Supreme Cultivation

Supreme Cultivation
Sc.38



Mu Haiji dengan Ming Can berjalan mendekati peti mati tersebut, dan ketika berada didekat peti mati itu mereka membuka penutup peti namun tidak bisa.


"Kenapa tidak bisa?" ucap Ming Can.


"Pasti membutuhkan suatu mekanisme yang khusus untuk membuka peti ini" jawab Mu Haiji.


"Pasti ada sesuatu catatan atau info yang ditinggalkan disekitaran sini" ucap Ming Can.


Mu Haiji dan Ming Can berkeliling di area sekitar untuk mencari sesuatu informasi tentang peti tersebut.


Sampai Ming Can menemukan sebuah batu pada dinding yang menonjol dibandingkan yang lainnya.


Ming Can menekan batu tersebut sampai akhirnya tertekan kedalam, dan mulai terasa sebuah getaran.


Mu Haiji segera menghampiri Ming Can.


Mereka berdua melihat kearh dinding yang perlahan-lahan terangkat keatas dan membuka sebuah lorong atau jalan lainnya.


"Apakah kita harus kesana?" tanya Ming Can.


"Sepertinya begitu" jawab Mu Haiji.


"Tapi bagaimana dengan peti mati disana?" tanya Ming Can.


"Kita biarkan saja dulu, lagipula tidak bisa dibuka" jawab Mu Haiji.


"Baiklah" jawab Ming Can.


Mereka masuk kedalam lorong jalan gelap tersebut, dan tidak mendapati jebakan atau semacamnya yang berbahaya.


Malah ketika mereka sampai disebuah tempat cukup luas, mereka berdua menemukan sebuah gundukan harta yang bercampur dengan gulungan teknik dan persenjataan lainnya.


"Kita sepertinya benar-benar beruntung" ucap Mu Haiji.


"Namun kita suda kaya, apalagi dengan koin-koin emas yang ditinggalkanmu waktu itu. Jadi bagaimana jika kita bagikan saja koin-koin emas ini?" usul Ming Can.


"Aku tidak masalah" ucap Mu Haiji.


Segera Ming Can menyimpan semua harta disana dan dimasukan kedalam cincin spatial mereka.


"Sekarang kita kembali?" tanya Ming Can.


"Sebelum itu coba kau cari didalam gundukan harta sebelumnya apakah ada sebuah catatan atau semacamnya yang ditinggalkan" ucap Mu Haiji.


"Baiklah" jawab Ming Can.


Kemudian Ming Can melakukan pencarian didalam cincin spatial nya seperti apa yang diminta sang guru Mu Haiji.


Setelah mencari selama beberapa saat, Ming Can menemukan sebuah catatan yang terlihat sudah usang dan mengeluarkannya dari dalam cincin spatial.


"Dapat" ucap Ming Can setelah mengeluarkan sebuah catatan yang terlihat agak usang dari dalam cincin spatial.


"Coba kau baca" ucap Mu Haiji.


"Baik" jawab Ming Can.


"Aku Shin Tae, seorang kultivator tahap Venerate 9"


"Aku juga dikenal sebagai Raja Obat Beracun, karena selain sebagai alkemis tingkat tinggi aku juga seorang kultivator racun yang dikenal kejam pada musuh-musuhnya"


"Aku bisa berakhir disini karena tidak sengaja mengaktifkan portal teleportasi yang mengirimku kesini"


"Sialnya lima orang itu juga mengikuti diriku sampai kesini dan terus mencari diriku sampai-sampai aku pada akhirnya ditemukan dan kami saling bertarung"


"Walau aku berhasil membuat mereka terluka parah, namun aku sendiri mengalami kondisi yang tidak baik sampai akhirnya kami sama-sama mundur"


"Dan aku disini akhirnya memutuskan untuk tinggal sampai mengalami kematian karena luka yang kualami sangat parah"


Selesai dengan membaca catatan tersebut kini Ming Can melirik kearah Mu Haiji.


"Kau kenal raja obat beracun ini guru?" tanya Ming Can.


"Iya, aku dengannya pernah melakukan sebuah peracikan pill bersama" ucap Mu Haiji.


"Jadi sudah bisa dipastikan bahwa peti mati sebelumnya adalah peti mati raja obat beracun" ucap Ming Can.


"Benar" jawab Mu Haiji.


