
Sementara Xingtian melakukan pembataian tanpa banyak bicara, Ming Can sendiri hanya menonton saja.
Sampai datanglah kereta kuda yang dinaiki Yu Zhong dengan keluarga.
Yu Zhong sekeluarga keluar dari kereta, dan menghampiri Ming Can yang sudah membunuh paman ke-3 sebelumnya.
"Nak Ming" panggil Yu Zhong.
"Biarkan Xingtian selesaikan ini semua terlebih dahulu" ucap Ming Can.
Yu Zhong dengan yang lainnya terdiam dan hanya berdiri memperhatikan saja jalannya pembantaian yang sedang dilakukan oleh Xingtian.
Ming Can terbang keudara dan berkata dengan menambahkan energi dalamnya kedalam suara yang diucapkan.
"Mulai sekarang, siapapun yang membuat masalah dengan keluarga Yu Zhong yang akan menjabat kembali sebagai patriak klan maka akan mendapat masalah dari kami!"
Setelah berkata seperti itu, Ming Can mengeluarkan tekanan kekuatan Raja tingkat 1 yang dia miliki.
Orang-orang di sekitar kediaman klan Yu, menjadi tertekan akibat tekanan yang dikeluarkan oleh Ming Can dari udara.
Namun itu hanya sesaat saja, sebelum Ming Can menghilangkan kembali aura penekanan yang dia keluarkan barusan.
Xingtian selesai dengan kegiatannya, lalu menghampiri Yu Zhong dan keluarganya.
"Semua sudah selesai, mulai sekarang dirimu bisa menjabat kembali posisi patriak klan" ucap Xingtian.
"Terimakasih atas bantuan kalian berdua" ucap Yu Zhong sekeluarga sambil menangkupkan lengan mereka sambil sedikit membungkuk sebagai rasa penghormatan.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku melakukan ini sebagai bantuan seorang teman dan sekaligus jasa yang aku tukar dengan barang sebelumnya" ucap Ming Can.
"Jika begitu, bagaimana kalu kita masuk dan aku akan menjamu kalian" ucap Yu Zhong.
Mereka masuk kedalam dan segera melakukan rapat dadakan, dan semua pembahasan rapat berjalan dengan lancar.
Selesai rapat langsung kegiatan perjamuan dilakukan bagi Ming Can dengan Xingtian.
.......
Setelah melakukan kegiatan perjamuan di kediaman Yu, Xingtian dengan Ming Can sudah keluar dari kota dan berada di hutan sedang menempuh perjalanan menuju utara.
Ming Can menghentikan langkahnya dan begitupun dengan Xingtian.
"Kita lakukan kontrak darah terlebih dahulu" ucap Ming Can.
"Baik" jawab Xingtian sambil melukai ujung jarinya sedikit dan memberikan sedikit darahnya pada Ming Can.
Ming Can menerima darah Xingtian dan melakukan sebuah rapalan mantra untuk menjalin kontrak darah antara dirinya dan Xingtian yang akan berperan sebagai bawahan setia dalam pengaruh kontrak darah.
Setelah rapalan mantra selesai dibaca, darah milik Xingtian nampak bersinar sejenak sebelum akhirnya melayang dan masuk kedahi Xingtian membentuk sebuah segel tato.
Kemudian segel tato menghilang dari bagian dahi Xingtian.
"Sekarang kau akan tahu apa artinya jika dirimu berkhianat" ucap Ming Can.
"Saya mengerti, tuan" jawab Xingtian hormat.
"Sekarang adakah yang ingin kau tanyakan?" tanya Ming Can.
"Apakah saya masih bisa mendapat kenaikan tingkat kultivasi?" tanya Xingtian berharap.
"Tentu, aku akan buatkan sebuah pill untukmu nanti yang bisa membantu proses penerobosan kultivasi dirimu" ucap Ming Can.
"Kalau begitu saya akan berusaha melakukan segala perintah anda dengan semaksimal mungkin agar layak mendapatkan hadiah tersebut" ucap Xingtian sambil memberi hormat dengan sedikit menundukan kepalanya.
"Baiklah, sekarang kita akan mulai menjelajah menuju arah utara sampai menemukan sebuah kegiatan yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari petualangan" ucap Ming Can.
"Saya mengerti" jawab Xingtian.
Ming Can dengan Xingtian bergerak menuju arah utara dengan terbang cukup cepat.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Sekte Tengku?" tanya Ming Can.
"Huft.....semua itu barawal dari sebuah perebutan kunci" ucap Xingtian.
