu dengan cepat, dan perlahan demi perlahan Ming Can mendekatkan wajahnya pada wajah Meiyuri.
Hingga akhirnya Ming Can mencium bibir Meiyuri dengan lembut, walau Meiyuri terlihat terkejut dia tidak menolak dan menutup mata perlahan-lahan sambil memberikan kesempatan bagi Ming Can untuk melakukan hal lebih lagi.
Tidak lepas kesempatan, Ming Can melakukannya sampai beberapa waktu berhenti.
Mereka masih berpelukan, dan Meiyuri menyenderkan kepalanya kedada Ming Can.
"Kamu junior yang lancang" ucap Meiyuri pelan dan muka yang memerah.
"Kamu suka bukan?" tanya Ming Can.
"Tanggung jawab" ucap Meiyuri.
"Jadi pacarku mau?" tanya Ming Can.
"Iya" jawab Meiyuri.
"Kamu yakin?" tanya Ming Can.
"Aku yakin kamu pria baik dan tidak akan mengkhianatiku" ucap Meiyuri.
"Aku dikelilingi banyak wanita cantik" ucap Ming Can.
Meiyuri menatap marah pada Ming Can dan berkata "mana mereka?!"
"Aku akan tunjukan, namun nanti" ucap Ming Can.
"Apa saja yang kau lakukan dengan mereka?" tanya Meiyuri.
"Mereka hanya menemani diriku tidur namun tidak lebih" ucap Ming Can.
"Ish! apalagi?" tanya Meiyuri.
"Ish! tau ah kita putus" ucap Meiyuri.
"Beneran mau putus?" tanya Ming Can.
"IYA!" jawab Meiyuri.
"Yasudah" jawab Ming Can.
Ming Can kembali lanjutkan perjalanan dengan diikuti oleh Meiyuri dibelakangnya, sampai mereka sudah kembali bertemu dengan Zhantian dan kelompoknya kembali.
"Kalian kemana saja?" tanya Zhantian.
"Kami sedikit ada obrolan sebelumnya" jawab Ming Can.
"Yasudah, jangan memisahkan diri lagi" ucap Zhantian.
Mereka kembali melakukan perjalanan bersama, hingga berhasil keluar dari ngarai darma dengan selamat.
.....
.....
"Kita sekarang akan istirahat disini, selagi istirahat kita akan makan" ucap Zhantian.
Mereka semua yang laki-laki bertugas berburu hewan untuk dimasak, sedangkan para perempuan menyiapkan api dan bumbu yang dibawa Mieyuri.
Zhantian sendiri menjaga ditempat para wanita berada.
.....
Ming Can dengan para lelaki lainnya berada didalam hutan, dan mereka sedang berburu.
"Aku akan ambilkan beberapa hewan untuk bahan masaka kita nanti makan, jadi kalian diam saja disini" ucap Ming Can.
"Baiklah" jawab Yunshan.
Sementara yang lain hanya menganggukan kepala saja.
Swush!
Ming Can menghilang dari hadapan mereka semua dan muncul setelah waktu berselang beberapa waktu singkat saja, dengan membawa lima hewan hasil buruan yang didapatkan.
"Aku serahkan hewan-hewan ini untuk kalian bawa" ucap Ming Can pada Yunshan dengan yang lain.
Mereka segera turuti ucapan Ming Can dan kembali ke lokasi sebelumnya.
.....
Setelah sampai di lokasi sebelumnya, semua hewan buruan segera diserahkan pada para perempuan untuk dibersihkan dan dipanggang dengan sedikit tambahan bumbu yang diberikan diatas daging mentah yang akan dipanggang diatas api.
Sementara Ming Can dengan para laki-laki lainnya hanya diam dan memperhatikan para perempuan yang tengah bekerja.
Sampai akhirnya daging sedang dipanggang, dan mereka semua duduk bersama melingkari api.
Disamping Ming Can ada Liuya dengan Yuziu, mereka berdua menyandarkan kepala terhadap Ming Can.
