Supreme Cultivation

Supreme Cultivation
Sc.32



Malam hari, Ming Can berada didalam kamarnya hendak tidur.


Tok...Tok...Tok.


"Han Yin kah?"


Ming Can kemudian membukakan pintu untuknya, dan terlihat Han Yin didepan pintu kamar dengan pakaian yang benar-benar menggoda.


"Han Yin, ada apa?" tanya Ming Can.


Han Yin tidak menjawab perkataan dari Ming Can, dirinya langsung masuk kedalam kamar begitu saja.


Ming Can tidak mempermasalahkan hal tersebut, dan menutup kembali pintu.


Mereka berdua duduk bersama diatas tempat tidur dan tidak ada yang berbicara satupun.


Sampai Ming Can bertanya "Yin, bagaimana jika aku panggil begitu?"


"Iya, aku suka" jawabnya.


"Jadi ada apa ini, sampai kamu datang kedalam kamarku malam-malam begini?" tanya Ming Can.


Han Yin naik keatas pangkuan Ming Can dan mendorong tubuhnya sampai terbaring diatas tempt tidur, kemudian Han Yin mencium bibir Ming Can.


Ming Can paham, akan apa yang coba dilakukan oleh Han Yin sekarang dan apa yang diinginkannya.


Namun sebelum itu, Ming Can akan bertanya terlebih dahulu.


Setelah ciuman dilepas, Ming Can bertanya untuk memastikan keyakinan hati Han Yin untuk melakukan hal 'itu'.


"Yin'er, kau yakin?" tanya Ming Can memastikan.


"Iya, jadikan aku milikmu" ucap Han Yin yakin.


Ming Can yang mendapatkan jawaban seperti itu tidak lagi ragu dan mrmbuang kesempatan malam itu atau pada saat itu.


Sehingga malam dilalui oleh mereka berdua dengan penuh gairah dan kesenangan bercampur kebahagiaan bagi mereka berdua sampai entah berapa lama.


...


...


...


...


Area hutan, didekat gunung Akasia.


Terlihat sudah ada kemah para pasukan sekte Awan Laut disana.


"Buat sebuah patroli untuk berjaga di area sekitar" perintah Zhantian.


"Baik" jawab mereka yang akan bertugas sebagai pasukan patroli.


Ming Can sendiri tengah berada didalam tendanya bersama dengan Han Yin, mereka tengah bersantai didalam tenda.


"Ming, kalau aku hamil bagaimana?" tanya Han Yin.


"Itu hal baik, jadi rawatlah dengan sepenuh hati dan kasih sayang" jawab Ming Can.


"Tapi kita belum menikah" ucap Han Yin.


"Jika begitu, sehabis peperangan ini berakhir kita akan menikah" jawab Ming Can.


Tiba-tiba terdengar suara dari Zhantian didepan tenda tempat tinggal Ming Can.


"Ming" panggilnya.


"Guru, masuklah" jawab Ming Can.


Zhantian kemudian masuk kedalam, dan melihat keberadaan Han Yin disana juga.


"Sekarang segeralah bersiap Ming, kau akan ikut dengan tim pengintai ke garis depan untuk memantau pergerakan musuh" ucap Zhantian.


"Baik" jawab Ming Can.


Kemudian Ming Can berdiri dan siap untuk pergi.


"Ming" panggil Han Yin.


Cup.


Ming Can mengecup bibir Han Yin singkat, kemudian berkata "aku akan kembali"


"Kau harus kembali dengan selamat" ucap Han Yin.


"Baik, aku mengerti"


"Kau juga hati-hatilah saat disini" ucap Ming Can.


"Aku sendiri yang akan menjaga keponakanku selama ada disini" ucap Han Zhu.


"Baiklah, aku titipkan Han Yin pada anda guru" ucap Ming Can sebelum pergi dari sana.


...


Ming Can sekarang sudah pergi dalam bentuk kelompok yang beranggotakan lima orang.


"Kita akan masuk kebagian wilayah musuh sebentar lagi" ucap pemimpin kelompok.


"Baik" jawab Ming Can dan yang lainnya.


Ming Can dan kelompoknya sudah tiba digaris pertahanan musuh, dan dapat terlihat ada penjaga juga yang berpatroli.


"Kita lumpuhkan musuh" ucap sang kapten.


