
Semua orang terdiam begitu mendengarkan perkataan dari Ming Can barusan.
"Nak, jangan berbohong pada guru dan teman-temanmu ini" ucap Zhantian.
"Aku tidak bohong" jawab Ming Can.
"Lalu bagaimana caranya kau bisa membunuh Mu Kei dengan orang-orang yang dia bawa" tanya Zhantian.
"Itu karena teknik lonceng hitam yang aku keluarkan barusan, sekali tertangkap maka tidak akan kembali dengan selamat selain karena izin dariku" ucap Ming Can.
"Hebat" ucap Yunshan.
Meiyuri dibuat benar-benar kagum dengan sifat dan sikap Ming Can, kemudian mengingat kembali momen mereka berdua ketika sebelumnya.
"Dia hanya pernah dilayani sebagai tuan dan tidak melakukan hal 'itu' dengan para pelayan yang di miliki, aku tidak boleh naif dan melepaskan kesempatan menjadi wanitanya" ucap Meiyuri dalam hati.
Ming Can kemudian berkata "memang orang sebelumnya sekuat apa?" tanya Ming Can pada Zhantian.
"Dia setara denganku, dan akan merepotkan jika kita semua bentrok atau melakukan pertempuran barusan" jawab Zhantian dengan lega.
"Anda guru yang baik, memperhatikan keselamatan dan nyawa orang-orang yang baru dikenala belum lama" ucap Yunshan dan diangguki semuanya.
"Baiklah, kita lebih baik segera pergi dari sini sebelum ada masalah lain yang datang menghampiri kita" ucap Zhantian.
"Baik!" jawab mereka semua.
Kali ini mereka tidak menempuh perjalanan dengan teknik melangkah, melainkan memilih terbang diudara.
Karena semua sudah berada di tahap kaisar, itu bukanlah masalah besar jika hanya sekedar terbang saja.
Selain itu bisa lebih mempercepat perjalanan mereka saat ini.
.....
Dalam tiga batang dupa, mereka telah berhasil keluar dari dalam hutan.
"Hari sudah hampir malam, karena didepan ada kota maka kita bisa istirahat disana sebelum akhirnya melanjutkan kembali perjalanan besok hari" ucap Zhantian.
"Bukannya sebentar lagi kita akan sampai?" tanya Xi.
"Jadi kalian tidak mau istirahat terlebih dahulu, walau hanya sekedar untuk tidur saja malam ini?" tanya Zhantian.
"Tidak, tetua" jawab mereka.
"Kalau begitu kita akan bergerak terus sampai kita mencapai sekte" ucap Zhantian.
"Baik!" jawab mereka kompak.
Sementara Ming Can sendiri hanya diam saja sedari tadi.
....
Hingga Zhantian dan kelompoknya hampir sampai di sekte, terlihat ada sebuah kekacauan terjadi dibagian hutan dekat sekte.
"Ada apa ini?" tanya Ming Can.
"Ini adalah serangan monster, memang setiap tahunnya selalu diadakan sebuah perburuan monster untuk melatih para murid luar"
"Selain itu setiap monster yang berhasil kalian bunuh, kalian bisa ambil inti monsternya untuk ditukar menjadi poin pada aula misi"
"Dan sepertinya pertempuran baru saja dimulai" jelas Zhantian dengan tenang dan panjang.
Tidak lama setelah Zhantian berkata seperti barusan, datang mendekat dua orang pria paruh baya menghampiri Zhantian dan kelompoknya.
"Salam hormat pada tetua kehormata" ucap kedua pria paruh baya tersebut sambil menangkupkan lengan mereka dan sedikit membungkuk pada Zhantian dihadapan Ming Can dan yang lainnya.
"Sudah berapa lama pertempuran disini berlangsung?" tanya Zhantian.
"Baru saja beberapa saat, tetua" jawab salah satu pria paruh baya.
"Owh....kenalkan mereka adalah para murid yang baru lolos dalam seleksi penerimaan murid di ibukota" ucap Zhantian.
"Kalian sapalah kedua tetua ini" tambah Zhantian.
"Salam hormat pada dua tetua" ucap Ming Can dan yang lainnya, termasuk Meiyuri ikut memberikan salam hormat.
"Anda sangat hebat, bisa membawa talenta berbakat seperti ini" puji salah satu pria paruh baya yang lainnya.
"Ini hanya beruntung saja"
"Ngomong-ngomong, bagaimana kalua biarkan para anak-anak baru ini ikut dalam ujian disini?" usul tetua yang berbicara pertama tadi.
