
Tiga hari sudah berlalu semenjak Ming Can masuk kedalam sekte sebagai murid pribadi Zhantian, kabar mengenai dirinya menjadi murid Zhantian sudah menyebar luas di penjuru sekte Awan Laut.
Saat ini Ming Can sedang berada dihalaman belakang kediaman Zhantian, dirinya sedang melakukan latihan dibawah bimbingan Zhantian dengan serius.
"Sekarang sudahi kultivasimu, dan pergilah menjalankan misi" perintah Zhantian.
"Apakah ada permintaan khusus yang aku harus jalankan saat mengambil misi?" tanya Ming Can.
"Tidak ada, namun aku sarankan untuk mengambil misi yang diharuskan pergi membunuh sekelompok laba-laba hitam pada sebuah pertambangan batu permata delima" ucap Zhantian.
"Baiklah, aku mengerti" jawab Ming Can.
Saat Ming Can hendak pergi menuju aula misi, datang Meiyuri mendekati Ming Can dengan Zhantian.
"Ming, tunggu dulu" ucap Meiyuri memanggil Ming Can dari arah kediaman.
Ming Can berhenti dan membalikan badan.
Meiyuri sudah berada dihadapan Ming Can dan memeluknya.
"Aku harus pergi dulu" ucap Ming Can.
"Aku tahu, kembalilah dengan selamat walau gagal dalam menjalankan misimu" jawab Meiyuri.
"Kalau aku tidak kembali bagaimana?" tanya Ming Can.
"Aku akan memaki-maki dirimu, mengutukmu dan menyumpahi dirimu walau kau sudah tidak ada. Dan tidak akan pernah memaafkan dirimu" ucap Meiyuri.
"Baiklah, kalau begitu jadinya aku harus pulang dengan selamat kemari" ucap Ming Can.
"Aku akan menunggu kedatanganmu didalam kamarmu, sampai dirimu kembali pulang kepelukanku dalam keadaan sehat dan baik-baik saja tanpa kekurangan sesuatu apapun itu" ucap Meiyuri.
"Baiklah, sekarang lepaskan pelukannya" ucap Ming Can.
Meiyuri melepas pelukannya dan meminta sebuah kecupan.
"Cium" pinta Meiyuri.
Cup.
Ming Can mengecup singkat bibir Meiyuri sebelum akhirnya memilih untuk pergi dari sana menuju aula misi.
....
Sesampainya di aula misi, Ming Can pergi mengambil selebaran misi pada sebuah papan yang menempel didinding.
Kemudian membawa selebaran tersebut menuju orang yang bertugas dibagian pencatatan dan mengurusi aula misi.
"Aku ambil misi ini" ucap Ming Can sambil menyerahkan selebaran yang dia ambil dari papan informasi pada orang yang bertugas dibagian pencatatan di aula misi.
"Misi kelas 2, menghabisi laba-laba hitam di tambang batu permata delima" ucap orang dibagian pencatatan.
"Benar" jawab Ming Can.
"Baiklah, mohon ditunggu sebentar" ucap orang tersebut sambil melakukan sesuatu terlebih dahulu.
Setelah selesai, orang tersebut memberikan Ming Can sebuah pesan "waktu pengerjaan misi adalah 1 bulan, dan perlu ada bukti yang kuat untuk menyatakan dirimu telah menyelesaikan misi saat kembali"
"Aku mengerti" jawab Ming Can.
Setelah selesai urusan di aula misi, Ming Can sudah keluar dari area sekte Awan Laut sekarang ini.
"Dari sekte menuju arah barat, perlua melalui 2 kota dengan satu ngarai sebelum akhirnya sampai di lokasi tujuan"
Ming Can menempuh perjalanan dengan cara terbang diudara, Ming Can terbang dengan kecepatan sedang.
....
Saat masih didalam hutan, dan hampir sampai di kota pertama.
Ming Can mendapati sebuah pertempuran yang terjadi didalam hutan tersebut.
Ming Can tidak langsung menolong para korban dari kawanan kelompok bandit hutan, melainkan hanya diam menyaksikan jalannya pertempuran saja terlebih dahulu.
"4 orang tahap Langit 9 harus berhadapan dengan 10 orang kultivator tahap langit 8"
"Ini adalah situasi yang kurang baik, namun siapa yang mereka coba lindungi didalam kereta tersebut?"
Tebasan sepuluh arah!
