
Meiyuri bangun dari tidurnya didalam kamar Ming Can, begitu dirinya bangun langsung melihat area sekelilingnya.
"Ming kemana sih?" ucap Meiyuri.
Segera Meiyuri keluar dari dalam kamar Ming Can dan berpapasan dengan Zhantian.
"Kau kenapa keluar dari dalam kamar Ming Can?" tanya Zhantian.
"Tidur" jawab Meiyuri simple.
"Kalian sudah tidur bersama?" tanya Zhantian.
"Tidak, justru aku mencarinya sekarang" jawab Meiyuri.
"Dia tadi paman suruh buat mempelajari sebuah buku teknik" ucap Zhantian.
"Begitu, lalu sekarang dia berada dimana?" tanya Meiyuri.
"Dia tidak tahu berada dimana sekarang" ucap Zhantian.
"Kemana sebenarnya dia?" tanya Meiyuri sambil terlihat berpikir.
"Sudah jangan dicari terus dia, lebih baik kau berlatih saja" ucap Zhantian menasehati Meiyuri.
"Baiklah" jawab Meiyuri.
"Oh iya, aku tadi bertaruh dengan Ming Can" ucap Zhantian.
"Bertaruh soal apa?" tanya Meiyuri.
"Jika dia berhasil menguasai buku keterampilan bertarung yang dia ambil dari perpustakaan dengan cepat, maka aku akan beritahukan semua informasi mengenai dirimu" ucap Zhantian.
"Itu bukanlah masalah, aku yakin dan percaya bahwa Ming Can dapat dipercaya dan orang yang baik" jawab Meiyuri.
Kemudian mereka berdua berpisah untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Sedangkan Ming Can yang berada didalam kediaman ilusi sekarang baru saja selesai menyerap khasiat dari pill 9 pola matahari.
Ming Can membuka matanya secara perlahan sambil dalam posisi bermeditasi.
"Akhirnya aku bisa menerobos ke tahapan yang lebih tinggi lagi" ucap Ming Can sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
Ming Can segera keluar dari dalam tempat pelatihan tertutupnya.
...
"Kau akhirnya selesai" ucap Mu Haiji ketika menyambut kehadiran Ming Can yang baru saja keluar dari dalam tempat kultivasi pengasingannya.
"Benar, dengan ini aku sudah selangkah lebih kuat lagi" jawab Ming Can.
"Kalau begitu, bagaimana kalua kau coba gunakan teknik baru yang kau pelajari belum lama ini" ucap Mu Haiji.
"Bagaimana anda bisa tahu soal teknik iti guru?" tanya Ming Can heran.
"Melalui cermin jiwa, aku bisa melihat semua kegiatanmu didunia luar sana" ucap Mu Haiji.
"Cermin Jiwa itu benda seperti apa?" tanya Ming Can.
"Itu tersedia di halaman belakang kediaman" jawab Mu Haiji.
"Bukankah itu adalah kolam ikan kecil" tanya Ming Can.
"Benar, namun itu bida digunakan sebagai cermin jiwa juga" ucap Mu Haiji.
"Teknik api 'yang' dan es 'yin' adalah sebuah teknik beladiri yang berasal dari gabungan dua elemen yang saling berlawanan dan bertolak belakang, namun jika kau bisa menguasainya dengan secara sempurna"
"Maka teknik tersebut akan menjadi sebuah serangan dua elemen yang kuat sekali" ucap Mu Haiji memberikan sebuah penjelasan.
"Baiklah, aku akan coba" ucap Ming Can.
"Pergilah mencobanya diruangan latihan khusus yang aku buat" ucap Mu Haiji.
"Baiklah" jawab Ming Can.
....
Ming Can sekarang sudah berada didalam ruangan rahasia yang dimaksudkan sebelumnya.
Ming Can akan mencoba menggunakan gerakan pertama dari tiga gerakan yang ada didalam buku teknik bertarung Api 'Yang' dan Es 'Yin'.
Tahta Api dan Es!
Segera keluar sebuah serangan berbentuk kursi tahta diatas kepala Ming Can yang terlapisi oleh sebelah elemen Es dan sebelah elemen Api.
Itu semua tidak berakhir sampai disitu saja, setelah kursi tahta keluar, Ming Can mengayunkan lengannya dari atas kebawah.