"Ide bagus, namun muridku akan langsung kubawa" ucap Zhantian.
!
Du tetua tersebut nampak terkejut mendengar perkataan dari Zhantian barusan.
"Anda mengambil seorang murid?" tanya salah satu tetua.
"Iya, dia" tunjuk Zhantian pada Ming Can.
"Kaisar 5?" tanya salah satu tetua lainnya.
"Kultivasi miliknya memang yang terendah diantara 9 orang murid baru lainnya, namun bakat dan kekuatannya yang menarik dan menaril perhatianku untuk menjadikan dirinya sebagai seorang murid pribadi" ucap Zhantian menjelaskan.
"Begitu, kalua begitu selamat atas penerimaan murid baru anda" ucap dua tetua bersamaan.
"Nah, sekarang kalian bersembilan akan ikut dengan tetua Li tao dan tetua Lin Huo" ucap Zhantian.
"Baik!" jawab Yunshan dan yang lain.
"Kalian jaga diri masing-masing dengan baik, sampai bertemu kembali di lain kesempatan" ucap Ming Can sebelum pergi dari sana bersama dengan Zhantian juga Meiyuri.
....
....
....
Ming Can dibawa menuju sebuah kediaman cukup besar dan mewah yang berada dibagian paling selatan dari sekte Awan Laut.
Ming Can tengah duduk bersama Zhantian dengan Meiyuri.
"Mulai sekarang kau tinggal disini, dan soal identitas biarkan aku yang urus" ucap Zhantian.
"Soal pelatihan dan lain sebagainya bagaimana?" tanya Ming Can pada Zhantian.
"Untuk latihan, aku akan mendatangi dirimu" jawab Zhantian.
"Jika anda tidak datang?" tanya Ming Can.
"Aku akan berikan sebuah tugas padamu jika aku tidak datang menghampirimu" ucap Zhantian.
"Baiklah, aku mengerti" jawab Ming Can.
"Oh ya, Meiyuri adalah pelayan dirumah ini dan dia tinggal disini juga" ucap Zhantian.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Ming Can.
"Aku adalah keponakan dari paman Zhantian" ucap Meiyuri.
"Jadi jangan kau sakiti hati dan dirinya, murid nakal" ucap Zhantian.
"Begitu....." jawab Ming Can.
"Kalau begitu aku akan pergi dulu berkultivasi, dan jangan ganggu aku jika bukan hal yang penting dan serius" ucap Zhantian.
"Tunggu, guru" panggil Ming Can.
"Ada apa?" tanya Zhantian.
"Ambillah pill ini, sebagai hadiah dari muridmu ini" ucap Ming Can sambil menyerahkan sebuah pill pada Zhantian.
"Ini....jangan bilang pill tingkat Surga?" tanya Zhantian.
"Iya, memangnya ada yang aneh atau salah dari pill itu?" tanya Ming Can.
"Dapat membuat kultivasi guru menerobos satu tingkatan" jawab Ming Can.
"Kalau begitu tidak boleh ditunda" jawab Zhantian.
Secara begitu saja Zhantian pergi dari sana dan masuk kedalam ruangan khusus untuk dirinya berkultivasi.
Sehingga tinggal Ming Can dengan Meiyuri diruangan tersebut berduaan saja.
Ming Can menatap kearah Meiyuri yang hanya diam menundukan kepalanya saja, Ming Can menarik tubuh Meiyuri kedalam pangkuannya.
Grep!
Meiyuri nampak gugup dengan rona merah terlihat diwajahnya, Ming Can yang melihat itu merasa bahwa Meiyuri itu imut.
Ming Can menarik dagung Meiyuri, hingga wajah mereka saling bertatapan satu sama lain dengan pandangan saling terkunci.
"Gak nolak?" tanya Ming Can.
"E-h..a-apa nya yang gak nolak?" tanya Meiyuri gugup.
Ming Can tersenyum dan menbisikan sesuatu tepat disamping telinga Meiyuri.
"Aku tanya sekali lagi, mau jadi pacarku?" tanya Ming Can.
"I-ya, aku mau"
"Tapi jangan ada wanita lain" jawab Meiyuri.
"Kalau pelayan?" tanya Ming Can.
"Boleh, tapi hanya sekedar melakukan tugas biasa saja tanpa ada lebihnya" jawab Meiyuri.
Cup!