"Lalu apa yang kita lakukan sekarang ini?" tanya Ming Can.


"Kita coba periksa kembali peti mati sebelumnya" ucap Mu Haiji.


....


....


....


....


Mereka berdua sudah sampai kembali dilokasi peti mati sang raja obat beracun.


"Sekarang apa?" tanya Ming Can.


"Kurasa kita bisa membawa peti mati milik sang raja obat beracun" ucap Mu Haiji.


"Kenapa?" tanya Ming Can.


"Dulu ketika kami bertemu, kami pernah berbicara mengenai kematian" ucap Mu Haiji.


"Jadi?" tanya Ming Can.


"Dia berkata jika dirinya mati didekatku, tolong kuburkan jasadku didekat rumahku" ucap Mu Haiji.


"Hah?!" ucap Ming Can tidak percaya.


"Hehehe....itu adalah hal lucu bukan, maka dari itu aku akan membawanya masuk kedalam kediaman ilusi" ucap Mu Haiji sambil pergi dari samping Ming Can sambil membawa peti sang Raja Obat Beracun.


Ming Can yang ditinggalkan sendirian merasa bingung.


"Guru sialan, kenapa pergi seenaknya begitu saja tanpa mengatakan apapun" ucap Ming Can menggerutu.


Akhirnya Ming Can pergi keluar dari dalam ruangan bawah tanah tersebut dan kebetulan dia bertemu dengan sebuah pertarungan.


"Aku akan lihat siapa mereka yang sedang bertarung" ucap Ming Can.


Segera Ming Can pergi menuju lokasi pertempuran itu berlangsung.


Ketika sampai dilokasi pertarungan, Ming Can dapat melihat bahwa yang sedang bertarung adalah Jin Shu dan kelompoknya.


"Jin Shu, pada akhirnya aku bertemu kembali dengan pria itu" ucap Ming Can sambil mengeluarkan sebuah serangan tebasan sepuluh arah.


Tebasan sepuluh arah!


Sebuah serangan kilatan cahaya yang dikeluarkan dari gerakan menebas sebuah pedang, terlihat menyerang kelompok yang menjadi lawan dari kelompok Jin Shu.


Swush!


Swush!


Swush!


.....


Mereka yang sedang bertarung menjadi terkaget dan saling menghindari serangan yang datang, namun yang menjadi target serangan Ming Can begitu tidak beruntung harus diberikan sebuah serangan tebasan sepuluh arah seperti itu.


Boom!


Boom!


Boom!


....


Jin Shu dan kelompoknya yang melihat kejadian tersebut menjadi tertegun, dan berpikir "siapa yang telah membantu mereka barusan"


Tiba-tiba Ming Can datang dan menghampiri Jin Shu serta kelompoknya.


"Hai" sapa Ming Can.


Jin Shu terkaget, begitupun yang lainnya karena kedatangan Ming Can.


"Ming, akhirnya aku bertemu denganmu" ucap Jin Shu senang.


"Ya" jawab Ming Can.


"Siapa dia Jin Shu?" tanya seorang wanita cantik dengan paras bak dewi dan rambut merah sepunggung selaras dengan warna pupil matanya yang merah.


"Perkenalkan, dia adalah Ming" ucap Jin Shu.


"Salan kenal aku Gushu" ucap seorang pria dengan badan berotot dan pedang besar di lengannya.


"Aku Zi Han" ucap wanita sebelumnya.


"Salam kenal, aku Ming" ucap Ming Can.


"Aku bertemu dengan Ming saat sedang menyaksikan pertarungan duel antara dua orang bodoh itu yang sedang memperebutkan dirimu Zi Han" ucap Jin Shu.


"Begitu, lagipula dua orang bodoh itu kenapa selalu saja dekat-dekat denganku. Padahal aku sendiri tidak mau berada didekat dua orang bodoh dan mesum itu" ucap Zi Han.


"Jadi yang mengeluarkan serangan barusan adalah saudara Ming?" tebak Gushu.


"Benar, akulah orang yang mengeluarkan serangan barusan untuk menolong kalian dari lima orang sebelumnya" jawab Ming Can.


"Hebat!" seru ketiga orang tersebut dengan antusias yang tinggi.


"Hanya teknik kecil, lalu kenapa kalian bisa sampai bertarung?" tanya Ming Can.


"Itu karena mereka berniat merampas harta yang kami dapatkan" ucap Zi Han.