"Kunci seperti apa itu yang bisa membuat kehancuran pada sebuah sekte tingkat tinggi begitu?" tanya Ming Can.
"Setiap lima tahun sekali biasanya ada sebuah perburuan dilakukan oleh setiap lima sekte besar yang ada di kerajaan Yu, dan yang dikirim adalah para generasi muda yang menjajikan"
"Dan setelah kejadian dari perburuan tersebut berakhir, tersebar kabar bahwa murid perguruan Sekte Tengku kami mendapat sebuah kunci menuju Alam Pelangi" jelas Xingtian.
"Jadi kalian diserang sampai dimusnahkan?" ucap Ming Can menebak.
"Begitulah" jawab Xingtian.
"Namun apakah benar bahwa murid perguruanmu mendapatkan kunci tersebut?" tanya Ming Can memastikan.
"Kami semua tidak tahu, sebab semua murid yang dikirim dalam perburuan waktu itu semuanya mengaku tidak memiliki kunci yang dimaksudkan tersebut" ucap Xingtian.
"Jadi kalian hanya dijadikan kambing hitam sepertinya" ucap Ming Can.
"Kemungkinan besar begitu, dan setelah Sekte Tengku berakhir. Kami yang selamat bersembunyi di tempat-tempat terpencil" ucap Xingtian.
"Aku perlu membuatkan 7 permata senjata dan zirah, dan aku perlu bahan obat juga untuk mereka sekaligus untuk Xingtian" gumam Ming Can dalam benaknya.
"Xingtian apakah kau mempunyai kenalan seorang penempa?" tanya Ming Can.
"Saya kebetulan mempunyai seorang teman yang sama-sama seorang diaken di sekte tengku dulu, dia merupakan ahli pandai besi dan tempa" ucap Xingtian.
"Tunjuk jalan" ucap Ming Can.
"Baik" jawab Xingtian.
Mereka berdua pergi menuju sebuah kota yang arahnya berada di barat dan bukan di utara seperti arah yang mereka tuju sebelumnya.
Kota tersebut berjarak cukup jauh dari lokasi mereka berdua sekarang ini, dan menurut perkataan Xingtian perlu waktu tempuh sekitar satu hari penuh untuk sampai di kota tujuan.
Dalam perjalanan tidak ada percakapan diantara keduanya, mereka hanya bergerak saja dan tanpa adanya pembicaraan yang diobrolkan satu sama lainnya.
Saat sedang bergerak menuju kota tujuan, terdengar sebuah ledakan keras didekat keberadaan mereka berdua.
Boom!
Ming Can dengan Xingtian segera berhenti dan saling tatap.
"Ayo kita periksa" ucap Ming Can sambil bergerak menuju lokasi sumber ledakan yang terdengar barusan.
Xingtian hanya mengikuti saja dari belakang dengan patuh tanpa mengeluh dan tanpa berani membantah sama sekali atas keputusan yang diambil Ming Can sebagai tuannya.
.......
Akhirnya mereka berdua sudah tiba di lokasi yang sempat menjadi tempat ledakan sebelumnya yang begitu keras terdengar oleh mereka berdua.
"Kenapa tempatnya kosong?" tanya Ming Can heran.
"Tapi saya merasakan jejak aura dari dua orang yang belum lama bertarung disini" ucap Xingtian.
"Bagaimana kalau kita ikuti?" tanya Xingtian menyarankan.
"Ayo" jawab Ming Can.
Mereka berdua kembali pergi menuju arah sebelumnya, dan dapat terlihat ada dua orang sedang berada dihadapan mata mereka.
Namun sepertinya dalam kondisi yang tidak biasa.
Karena salah satu diantara keduanya nampak terbaring diatas tanah dalam keadaan terluka, sedangkan satu orang lagi tersenyum menjijikan sambil menjilati bibirnya.
"Tubuhmu akan jadi mainanku sekarang" ucap orang yang tersenyum menjijikan tersebut.
Sedangkan si wanita yang terkapar diatas tanah tersebut nampak memiliki ekspresi buruk dan kesal "dasar pria mesum!"
"Ayolah, aku sudah menahannya untuk waktu yang lama demi bisa mendapatkan tubuhmu" ucap pria yang masih memasang senyum menjijikan tersebut.
"Tuan itu teman saya" ucap Xingtian.
"Tolong dia" jawab Ming Can.
"Namun sepertinya saya butuh bantuan anda" jawab Xingtian.
"Baiklah ayo" ucap Ming Can.
Swush.
Boom!
