Supreme Cultivation

Supreme Cultivation
Sc.44



Setelah selesai melepas rindu sejenak, Wu Zhong dan keluarganya baru menyadari telah mengabaikan seseorang didalam ruangan ini.


Wu Mei dengan segera menatap kearah Ming Can dan berkata “tuan muda Ming, semua kebahagiaan ini terbukti terjadi atas segala perbuatan dirimu. Maka dari itu kami sekeluarga benar-benar mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya pada anda”


“Sama-sama, dan tidak perlu bersikap terlalu berlebihan kepadaku untuk kedepannya” jawab Ming Can.


“Nak Ming, bagaimana jika kita makan bersama?” tanya Wu Zhong.


“....Kalau begitu dengan senang hati aku terima” ucap Ming Can.


Mereka sekeluarga kemudian berpindah keruangan makan dan melakukan kegiatan makan bersama sambil mengobrol dengan penuh canda dan tawa.


...-*****-...


Selesai dengan kegiatan makan, Ming Can tengah mengobrol berdua dengan Wu Zhong diruangan baca.


“Sebenarnya, aku ingin bertanya padamu tentang bahan obat berharga yang kau dapat sebelumny berasal dari mana?” tanya Wu Zhong.


“Itu hanya keberuntungan diriku yang bisa menemukan sedikit keuntungan dalam petualanganku” jawab Ming Can.


“Oh iya, kau bilang kau sedang beretualang dan tengah melakukan perjalanan pulang?” tanya Wu Zhong.


“Benar, apakah ada yang salah dengan itu?” tanya balik Ming Can.


“Tidak ada masalah, aku hanya kagum saja kepadamu yang begitu muda sudah memulai jalan petualangan di dunia yang penuh akan darah dan kekejaman ini” ucap Wu Zhong.


“Aku hanya ingin melihat dunia sejenak” jawab Ming Can.


“Ngomong-ngomong kau berasal dari sekte atau keluarga besar mana?” tanya Wu Zhong.


“Aku hanya berasal dari sebuah sekte kelas 3” jawab Ming Can.


“Sekte?’ tanya Wu Zhong.


“Iya, Sekte Permata” jawab Ming Can.


“Aku tidak menduga kau datang dari sekte itu” jawab Wu Zhong.


“Apakah ada yang salah dengan itu?” tanya Ming Can.


“Aku hanya tidak menduga bahwa kau salah satu murid disana, tidak ada masalah apapun” jawab Wu Zhong.


Mereka terus mengobrol sampai malam larut, barulah Ming Can pamit.


Namun karena paksaan dari Wu Zhong, Ming Can akhirnya dengan tangan terbuka menerima tawaran menginap di gedung Asosiasi Wu semalam.


Di dalam kamar.


Ming Can membuat sebuah racikan herbal dari bahan-bahan herbal yang dirinya temukan di dasar jurang kala itu.


Sampai akhirnya memutuskan berhenti saat malam tiba.


Namun sayang sekali, baru saja memejamkan mata sejenak sudah terdengar sebuah suara keibutan yang diawali ledakan.


BOOMM!


BOOMM!


BOOMM!


Ming Can langsung bergegas keluar untuk melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi, betapa mengejutkan bagi Ming Can ketika sudah mengatahui apa yang sedang terjadi di Kota Huazhuo ini sekarang.


Dimana seperti terjadi sebuah peperangan besar yang terjadi secara mendadak.


Wush.


Tiba-tiba muncul sosok Wu Zhong disamping Ming Can yang berada diatas atap rumah sekarang.


“Tuan Wu, apa yang sebenarnya tengah terjadi disini?” tanya Ming Can.


“Kota ini berada di dekat perbatasan antar kedua negara, dan hal seperti ini tidak terjadi sekali dua kali saja” jawab Wu Zhong.


“Aku mengerti garis besarnya, jadi sepertinya kita harus bertarung malam ini” ucap Ming Can.


“Tidak, aku ingin meminta dirimu menjaga putri kami Wu Mei” ucap Yue Zi yang muncul dibelakang Wu Zhong dan Ming Can yang berada diatap gedung Asosiasi Wu.


“Kenapa begitu? Bukankah nona Wu Mei bisa bertarung juga dan bahkan kultivasinya berada di tahap Qi Creation *6” jawab Ming Can.


“Itu benar, namun ini permintaan pribadi kami jadi tolong” jawab Wu Zhong.


