Supreme Cultivation

Supreme Cultivation
Sc.46



Ming Can dengan lawannya saling menatap dan memperhatikan satu sama lain dengan saling waspada karena tidak mau mengambil langkah ceroboh dalam bertindak.


Tebasan beruntun!


Ming Can mengeluarkan satu teknik miliknya, dan itu mampu membuat lawannya terkejut dan bahkan bisa dikatakan kewalahan dalam menghadapi serangan yang diarahkan padanya.


Terus dan terus teknik yang dikeluarkan Ming Can menyudutkan wanita tersebut sampai dibuat mundur ke tepi arena pertempuran dalam sikap bertahan.


Hingga akhirnya karena diakhirilah pertarungan oleh Ming Can sebagai pemenang melalui sebuah serangan kejut yang berhasil mengenai badan wanita tersebut dengan kuat.


Bugk!


Serangan kejut tersebut dengan telak mendarat di perut wanita tersebut hingga membuatnya terpental keeluar arena sampai beberapa meter dan dinyatakan kalah karena keluar dari panggung pertempuran.


Para penonton semuanya tertegun tanpa terkecuali, bahkan para orang-orang yang memiliki kuasa di kota Huazhuo mengalami situasi yang sama dengan para penonton lainnya.


"Pertandingan berakhir, dengan kemenangan peserta bernomor 156 sebagai juara kompetisi beladiri bebas"


Selesai pengumuman diberikan, semua nya bersorak ria dengan bahagia karena menyaksikan pertarungan yang menyenangkan menurut mereka.


Sampai tiba sesi pembagian hadiah yang akan diberikan langsung oleh sang tuan kota.


"Terimalah hadiahmu" ucap tuan kota pada Ming Can sambil menyerahkan sebuah cincin spasial pada Ming Can.


"Terimakasih, senior" jawab Ming Can sopan.


"Setelah ini kau ada waktu?" tanya tuan kota.


"Tentu, apakah ada yang ingin anda sampaikan pada junior?" tanya Ming Can balik.


"Kalau begitu ikutlah denganku" jawab tuan kota.


Ming Can berangguk sebagai jawaban sebelum pada akhirnya mengikuti langkah tuan kota yang pergi menuju kediaman besarnya di pusat kota.


...*---*...


Di kediaman tuan kota, Ming Can disambut dengam begiti baik sekali oleh tuan kota dan seluruh penghuni kediaman tuan kota.


Ming Can saat ini sedng duduk diruangan pribadu milik tuan kota sambil disuguhi teh hangat dan camilan.


"Siapa namamu anak muda?" tanya tuan kota.


"Nama junior Ming" jawab Ming Can sopan.


"Nah nak Ming, kau berasal dari mana?" tanya tuan kota.


"Saya berasal dari sekte kelas tiga bernama sekte permata" jawab Ming Can menjelaskan.


"Begitu.....sebenarnya aku punya permintaan sekaligus ingin menyampaikan hadiah spesial yang kau dapatkan setelah kemenanganmu dalam kontes beladiri sebelumnya" jelas tuan kota.


"Masih ada hadiah lagi?" tanya Ming Can tidak percaya.


"Benar, hadiah itu adalah putriku" jawab tuan kota.


"Apa?!" ucap Ming Can yang terkejut.


"Huft...biarkan aku menjelaskan semuanya"


Setelah menarik nafas panjang sejenak, tuan kota melanjutkan kembali perkataannya.


"Jadi tujuan sebenarnya dari kompetisi beladiri bebas yang aku adakan adalah demi mencari calon suami untuk anaku"


"Maka dari itu hadiah sebelumnya hanyalah kedok saja"


Ming Can hanya diam saja mensengarkan untuk sesaat.


"Jadi bagaimana menurutmu nak Ming?" tanya tuan kota kembali.


"Aku belum terpikirkan sampai kesana....dan tujuan diriku ikut kompetisi beladiri sebelumnya bukan karena mengincar hadiah yang dijanjikan untuk pemenang, melainkan hnya untuk menguji kekuatan diriku sendiri saat ini sudah sampai tahap mana" jelas Ming Can dengan begitu hati-hati.


"....bagaimana kalau kalain mengobrol dulu?" usul tuan kota.


"Baiklah" jawab Ming Can.


"Feng Yun" panggil tuan kota.


Tidak lama pintu ruangan terbuka dan menampakan seorang perempuan yang mana adalah lawan Ming Can dalam pertempuran terakhir sebelumnya.


"Kalian sudah bertemu di arena sebagai lawan, sekarang cobalah untuk mengobrol dan berkenalan" ucap tuan kota sambil berlalu pergi dari dalam ruangan tersebut meninggalkan kedua muda-mudi tersebut.


"Halo....perkenalkan namku Feng Yun" ucap nya.


"Halo juga....perkenalkan namaku Ming Can" jawabnya.


Sesaat suasana hening, sebelum Ming Can buka suara.


"Apakah anda baik-baik saja?" tanya Ming Can.


"Aku baik, setelah minum obat yang diberikan ayah semua luka tubuh sudah pulih dan begitupun dengan kondisi staminaku" jawab Feng Yun.


"Syukurlah...." jawab Ming Can.


Suasana kembali hening, sampai Ming Can akhirnya menatap serius kearah Feng Yun.