"Baik" jawabnya.


Swush.


Mereka menghilang bersamaan dari sana dan melumpuhkan satu orang satu penjaga.


Setelah itu kembali mereka berkumpul bersama di lokasi sebelumnya.


"Sudah selesai?" tanya sang kapten.


"Sudah" jawab Ming Can.


"Mari kita masuk" ucap sang kapten.


"Baik!" jawab Ming Can dan yang lain kompak.


Mereka bergerak masuk kedalam wilayah musuh lebih dalam lagi, sampai mereka bisa melihat perkemahan musuh.


"Jumlah kekuatan yang luar biasa, dan setidaknya mereka akan siap menyerang ketika tengah malam nanti" ucap sang kapten menilai situasi.


"Benar, namun sepertinya ini masihlah bukan pasukan utama" jawab Ming Can.


"Kenapa bisa seyakin itu?" tanya sang kapten.


"Tidak ada tenda yang megah disini, itu artinya tidak ada raja disini" ucap Ming Can.


Semua anggota kelompok tersebut menatap kearah perkemahan dan memperhatikan area sekitar dengan sebaik mungkin.


"Benar, ini aneh" ucap anggota yang lain.


"Kita lebih baik melaporkannya terlebih dahulu" jawab sang kapten.


Namun sayang mereka sudah dikepung saat perjalanan kembali.


"Halo, para penyusup" ucap salah seorang pasukan musuh yang terlihat seperti sosok pemimpin mereka.


"Kalau begitu, kalian pergilah" ucap Ming Can.


"Jangan bertindak bodoh, kita harus bisa pergi bersama" ucap sang kapten.


"Tidak apa, pergillah dan akan kubuat celah untuk kalian" ucap Ming Can.


"Kalian lebih ucapkan permohonan terakhir kalian" ucap kapten pada pasukan musuh.


Tebasan sepuluh arah!.


Swush.


Sepuluh tebasan skala besar terlihat menargetkan seluruh kelompok pasukan musuh yang berada disekeliling mereka.


"Sekarang pergillah!" teriak Ming Can.


Maka dengan berat hati sang kapten membawa anggota yang lainnya pergi dari sana dengan segera, karena Ming Can sudah membuka peluang untuk kabur.


Pasukan musuh yang mengepung sudah mati, namun teknik barusan memicu sebuah perhatian bagi pasukan musuh yang lainnya.


"Jika aku pergi sekarang, maka tidak ada yang akan bisa kembali dengan selamat. Karena pihak lawan akan mengirim orang yang lebih kuat dari kami untuk mengejar, dan itu akan menjadi cara pelarian yang bodoh" pikir Ming Can.


Tidak lama kemudian terlihat ada orang-orang kekaisaran Naga Merah yang sudah mengepung dirinya seorang.


"Penyusup yang berani" ucap salah satu pasukan kekaisaran Naga Merah.


"Jika tidak karena terpaksa, aku tidak akan melakukan ini" ucap Ming Can.


"Kalau begitu sudah siap untuk mati?" tanya salah satu pasukan kekaisaran Naga Merah yang lainnya.


"Entahlah, namun 'Badai Api dan Es'!"


Seketika seluruh area sekitaran sana dalam radius sekitar puluhan kilometer tertutupi oleh sebuah badai api yang bercampur es.


Tidak berhenti disitu saja, bahkan seluruh jarak pandang tertutup badai tersebut.


Ming Can sendiri sebagai pengguna tidak akan terkena efek dari serangan yang dirinya sendiri keluarkan.


Badai tersebut nampak mengeluarkan bola api dalam jumlah banyak dan satu bola api berukuran batu besar, ditambah ada es yang berbentuk seperti batu runcing yang tajam.


Kedua elemen tersebut berputar dengan arah tidak berpola dan kesana-kemari, bahkan bisa dibilang bergerak dengan liar didalam badai tersebut.


Dan setiap orang-orang pasukan kekaisaran Naga Merah yang terkena serangan dari dua elemen yang berbeda itu langsung terbunuh ditempat.


Ada yang mati terbakar sampai tidak tersisa tubuhnya karena bola api, ataupun ada yang mati menjadi bongkahan es kecil karena elemen es.


Dan itu terjadi dalam area yang luas dan puluhan kilometer.


