
Setelah makanan matang, Bing menyajikan makanan tersebut di meja makan dan memanggil Ming untuk makan.
"Tuan muda Ming, makanan sudah siap" ucap Bing.
Ming Can yang sedang duduk memandang kearah jendela mengalihkan perhatiaannya pada Bing.
Terlihat bahwa Bing memoles wajahnya dengan riasan tipis, sehingga menambahkan kesan kecantikan pada dirinya yang sederhana.
"Baiklah, ayo makan" jawab Ming Can.
"Baik, silahkan lewat sini" ucap Bing.
Mereka makan dengan nyaman dan tenang, tanpa ada obrolan yang terjadi diantara mereka saat sedang makan.
...
Setelah selesai makan, Ming Can dengan Bing mendengar sebuah keributan di luar.
"Apa yang terjadi?" tanya Bing.
"Sepertinya mereka sudah datang" ucap Ming Can.
"Siapa yang anda maksudkan tuan muda Ming?" tanya Bing penasaran.
"Kelompok tentara bayaran srigala" jawab Ming Can.
Seketika Bing menutup mulutnya dengan kedua lengannya, dan merasa ketakutan dengan tubuh gemetar.
"Kau tenang saja, aku akan mengurus mereka" ucap Ming Can yang mencoba menenangkan perasaan dari Bing yang sedang ketakutan.
"Baik-lah, mohon bantuannya tuan muda Ming" jawab Bing.
"Kau sembunyilah didalam sini, dan jangan sampai memunculkan diri diluar" ucap Ming Can sambil berdiri didekat pintu sebelum keluar dari dalam rumah.
"Baiklah, saya mengerti" jawab Bing.
Ming Can keluar dari dalam rumah Bing, dan mendapati sebuah aksi keji dari para anggota kelompok tentara bayaran srigala dihadapan dirinya saat ini.
"Kalian orang-orang yang tidak bisa dimaafkan sepertinya" ucap Ming Can.
Dengan langkah perlahan Ming Can berjalan mengahampiri salah seorang anggota kelompok tentara bayaran srigala yang menunggangi seekor srigala.
Tentara bayaran tersebut juga menghampiri Ming Can yang berjalan santai kearahnya dengan memegang sebilah pedang yang terlihat mewah namun tazam.
"Kau sepertinya punya-" ucapan tentara bayaran srigala tersebut terhenti karena kepalanya terlepas dari tubuhnya, begitupun dengan srigala yang ditungganginya kehilangan kepalanya.
Slash!
Slash!
Para tentara bayaran lain yang melihat kejadian tersebut kaget, karena seorang pria dengan berani-beraninya secara terang-terangan membunuh salah satu rekan mereka dihadapan mereka secara langsung begini.
"Sialan!! Habisi orang tersebut" teriak pemimpin kelompok srigala itu.
Terlihat sekitar sepuluh orang dengan tunggangan srigala mendekati dirinya, Ming Can yang melihat hal tersebut tersenyum dan mulai bersiap untuk bertarung.
Satu serangan tusukan tombak datang dari arah belakang, Ming Can menghindar kesamping dan memberikan sebuah tebasan pada srigala dibelakang dirinya dan si penunggang srigala tersebut.
Swing!
Slash!
Kembali dua kepala jatuh keatas tanah, dan disusul dengan serangan lain yang datang menghampiri dirinya, membuat Ming Can menghindar kembali dari serangan yang datang dan memberikan sebuah serangan balasan.
Slash!
Slash!
Kembali dua kepala terjatuh, dan datang lagi serangan lainnya.
Terus dan terus saja Ming Can menghindar dan memberikan sebuah serangan balik, namun kali ini berupa sebuah tusukan pada bagian dada para anggota pasukan tentara bayaran srigala.
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Sampai akhirnya mereka semua mati terbunuh oleh sebilah pedang yang digunakan oleh Ming Can.
Ming Cn sendiri masihlah menggunakan topeng yang dikenakan dirinya sebelum ini, sehingga tidak akan bisa dikenali identitas dirinya oleh orang lain yang memperhatikan kejadian barusan.
"Sepertinya aku perlu menyelidiki tuan kota disini" gumam Ming Can sambil menghilang dari pandangan orang-orang sekitar.