"Jadi soal perjodohan ini apakah kau tidak menolak sama sekali?" tanya Ming Can.


"Aku selalu menuruti perkataan ayahku, selagi aku tidak keberatan akan kulakukan" jawab Feng Yun.


"Jadi kau tidak masalah dengan perjodohan ini?" tanya Ming Can.


"Benar, aku akan menerima siapapun yang akan menjadi pasangan diriku" jawab Feng Yun tenang.


"Melihat sikap dan tatapan anda pada saya, saya yakin bahwa anda bukanlah orang seperti itu" jawab Feng Yun.


".....Huft....." Ming Can hanya menghela nafas.


"Apakah anda keberatan dengan perjodohan ini? Jika iya aku akan mencoba membujuk ayah agar tidak meneruskan hal ini" ucap Feng Yun.


"Bukan seperti itu....aku hanya merasa ini terlalu dini" ucap Ming Can.


"Kalau begitu apa keputusanmu?" tanya Feng Yun.


Ming Can menatap kearah Feng Yun dengan serius, begitupun sebaliknya.


"Bagaimana kalau kita saling mengenal terlebih dahulu?" usul Ming Can.


"Aku tidak keberatan" jawab Feng Yun.


"Namun setelah ini aku harus pergi kembali melanjutkan perjalananku menuju sekte" ucap Ming Can.


"Kalau begitu izinkan aku ikut kemanapun kamu pergi" mohon Feng Yun.


"Apakah kau yakin? Asal kau tahu mungkin aku tidak akan bisa menetap lama disuatu tempat" jawab Ming Can.


"Aku tidak masalah, anggap saja ini proses saling mengenal bagi kita" jawab Feng Yun.


"Lalu keluargamu disini bagaimana?Apakah kau tidak akan rindu pada mereka?" tanya Ming Can.


"Rindu pasti, namun aku akan mengikuti dan menuruti perkataan calon suamiku" jawab Feng Yun.


Ming Can terdiam sejenak setelah mendengarkan perkataan dari Feng Yun.


"Kalau begini, aku mana bisa nolak" ucap Ming Can.


Selesai dengan percakapan tersebut, Ming Can sekarang ini dengan Feng Yun meminta izin pada Feng Hua atas perjalanan yang akan mereka lakukan.


Feng Hua dengan berat hati mengizinkan, sehingga sekarang Ming Can dengan Feng Hua akan berangkat.


Namun sebelum pergi, Ming Can menuju Asosiasi Wu terlebih dahulu untuk pamit pada Wu Mei dan yang lainnya.


...*----*...


Ming Can saat ini sudah berada dihadapan Wu Mei dan keluarga dalam ruangan keluarga yang ada dalam gedung Asosiasi Wu.


Ming Can datang bersama dengan Feng Yun, karena sesuai kesepakatan sebelumnya bahwa mereka akan berpetualang bersama-sama.


"Aku kemari ingin pamit pada kalian" ucap Ming Can yang mengejutkan semua nya disana dari pihak keluarga Wu.


"Apa!....bagaimana bisa begitu cepatnya kau pergi?" tanya Wu Mei.


"Aku harus segera melanjutkan kembali perjalananku untuk menuju sekte permata kembali" jawab Ming Can.


Wu Mei terlihat begitu sedih mendengarkan hal tersebut, sedangkan Wu Zhong dan sang istri hanya bisa mengucapkan terimakasih atas bantuan Ming Can pada mereka sebelumnya dan hati-hati.


"Kalau begitu, aku tidak bisa berlama-lama lagi dan harus segera pergi" ucap Ming Can sambil berdiri dan diikuti oleh Feng Yun.


"Tunggu!" cegah Wu Mei.


"Kenapa?" tany Ming Can bingung.


"Izinkan aku ikut denganmu!" tegas Wu Mei.


"Apa?!"


Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut begitu terkejut mendengar penuturan dari Wu Mei yang begitu saja mengucapkan sebuah hal yang tidak mudah untuk diputuskan.


"Kenapa kau ingin ikut denganku? Asal kau tahu aku tidak akan bisa tinggal menetap lama disuatu tempat" jawab Ming Can.


"Aku tidak peduli, aku ingin ikut pokoknya" ucap keras kepala dari Wu Mei.


"Aku tidak masalah, namun bagaimana pendapat orang tuamu?" tanya Ming Can.


"Ayah dan ibu izinkan aku....aku mohon" ucap Wu Mei.


"Huft....baiklah" jawab Wu Zhong.


"Sugguh?" harap Wu Mei.


"Iya sayang pergilah dan perjuangkan rasa cintamu" ucap Yue Zi.


Seketika wajah Wu Mei memerah, sedangkan Feng Yun segera menjawab "Ming calon suamiku"


Suasana didalam sana mendadak hening.


"Biarin, aku bisa jadi istri kedua Ming setelah adik Feng Yun" ucap Wu Mei.


Tersirata tatapan saling membara dari keduanya.


Sedangkan Ming Can sendiri hanya bisa menghela nafasnya.


Bersambung.......


Note :


Author ada karya baru dengan Judul Layanan Sistem.


Yang minat dan penasaran silahkan mampir dengan klik langsung profil author dan tinggal baca.


Makasih semua.