Bahkan area kemah para pasukan kekaisaran Naga Merah sebelumnya juga terkena efek serangan Badai Api dan Es yang dikeluarkan Ming Can.


Sampai akhirnya mereka semua anggota pasukan kekaisaran Naga Merah terbunuh oleh serangan Badai Api dan Es yang dikeluarkan Ming Can dalam waktu singkat dan bersamaan.


Setelah dirasa semua mati terbunuh, Ming Can menghentikan serangannya barusan.


"Semua akhirnya selesai, tinggal kembali" ucap Ming Can.


Kemudian Ming Can segera melesat pergi dari sana menuju ke area perkemahan kembali dengan secepat yang dia bisa.


Sebab dirinya merasakan firasat buruk tentang ini.


"Kuharap kau tidak kenapa-kenapa Yin'er" ucap Ming Can dalam hati.


....


Sementara itu di area perkemahan sekte Awan Laut, tengah terjadi pembantaian.


Semua orang anggota sekte Awan Laut terbunuh oleh pasukan utama dari kekaisaran Naga Merah yang datang dengan kekuatan penuh dari arah lain.


Dan target pertama mereka adalah perkemahan sekte Awan Laut.


"Kaisar, semua sudah dibunuh" ucap salah satu jendral melaporkan situasinya.


"Hahahah, bagus"


"Mereka pasti tidak akan menyangka bahwa kita akan datang dengan pasukan utama dari arah lain dan menyerang mereka dengan cara menusuk dari belakang seperti ini" ucap sang kaisar senang.


"Baiklah, sekarang teruskan pergerakan kita menuju target berikutnya" ucap sang kaisar kembali berkata.


....


Kembali pada Ming Can.


Dirinya yang sedang bergerak dengan cepat dikejutkan dengan melihat beberapa jasad manusia dihadapannya yang merupakan anggota kelompok dirinya sebelum ini.


"Sial! kenapa mereka bisa terbunuh disini?"


"Apakah ada pasukan musuh lain yang datang dari arah berbeda?"


"Sial!! perkemahan"


Ming Can segera bergerak kembali dengan kecepatan tercepat yang dirinya bisa untuk segera sampai di area perkemahan sekte Awan Laut.


Swush!


Mu Haiji keluar dari dalam kediaman ilusi, karena sedari tadi dirinya menyaksikan situasi diluaran sini dari kediaman ilusi yang ada didalam tubuh Ming Can.


"Guru, aku harap dia batik-baik saja" ucap Ming Can dengan perasaan kacau.


".....Kau harus siap dengan kenyataan nak" ucap Mu Haiji.


"Apa maksudmu guru?!" teriak Ming Can.


"Kau akan segera tahu" ucap Mu Haiji.


Mereka bergerak lebih cepat lagi menuju perkemahan sekte Awan Laut, sampai akhirnya tiba di lokasi.


Ming Can tidak bisa lagi berkata apa-apa ketika melihat banyaknya mayat bergelatakan dimana-mana dalam kondisi mengenaskan dan kondisi perkemahaan yang berantakan, bahkan ada yang terbakar api.


"Han Yin!"


Ming Can segera pergi menuju kemah tempat dia tinggal sebelumnya, dan berhasil menemukan jasad Han Yin disana dalam keadaan mati akibat luka tertusuk pada bagian dada dan perut.


"Aaaaaaaa!!!!!!"


Ming Can berteriak denga sekeras-kerasnya sambil memeluk erat tubuh Han Yin yang sudah tidak bernyawa lagi.


"Masih ada cara untuk membuatnya hidup kembali" ucap Mu Haiji.


"Bagaimana itu guru?" tanya Ming Can bersemangat.


"Bawalah dia kedalam kediaman ilusi terlebih dahulu" ucap Mu Haiji.


"Baik" jawab Ming Can.


Swush!


Mereka pergi kedalam kediaman ilusi sesuai dengan perkataan dari Mu Haiji, karena Mu Haiji berkata masih ada harapan untuk membuat Han Yin tetap hidup.


Namun Ming Can tidak menyadari bahwa Mu Haiji juga membawa jasad dari Han Zhu yang berada didekat jasad Han Yin sebelumnya kedalam kediaman ilusi.


Bersambung......


Jangan lupa


Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.


Terimakasih.