Membuat kursi tahta diatas kepalanya mengeluarkan serangan berupa bola dengan setengah elemen api dan setengah elemen es didalamnya.
Bola-bola tersebut dalam jumlah banyak, namun Ming Can hanya menembakan satu bola saja menuju sebuah patung batu yang mrnjadi targetnya.
Swush!
Boom!
Patung batu tersebut meledak dan hancur berkeping-keping, bahkan puing-puing dari patung batu tersebut terbakar dengan area sekelilingnya berubah menjadi beku dan menghasilkan aura yang benar-benar dingin.
Melihat kejadian barusan, Ming Can merasa ini benar-benar teknik yang luar biasa.
"Hebat sekali, padahal baru gerakan teknik yang pertama"
Ming Can kemudian berniat mencoba gerakan kedua, namun dihentikan oleh Mu Haiji.
"Sudah, jangan diteruskan" ucap Mu Haiji.
"Kenapa?" tanya Ming Can.
"Karena gerakan kedua dan ketiga dari teknik tersebut sangat berbahaya jika digunakan dalam tempat seperti ini, jika mau gunakanlah dalam keadaan bertempur skala besar"
"Atau bahkan di medan perang" jelas Mu Haiji.
"Baiklah, murid ini mengerti guru" jawab Ming Can paham.
"Bagus" jawan Mu Haiji.
"Namun bagaimana caranya diriku bisa membuktikan pada guru Zhantian bahwa aku sudah bisa menguasai teknik ini dengan secara sempurna dalam waktu singkat" ucap Ming Can.
"Bukannya kalian akan bertarung?" tanya Mu Haiji dan dijawab anggukan kepala oleh Ming Can.
"Cukup gunakan gerakan pertama untuk menyerangnya" ucap Mu Haiji.
"Baiklah, murid ini mengerti" jawab Ming Can.
"Segeralah kembali dan buat zhantian terkejut dengan kekuatanmu itu" ucap Mu Haiji.
"Baiklah, aku semangat untuk ini" ucap Ming Can.
Kemudian Ming Can keluar dari dalam kediaman ilusi, setelah itu Ming Can muncul dari dalam kamarnya di kediaman Zhantian.
Setelah keluar dari dalam kamarnya, Ming Can pergi menuju halaman belakang kediaman karena dirinya merasa bahwa Zhantian akan berada disana.
Namun, pada saat dirinya sampai dihalaman belakang tidak medapati siapa-siapa disana.
Sampai sebuah bunyi peringatan untuk berkumpul terdengar diseluruh area sekte.
Ming Can segera saja pergi menuju lokasi tempat seharusnya para murid berkumpul ketika mendengar peringatan tersebut.
... .... ...
Dihalaman sekte yang luas diantara perbatasan bagian halaman luar dan dalam, ada banyak para murid luar dan dalam sedang berkumpul disana.
Mereka sudah berjajar rapih, dan siap mendengarkan arahan yang akan diberikan oleh para tetua didepan sana yang tengah melayang diudara.
Bahkan disana sudah ada sosok Zhantian juga.
"Apa yang tengah terjadi sebenarnya disini?" pikir Ming Can.
"Baiklah, terimakasih sudah berkumpul disini semuanya" ucap Zhantian.
"Kalian dikumpulkan disini untuk diberitahukan sebuah kabar menegangkan atau bahkan bisa disebut sebagai kabar buruk. Bukan hanya kabar buruk bagi kita saja, melainkan bagi seluruh rakyat kekaisaran" ucap Zhantian.
Para murid sekte masihlah hening, dan bersiap menerima informasi selanjutnya dari para tetua didepan sana.
"Kekaisaran Naga Merah menyerang kekaisaran kita, pasukan mereka sudah berada di balik gunung akasia dengan jumlah 500.000 pasukan"
"Dan tidaklah menutup kemungkinan mereka akan bisa menambah jumlah pasukannya, maka dari itu kekaisaran meyuruh semua sekte yang ada untuk bersiap jikalau dipanggil dalam masa perang nantinya" ucap Zhantian.
"Tugas kalian sekarang adalah mempersiapkan diri kalian semua untuk pergi ke medan perang, setelah siap kalian harus ikut pergi ke medan tempur" ucap Zhantian.
"Siap!" jawab semuanya.