Tepat pada saat pria menjijikan tersebut hendak menyentuh tubuh wanita tersebut, Ming Can dengan Xingtian segera datang dan menyerang pria dengan wajah menjijikan tersebut.
Pria menjijikan tersebut menghindar kebelakang untuk bisa kabur dari serangan Xingtian dan Ming Can.
Setelah asap mengepul menghilang, terlihat Ming Can dengan Xingtian sedang menatap pria menjijikan tersebut yang sedang merasa marah karena kesenangannya di ganggu.
"Sialan! Kalian pengganggu datang darimana" ucap pria menjijikan tersebut.
"Jangan banyak bicara" ucap Ming Can sambil melangkah kedepan.
"Baik" jawab Xingtian.
Swush!
Trang!
Tring!
Boom!
Baam!
Tring!
Trang!
Adu keterampilan bertarung segera terjadi antara ketiganya, Ming Can dengan Xingtian harus bekerja sama demi mengalahkan satu orang pria ditahap yang lebih tinggi dari mereka sekarang ini.
Xingtian menyerang dari samping kanan dengan teknik tinju miliknya, sedangkan Ming Can menyerang dari sebelah depan dengan pedangnya.
Namun begitu pria tersebut menyadari bahaya datang tepat didepan matanya kini, kemudian dia mengeluarkan sebuah teknik pertahanan miliknya.
Tubuh Batu.
Seketika tubuh pria tersebut berubah menjadi keras bahkan lebih dari batu sebenarnya, membuat serangan bersama dari Xingtian dengan Ming Can terpatahkan.
Tapi Ming Can tidak menyerah sampai disitu saja, melainkan datang dari belakang dengan memberikan sebuah serangan 'Tebasan Sepuluh Arah'
Pria tersebut tidak menyangka akan datang serangan begitu, saat dirinya dalam mode bertahan seperti sekarang.
Dimana serangan tersebut mengarah pada titik vital di tubuh pria tersebut.
Slash!
Sepuluh tebasan mengenai tubuh pria tersebut dengan bersamaan, sehingga akhirnya pertandingan berkahir dengan kemenangan di pihak Ming Can dengan Xingtian.
"Walau serangan kami barusan berhasil kau tahan, namun jangan anggap musuhmu akan berhenti menyerang setelah gagal menyerang sekali" ucap Ming Can.
Segera setelah membereskan pria tersebut, keduanya menghampiri wanita sebelumnya yang merupakan teman Xingtian.
"Liuren, bagaimana kondisi dirimu?" tanya Xingtian.
"Aku terluka cukup parah" jawabnya.
"Makan ini" ucap Ming Can sambil memberikan sebuah pill yang sama dengan yang diberikan pada 7 permata waktu itu di reruntuhan lima elemen saat mereka dalam keadaan terluka.
"Terimakasih" jawabnya sambil menerima pill pemberian Ming Can dan mulai mengkonsumsi pill pemberian Ming Can barusan.
Setelah proses penyerapan pill selama satu batang dupa berlalu, Liuren membuka matanya dan berdiri menatap Xingtian dengan Ming Can secara bergantian.
"Terimakasih atas pill hebatnya anak muda" ucap Liuren.
"Sama-sama, kita cari tempat lain untuk berbicara" jawab Ming Can.
"Baiklah, mari kerumahku" ucap Liuren.
Akhirnya Ming Can dengan Xingtian mengikuti Liuren menuju kota bernama Pelangi.
.......
Saat ini Ming Can dengan Xingtian sedang berada dirumah Liuren dan duduk tenang sambil mengobrol dengan ditemani teh hangat yang nikmat.
"Saudara Xingtian, kenapa bisa disana sebelumnya?" tanya Liuren bertanya pada Xingtian.
"Aku hanya membutuhkan bantuanmu sebagai pandai besi" jawab Xingtian.
"Apa yang ingin kau tempa?" tanya Liuren.
"Bukan aku, tapi tuanku" jawab Xingtian menunjuk kearah Ming Can.
"Tuan?" bingung Liuren atas perkataan Xingtian barusan yang dirinya dengar.
"Benar, aku mengikuti dirinya mulai dari sekarang" jawab Xingtian.
"Apa yang terjadi? Dan kenapa bisa?" tanya Liuren makin bingung.
"Karena aku ingin saja berpetualang dengan generasi muda yang berbakat sepertinya, serta aku berharap bisa dapat bantuan darinya untuk menaikan tingkat kultivasiku" jawab Xingtian jujur atas pertanyaan dari liuren barusan.
Bersabung.......
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang
Makasih.