Namun Ming Can muncul didalam rumah Bing, dan kembali menemui Bing didalam rumahnya yang sedang bersembunyi.
"Bing" panggil Ming Can.
Bing keluar dari dalam kamar tempat dirinya bersembunyi begitu mendengar suara familiar barusan.
Bing keluar dari dalam kamar dengan berlari dan memeluk tubuh Ming Can pada akhirnya.
Ming Can hanya bersikap biasa saja dan kemudian berkata "ekhem, Bing bisa kau lepaskan pelukanmu?"
Bing tersadar dan melepaskan pelukannya ditubuh Ming Can sambil meminta maaf atas kelancangan dirinya tersebut.
"Maaf tuan muda Ming, Bing sudah lancang" ucapnya.
"Tidak usah dipikirkan, sekarang lebih baik kau segera pergi dari sini" ucap Ming Can.
"Kenapa?" tanya Bing.
"Karena sudah dipastikan akan ada sebuah penyelidikan setelah kejadian barusan, dan aku sebelumnya keluar dari dalam rumahmu" ucap Ming Can.
"Jadi?" tanya Bing masih bingung.
"Itu artinya kau akan dicurigai sebagai orang yang terlibat dengan sosok pria bertopeng yang melakukan pembunuhan di pemukiman ini, dan kemudian kau akan ditangkap oleh pasukan kota untuk ditahan" jelas Ming Can atas maksud perkataannya barusan.
"Tapi bukankah kau berbuat baik dengan membunuh para penjahat diluar sebelumnya?" tanya Bing heran.
"Itu benar, namun sepertinya tuan kota disini telah bersekongkol dengan para penjahat tersebut, sehingga akan mencari kambing hitam untuk masalah ini" jelas Ming Can pada Bing.
"Tapi kemana aku harus pergi setelah ini?" tanya Bing.
"....Kalau begitu kau akan tinggal di tempatku sebagai pelayan, bagaimana?" tanya Ming Can.
"Baik, saya bersedia" jawab Bing.
Ming Can mengangguk setuju akan keputusan yang diambil oleh Bing, dan segera memasukannya kedalam kediaman ilusi.
Ming Can mengirim pesan pada Mu Haiji setelah itu, bahwa Bing akan bertugas sebagai pelayan kediaman ilusi.
Mu Haiji mengerti, dan akan mengurus sisanya disana.
... ....
Dirinya menyusup dengan mulus tanpa ada yang curiga dan mengetahui keberadaan dirinya.
Dapat Ming Can lihat sang penguasa kota nampak tengah membaca sebuah surat yang dikirim entah dari siapa.
Namun melihat dari ekspresi wajahnya nampak gusar dan tidak tenang.
Sampai penguasa kota berkata dengan marah "sialan!! mereka terbunuh"
"Jika begini bagaimana caraku melakukan penculikan kedepannya demi tugas yang diberikan patung batu iblis"
Ming Can yang mendengar perkataan dari sang penguasa kota tersenyum senang dan berkata dalam benaknya "ketemu!"
Penguasa kota terlihat beranjak dari tempatnya duduk, kemudian berjalan menuju sebuah kamar dan maduk kedalamnya.
Ming Can mengikuti melalui jalur loteng, dan dapatelihat bahwa si penguasa kota masuk menuju jalan tersembunyi yang berada dibawah tempat tidur.
Segera Ming Can mengikuti sang penguasa kota masuk kedalam jalan tersembunyi tersebut.
Jalan tersembunyi tersebut mengarah menuju bawah tanah, sampai pada sebuah ruangan berukuran cukup luas.
Ada sebuah patung besar disana dengan mata menyala merah dan api ungu yang menyala didalam sebuah mangkuk dihadapan patung tersebut.
Sang penguasa kota sendiri berdiri dihadapan mangkuk tersebut dan memberikan hormatnya sambil berkata "tuan, orang suruhan saya terbunuh semuanya"
Api ungu tersebut nampak membesar dan membentuk sosok tubuh, kemudian berkata "kalau begitu cari orang suruhan lainnya untuk melakukan tugas yang aku berikan"
"Namun saya ragu, tuan" jawab penguasa kota.
"Apa yang kau ragukan lagi?" tanya sosok api tersebut.