Dalam sekejap semua orang bubar dari sana dan mulai mempersiapkan segala kebutuhan mereka untuk di medan perang nantinya.
... .......
Ming Can sekarang berada didalam kamarnya dan baru saja selesai mempersiapkan segala kebutuhan perangnya.
Namun secara tiba-tiba terdengar suara Zhantian diluar kamar memanggil namanya.
"Ming Can, keluarah dulu" ucap Zhantian.
Ming Can yang memang sudah selesai dengan kegiatan persiapan perbekalan di medan perang nantinya, langsung keluar dari dalam kamar untuk menemui Zhantian yang memanggil namanya.
"Ada apa guru?" tanya Ming Can.
"Kita perlu bicara" ucap Zhantian dengn raut muk serius.
"Baik" jawab Ming Can.
Mereka kemudian pergi berjalan menuju ruangan tengah, disana juga terlihat keberadaan dari Meiyuri.
Setelah semua duduk dengan tenang, Zhantian memulai obrolan.
"Bagaimana latihannya?" tanya Zhantian.
"Aku berhasil kuasai dalam waktu satu hari dan langsung dalam tahapa pemahaman sempurna" jawab Ming Can serius tanpa ada gelagat kebohongan terlihat di wajahnya.
"Kalau begitu aku akan menepati ucapanku soal taruhan waktu itu" jawab Zhantian.
"Aku akan dengarkan dengan sebaik-baiknya" jawab Ming Can siap.
"Meiyuri dan aku berasal dari kekaisaran Naga Merah" ucap Zhantian.
"Sigh.....ini akan menjadi masalah serius" ucap Ming Can.
Zhantian terkejut dengan respon yang diberikan oleh Ming Can saat mendengar cerita soal asal mereka darimana.
"Kami berasal dari sebuah keluarga kelas dua pada sebuah kota skala menengah bernama kota Beingsha"
"Keluarga itu bernama keluarga Han, keluarga Han dihancurkan dalam satu malam oleh sekelompok orang asing"
"Aku berhasil membawa lari keponakanku Meiyuri yang sebenarnya bernama asli Han Yin, aku sendiri bernama Han Zhu" jelas Zhantian.
"Huft....kejutan yang hebat" ucap Ming Can.
"Ming, kamu tidak akan menjauhi dirikiu hanya karena masalah ini bukan?" tanya Han Yin sambil mendekat kearah Ming Can dan duduk disampingnya sambil memeluk erat lengan Ming Can.
Ming Can kemudian menarik Han Yin agar posisinya berpindah menjadi duduk dipangkuan dirinya.
"Han Yin, benar?" ucap Ming Can.
"Iya...hiks...hiks..." jawabnya sambil mengalungkan lengannya di leher Ming Can dan membenamkan kepalanya di dada Ming Can.
"Aku tidak akan meninggalkan dirimu" ucap Ming Can sambil mengelus punggu Han Yin.
"Benarkah?" tanya Han Yin dengan penuh harap sambil menatap kearah Ming Can dengan mata berair karena menangis.
Ming Can menghapus air mata di pipi Han Yin, dan menjawab "Iya, aku tidak akan meinggalkanmu"
"Terimakasih" jawab Han Yin bahagia sekali karena Ming Can tidak meninggalkan dirinya.
"Aku dapat restu guru bukan?" tanya Ming Can pada Han Zhu.
"Benar" jawab Han Zhu.
"Aku juga bukan berasal dari kekaisaran ini, atau bahkan dari kekaisaran Naga Merah" ucap Ming Can.
Sekarang giliran Han Zhu dengan Han Yin yang merasa terkejut akan ucapan Ming Can.
"Aku berasal dari kekaisaran lain, dan dari sebuah desa kecil" ucap Ming Can.
"Terus soal perang kali ini, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Han Zhu.
"Aku akan tanya kalian lebih dulu, apa yang akan kalian lakukan?" tanya balik Ming Can.
"Aku sebagai tetua kehormatan sekte ini, harus membela sekte ini tentunya" jawab Han Zhu.
"Aku ingin ikut kamu kemanapun dan apapun keputusanmu" jawab Han Yin.
"Baiklah, aku akan pilih membela kekaisaran ini dalam medan perang" ucap Ming Can.
"Baiklah, segera bersiap" jawab Han Zhu.
"Mengerti" jawab Ming Can dan Han Yin.
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.