“Terimakasih nak, kalau begitu kita berpencar sekarang” jawab Yue Zi.


Selesai dengan obrolan tersebut, mereka berpisah dari atap menuju lokasi yang berbeda.


Ming Can sendiri sekarang sudah berada di depan kamar Wu Mei.


Baru saja Ming Can sampai didepan kamar Wu Mei, pintu sudah terbuka dan memperlihatkan sosok Wu Mei didepan Ming Can yang menggunakan pakaian tidur yang begitu indah dan menambahkan kesan cantik di mata Ming Can akan sosok Wu Mei.


“Ah!” Wu Mei terkejut melihat sosok Ming Can yang sekarang ini berdiri didepan kamarnya.


“Nona Wu, lebih baik anda segera ganti pakaian anda dengan pakaian tempur dan bersiap” ucap Ming Can.


“Apa yang terjadi diluar sana?” tanya Wu Mei.


“Diluar terjadi peperangan yang berskala cukup besar” jawab Ming Can.


“Apa! Kalau begitu kita juga harus ikut bertempur dan membantu semua orang” jawab Wu Mei.


“Baiklah” Jawab Ming Can


Selesai dengan semua persiapan, Ming Can dengan Wu Mei pergi keluar dan bersiap untuk bertarung.


"Aku mendapatkan perintah untuk menjaga dirimu saat bertarung jadi jangan menjauh dariku" ucap Ming Can.


"Naaf merepotkan dirimu, orang tuaku entah kenapa bisa mengambil keputusan begitu" jawab Wu Mei.


"Bukan masalah, aku suka berada didekat wanita cantik sepertimu" ucap Ming Can menggoda Wu Mei.


Dan itu berhasil, bahkan Wu Mei sekarang memiliki muka nerona merah karena malu.


"Baiklah, ayo bergegas dan fokus ad pertempuran didepan mata" ucap Ming Can.


"B-aiklah" jawab Wu Mei agak gugup.


Mereka berdua bertemu dengan lima orang musuh, langsung saja mereka melakukan pertukaran serangan.


Tebasan Bulan!


Wu Mei bergerak dengan lincah dan lihai, serta gerakan teknik pedang yang dirinya peragakan begitu indah dan kuat.


Melihat hal tersebut, Ming Can tidak mau kalah dan mengeluarkan salah satu teknik dari teknik beladiri dewa perang yang dirinya ketahui dari kehidupan sebelumnya.


Pedang Penghukum!


Dari langit turun banyak pedang-pedang yang bersinar terang dan melesat turun dengan cepat menuju para musuh disetiap kota dengan otomatis mengunci mereka sebagai target.


Walau mereka bergerak sekalipun maka tidak akan bis lari dan dipastikan target yang terkunci teknik ini akan binasa.


Semua orang nampak kaget melihat semua itu, namun sesaat kemudian mereka begitu terkejut melihat semua musuh-musuh yang terbunuh dengan pedang-pedang yang turun dari langut itu dengan cepat.


Wu Mei juga terkejut, dan dia tahu itu adalag perbuatan Ming Can.


Wu Mei kemudian menghampiri Ming Can dan bertanya "kau sekuat ini?"


"Aku masih lemah, dan teknik barusan adalah salah satu teknik yang bisa aku gunakan sekarang ini" jawab Ming Can.


"Lemah? Apanya yang teknik tingkat lemah!" ucap Wu Mei bersemangat.


Ming Can hanya memasang senyuman saja di wajah tampannya yang berhasil sukses menghipnotis Wu Mei sampai terpana akan ketampanan anak berusia 18 tahun dihadapan dirinya ini.


Ming Can memasang senyum, dan mendekati Wu Mei lalu memegang bahu kanannya untuk membuatnya sadar dari lamunan nya.


"Kenapa?" tanya Ming Can.


"Ah- tidak-tidak ada apa-apa" jawab Wu Mei gugup.


"Baiklah, kita lebih baik kembali karena semua sudah berakhir seharusnya" usul Ming Can.


"Baiklah" jawab Wu Mei.


Mereka kemudian segera kembalu ke gedung Asosiasi Wu.


Dan semua orang yang telibat pertempuran sebelumnya segera membereskan mayat-mayat para pasukan musuh yang berada didekat mereka untuk dikuburkan.


Bersambung......


Terimakasih