Ming Can mencium leher Meiyuri dengan lembut, dan menimbulkan sensasi yang tidak biasa bagi Meiyuri yang pertama kali merasakan perasaan begitu.
"Ehm...ah!"
Meiyuri mengeluarkan suara yang terdengar merdu ditelinga Ming Can.
Kemudian Meiyuri mengalungkan kedua lengannya dileher Ming Can.
Ming Can sendiri berpindah dari leher menjadi ke area dada Meiyuri.
Dimana pakaian bagian atas Meiyuri sudah terlepas, dan membuat Ming Can bisa mencium kedua buah dada kembar milik Meiyuri dengan bebas dan leluasa.
Ming Can membawa Meiyuri dalam pangkuannya sambil berdiri.
"Dimana kamarnya?" tanya Ming Can.
"Disana" tunjuk Meiyuri sambil menunjuk salah satu pintu yang terlihat didekat sana.
Ming Can membawa Meiyuri kedalam kamar.
...
Didalam kamar.
Ming Can sudah menindih tubuh Meiyuri diatas tempat tidur, dan mereka berdua tengah bermain bibir.
Sampai kegiatan mereka terhenti akibat sebuah ledakan yang didengar keduanya dan menggetarkan rumah.
Boom!
Ming Can dengan Meiyuri menghentikan kegiatan mereka barusan, lalu Ming Can berkata "sepertinya itu guru"
"Biarlah, kita teruskan saja" jawab Meiyuri.
Cup!
Kecupan Ming Can berikan di bagian kening Meiyuri, dan setelah itu berkata "kita hentikan dulu ini, dan lihat kondisi guru"
"Hem! pokoknya harus lanjutin" ucap Meiyuri merajuk.
"Iya, nanti ya" jawab Ming Can.
Mereka kemudian segera merapihkan pakaian mereka kembali, sebelum akhirnya pergi menemui zhantian.
....
Dihalaman depan.
Zhantian sedang berdiri disana sambil memgeluarkan aura kekuatan yang menindas dan begitu kuat.
"Selamat atas peningkatan kultivasinya" ucap Ming Can dan Meiyuri.
"Hahaha, ini berkat pill yang kau berikan sebelumnya" jawab Zhantian senang.
"Sekarang, harusnya guru sudah bisa bersaing dengan patriak sekte" jawab Ming Can.
"Bagaimana kau bisa berkata begitu?" tanya Zhantian.
"Itu karena intuisi diriku" jawab Ming Can.
"Sudahlah, sepertinya ada tamu yang datang" jawab Zhantian.
Benar saja, tidak lama kemudian muncul beberapa sosok orang tua dan pria paruh baya ketempat mereka berada.
"Zhantian menyapa patriak dan para tetua" ucapnya sambil memberikan hormat.
"Kau menerobos?" tanya seorang pria dengan janggut panjang berwarna putih dan mengeluarkan aura kewibawaan yang cukup kuat.
"Benar, ini karena keberuntungan saya saja" jawab Zhantian.
"Sepertinya itu adalah hasil dari perjalananmu pergi sebelum ini" ucap pria dengan janggut panjang berwarna putih tersebut dengan tenang.
"Ini adalah hal yang bagus, karena akan membuat sekte kita semakin kuat" ucap seorang pria paruh baya disana.
"Benar" jawab beberapa orang lainnya.
"Oh ya, dia siapa?" tanya pria dengan janggut tersebut.
"Dia adalah murid baruku, dan baru saja masuk melalui jalur seleksi yang aku pimpin" jawab Zhantian.
"Ming Can menyapa patriak dan semuanya" ucap Ming Can sambil memberikan hormat dan membungkuk sedikit.
"Baiklah, semua bubar dan kembali pada kegiatan masing-masing" jawab partiak sekte.
Mereka bubar dari halaman depan kediaman Zhantian, sementara setelah mereka semua pergi dari sana. Zhantian dengan Ming Can dan Meiyuri pergi masuk kedalam.
....
Didalam rumah,
Ming Can tengah disidang oleh Zhantian.
"Aku melihat sebuah tanda tidak bisa dileher Meiyuri, aku tebak itu ulahmu Ming" ucap Zhantian.
"Benar, kami ada hubungan" jawab Ming Can.
"Jangan sia-siakan perasaannya padamu, kemudian setiap masalah selesaikan dengan kepala dan hati yang dingin dan tenang"
"Sekaligus jangan sakiti dia, lindungi dia dengan segenap kekuatanmu" ucap Zhantian.
"Baik, aku mengerti" jawab Ming Can.
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.