"Harta seperti apa?" tanya Ming Can penasaran.


"Aku dapat pedang" ucap Jin Shu.


"Aku dapat pedang besar ini" ucap Gushu.


"Kalau aku dapat artefak pertahanan ini" ucap Zi Han sambil menunjukan sebuah liontin yang terpasang di kalung lehernya.


"Begitu" jawab Ming Can.


"Karena mereka sudah dibereskan, sekarang kita lebih baik pergi dari sini" ucap Jin Shu.


"Kau mau ikut dengan kami Ming?" tanya Zi Han.


"Tentu" jawab Ming Can.


"Baiklah, mari kita pergi" ucap Gushu.


Namun sebelum pergi dari sana, Ming Can mengambil semua cincin spatial milik kelima orang yang dirinya ledakan dengan teknik tebasan sepuluh arah sebelumnya.


...


Mereka berempat sekarang tengah berada di tempat reruntuhan, namun rupanya buka hanya mereka saja yang berada direruntuhan tersebut.


"Sepertinya ramai sekali disini" ucap Gushu.


"Benar, dan ini akan menjadi merepotkan jika sampai terjadi pertaraungan" ucap Ming Can menilai kondisi dan situasi mereka.


"Lebih baik kita diam-diam saja, demi mencari ketenangan" usul Zi Han.


"Itu lebih baik" jawab Jin Shu.


Reruntuhan ini dapat Ming Can nilai sebagai tempat yang berkemungkinan paling berpotensi sebagai tempat harta karun dalam jumlah banyak di reruntuhan pelangi.


Ming Can kemudian membawa kelompoknya masuk kedalam bangunan reruntuhan, sampai mereka tiba dalam sebuah situasi yang mengharuskan mereka memilih arah mana yang harus diambil.


"Baiklah, karena jalan bercabang maka harus kita pilih untuk melewati jalur mana" ucap Jin Shu.


Ming Can dengan inisiatif bertanya "apa yang kalian cari?"


Jin Shu dan dua lainnya saling tatap sebelum mereka menjawab pertanyaan dari Ming Can.


"Aku pengalaman" ucap Jin Shu.


"Aku sudah dapat artefak, tapi kalau misalkan dapat lagi artefak atau senjata itu bukanlah hal buruk" jawab Zi Han.


"Kalau aku sudah dapat pedang besar ini, jadi sudah cukup" jawab Gushu.


"Baiklah" jawab Ming Can.


Dengan menggunakan triknya, Ming Can akhirnya bisa menemukan jalur mana yang harus ditempuh dari tiga jalur yang ada dihadapan mereka.


"Kalian percaya padaku?" tanya Ming Can.


"Tentu" jawab ketiganya.


"Kalau begitu ikuti aku untuk mengambil jalur sebelah kanan" ucap Ming Can sambil pergi berjalan didepan dan memimpin jalan.


Mereka bertiga hanya diam dan mengikuti saja dengan patuh, hingga mereka tiba disebuah ruangan yang mirip seperti altar.


"Ruangan apa ini?" tanya Jin Shu.


"Kalau aku tidak salah ingat, ini adalah altar pemanggilan hewan kontrak" ucap Ming Can.


"Jadi?" tanya Zi Han.


"Coba kalian berdiri diatas altar satu persatu sambil mengalirkan energi kalian pada altar tersebut, maka akan ada hewan kontrak yang dengan setia dan patuh selalu mengikuti kalian dan akan selalu melaksanakan keinginan kalian" ucap Ming Can.


"Kalau begitu aku duluan" ucap Zi Han sambil melompat keatas altar.


Kemudian Zi Han melakukan seperti apa yang diarahkan oleh Ming Can sebelumnya.


Benar saja, altar tersebut beraksi dengan sebuh getaran dan tak lama bersinar terang sampai dari atas altar memunculkan sebuah lingkaran hitam yang perlahan-lahan keluar seekor burung biru dengan disekelilingnya dikeliling oleh petir biru.


Zi Han sangat senang dengan apa yang dia dapatkan, kemudian lanjutlah orang berikutnya untuk naik keatas altar.


Ji Shan mendapatkan seekor Ular Hitam.


Gushu mendapatakan seekor gorila merah.


Sekarang tibalah saatnya giliran Ming Can melakukan pemanggilannya.


Bersambung......


Jangan lupa


Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.


Terimakasih.