"Kau beruntung, selain bisa menjadi muridku kau bisa mendapatkan dua kecantikan yang ada dikanan dan kirimu itu" ucap Zhantian.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan mereka berdua" ucap Ming Can.
"Benarkah begitu?" tanya Zhantian.
"Itu karena Ming Can sulit sekali didekati" ucap Liuya.
"Dan karen itu kami bisa gunakan kesempatan begini untuk melakukan apapun yang kami mau dengan Ming Can, selagi dia belum ada yang punya" tambah Yuziu atas perkataan dari Liuya sebelumnya.
Sementara itu, Meiyuri merasakan rasa panas menjalar dihatinya sekarang ini.
Setelah beberapa waktu, akhirnya daging yang dipanggang sudah matang dan siap santap.
Mereka mulai memakan makanan yang sudah tersedia dan siap santap.
...
Selesai makan bersama, mereka memilih untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju sekte Awan Laut.
Dan mereka kali ini harus melewati hutan shitiuya.
"Guru, ada apa dengan hutan shitiuya ini?" tanya Ming Can.
"Hanya beberapa bandit yang terkadang muncul disana, tidak ada hal lebih" ucap Zhantian.
"Lalu kenapa guru mengatakan seolah tempat tersebut berbahaya sebelumnya?" tanya Ming Can kembali.
"Karena bandit-bandit disana yang muncul suka merepotkan orang yang lewat dengan asap racun dan ilusi" ucap Zhantian.
"Kurasa itu bukan masalah bagimu, jika harus berhadapan dengan jebakan kecil tersebut bukan?" tanya Ming Can.
"Benar, karena itulah aku bilang tidak ada masalah sama sekali di hutan shintiuya" ucap Zhantian.
"Setelah melalui hutan tersebut seharusnya sudah tiba di sekte bukan?" tanya Yuniu.
"Benar" jawab Zhantian.
"Jika begitu, bagaimana jika kita tambah kecepatam saja?" usul Guxi.
"Ide bagus" jawab Zhantian.
Mereka melesat dengan cepat menuju hutan shintiuya, dan berhasil sampai dalam waktu satu batang dupa.
Namun sayangnya perjalanan tidak semulus yang diperkirakan, sebab Zhantian dengan kelompoknya bertemu dengan para bandit yang dikatakan Zhantian.
"Minggir!" ucap Zhantian dingin dan tegas.
"Hahaha, rombongan sekte Awan Laut rupanya" ucap salah seorang pria tua yang muncul diudara tiba-tiba.
"Mu Kei, kau dalangany ternyata" ucap Zhantian.
"Benar sekali Zhantian, aku datang kemari untuk membinasakan kau dengan para calon jenius sekte Awan Laut ini" ucap Mu Kei.
"Siapa mereka guru?" tanya Ming Can.
"Mereka adalah orang dari sekte Kelelawar darah" jawab Zhantian atas pertanyaan Ming Can muridnya barusan.
Lonceng Hitam!
Mu Kei dan kelompoknya terkurung didalam lonceng hitam tersebut, dan tidak sampai disitu saja. Melainkan Ming Can melakukan serangan berikutnya.
Desiran Pembunuh!
Zhantian dengan yang lainnya hanya bisa diam dan memperhatikan apa yang sedang terjadi sekarang ini.
"Ulahmu?" tanya Zhantian.
"Benar" jawab Ming Can sambil menghilangkan teknik lomceng hitam dan desiran pembunuhnya.
"Kemana Mu Kei dan orang-orangnya?" tanya Zhantian yang heran dan kebingungan, begitupun dengan yang lainnya.
"Aku bunuh" jawab Ming Can.
......
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.
Note :
Author kayaknya jarang up di dua novel yang on -going, karena sekarang masa jadwal padat sekolah dan benar-benae harus fokus sekolah. Nulis dua novel untuk up hanya jika sempat.