"Apakah yang kita lakukan ini tidak terlalu kejam?" tanya penguasa kota.
"Kau ingin kuat atau tidak?" tanya sosok api tersebut.
"Tentu saja saya ingin kuat" jawab sang penguasa kota.
"Kalau begitu lakukan!" perintah sosok api tersebut.
Ming Can sendiri memperhatikan dengan cara mengintip saja, dan keluarlah Mu Haiji dari dalam kediaman ilusi.
"Guru" ucap Ming Can.
"Biar guru yang mengurus ini" ucap Mu Haiji.
Kemudian Mu Haiji melesat kearah sosok api tersebut dan menyerangnya dengan secara tiba-tiba.
Serangan yang dilakukan oleh Mu Haiji adalah berupa kabut hitam, yang ternyata dapat menghilangkan api ungu tersebut tanpa sisa.
Dan selanjutnya adalah menghancurkan patung batu tersebut hingga menjadi butiran debu dengan selai hempasan tangan yang ringan.
Boom!
Penguasa kota yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dihadapan dirinya sekarang ini.
"Siapa kalian?!" teriak penguasa kota panik.
Bugk!
Ming Can memukul penguasa kota hingga pingsan dan kemudian menatap kearah Mu Haiji.
"Sekarang tugas darimu sudah selesai bukan?" tanya Ming Can.
"Iya, namun masih ada tugas lainnya lagi" jawab Mu Haiji.
"Apa itu?" tanya Ming Can.
"Bereskan dulu penguasa kota itu" ucap Mu Haiji.
"Aku harus apakan dia?" tanya Ming Can pada penguasa kota.
"Dia sudah menjadi setengah iblis, dan itu artinya sudah bukan lagi manusia normal" ucap Mu Haiji.
"Maka aku akan dengan bebas melakukan apapun pada dirinya bukan?" tanya Ming Can.
"Benar" jawab Mu Haiji yang kemudian masuk kembali kedalam kediaman ilusi.
Ming Can sendiri sekarang menatap kearah sang penguasa kota yang telah pingsan tidak sadarkan diri.
Kemudian Ming Can memilih untuk melenyapkan penguasa kota tersebut dengan menggunakan elemen api yang kuat dari teknik Api Yang dan Es Yin.
Wush!
Tubuh penguasa kota terbakar sampai hangus tanpa tersisa apapun, bahkan sebutir debu saja tidak tersisa.
"Waktunya pergi dari sini"
Ming Can pergi dari dalam ruangan bawah tanah yang sudah kosong tersebut, Ming Can segera meninggalkan kediaman tuan kota juga setelah keluar dari dalam ruangan bawah tanah.
... ....
Saat ini Ming Can tengah berada didalam kamar penginapan yang dirinya sewa untuk ditempati selama satu hari.
"Lebih baik aku cari kegiatan saja terlebih dahulu, sambil menunggu perintah dari guru mengenai tugas berikutnya yang harus aku jalankan"
Tiba-tiba terdengar sebuah keramaian di jalanan kota.
Ming Can yang penasaran kemudian melihat kearah luar melalui jendela kamar penginapan.
Begitu melihat kearah luar, ada sebuah keramaian orang-orang yang bergerak kearah pusat kota.
Ming Can keluar dari dalam kamar penginapan menuju kearah pusat kota untuk mengikuti pergerakan orang-orang yang beramai-ramai pergi menuju pusat kota tersebut.
Sampai dirinya tiba di pusat kota, dapat terlihat ada sebuah pertarungan yang sepertinya aka segera dilakukan antara dua orang pemuda yang sudah berdiri diatas panggung.
"Duel?"
"Ini menarik, aku ingin lihat seperti apa generasi muda disini" gumam Ming Can yang menyaksikan kedua pemuda yang akan bertempur tersebut dari atas atap salah satu bangunan tinggi di dekt arena pertarungan.
Ming Can dapat melihat bahwa bukan dirinya saja yang menyaksikan pertempuran tersebut dari atas atap bangunan, karena masihlah ada beberapa orang lainnya lagi yang ikut menyaksikan jalannya pertempuran juga.
"Hai" ucap seorang pemuda yang seumuran dengannya tengah berdiri didekat dirinya.
Ming Can menjawab "Hai"
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.