Slash!
Semua bandit terbunuh dengan satu serangan oleh Ming Can yang duduk diatas pohon sedari tadi sambil menonton jalannya pertempuran yang terjadi.
Keempat pengawal yang melindungi kereta kuda melirik kearah sekitar, untuk menemukan siapa pelaku yang berhasil membunuh sepuluh orang bandit barusan dengan mudah.
"Diatas" ucap salah satu pengawal.
Keempat pengawal tersebut secara serempak menolehkan kepalanya kearah atas.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Ming Can.
Ming Can turun dari atas dahan pohon dan berdiri dihadapan keempat orang tersebut.
"Kami baik-baik saja tuan muda, terimakasih atas pertolongannya" jawab salah satu pengawal dengan hormat mewakili tiga orang lainnya.
"Baguslah kalau begitu, siapa yang coba kalian lindungi didalam kereta itu?" tanya Ming Can.
Kemudian keluarlah seorang pria paruh baya dari dalam kereta kuda tersebut, dan menghampiri Ming Can sang penyelamatnya.
"Terimakasih tuan muda atas bantuan yang anda berikan sebelumnya" ucap pria paruh baya tersebut.
"Bukan masalah, anda ini siapa?" tanya Ming Can.
"Perkenalkan saya adalah Chiso, seorang sodagar yang hendak pergi pulang ke rumah di kota Batu Laut" ucapnya.
"Kalau begitu kenalkan, aku adalah Ming"
"Kebetulan kita satu arah menuju kota yang sama, aku bisa membantumu sebagai pengawal agar dapat sampai kesana dengan selamat" ucap Ming Can pada Chiso.
"Terimakasih, atas kesediaannya"
"Kalau begitu silahkan anda masuk kedalam kereta bersama saya" ucap Chiso.
Ming Can pada akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kota Batu Laut, bersama dengan Chiso didalam kereta sambil mengobrol bersama.
Didalam kereta.
"Jadi tuan Chiso, apakah anda bisa memberikan sedikit informasi pada saya mengenai kota Batu Laut?" tanya Ming Can.
"Anda belum pernah kesana?" tanya Chiso.
"Ketiga keluarga hidup dengan damai dan mengurus kota Batu Laut dengan baik, sekaligus pada masyarakat selalu bersikap baik"
"Kota Batu Laut juga kokoh dan tak pernah tersentuh dengan namanya peperangan, serta selalu hidup dalam ketenangan selama yang aku tahu"
"Maka dari itulah dinamai sebagai Kota Batu Laut, yang berarti koko dan tenang seperti air laut"
"Apakah memang sama seperti artinya?" tanya Ming Can.
"Hahaha, kalau masalah kecil selalu ada. Namun hanya dianggap sebagai terjangan air laut yang tidak terlalu berbahaya" ucap Chiso.
"Lalu ada apa lagi di kota Batu Laut?" tanya Ming Can kembali.
"Selain kota yang dikenal karena selalu hidup dengan damai dan tenang, kota Batu Laut terkenal dengan judi batunya"
"Namun, sayang ada sedikit masalah pada pertambangan batu" ucap Chiso.
"Kau adalah salah satu pedagang batu juga bukan?" tebak Ming Can.
"Benar" jawab Chiso jujur.
"Apakah masalah itu?" tanya Ming Can.
"Tambang dikuasai oleh para bandit dan dijadikan markas mereka" ucap Chiso.
"Para bandit sebelumnya pasti merupakan bagian dari mereka bukan?" tebak Ming Can kembali.
"Benar, aku dengan para petinggi kota sebelumnya melakukan sebuah rapat"
"Kami membahas langkah seperti apa yang perlu kita ambil sebagai bentuk tindakan perlawan atas kelakukan para bandit tersebut" jelas Chiso.
"Maka dari itu kau dijadikan target sebelumnya saat dalam perjalanan bukan?" tebak Ming Can kembali.
"Benar" jawab Chiso.
"Dimana letak pertambangan tersebut?" tanya Ming Can.
"Ada disebelah timur dari sini, sekitar beberapa kilometer saja" jawab Chiso menunjukan arah pertambangang yang dimakasudkan oleh Ming Can.
"Aku akan bereskan para bandit tersebut untuk kalian semua" jawab Ming Can.
"Benarkah?" tanya Chiso memastikan.
"Benar, aku akan pergi sekarang" jawab Ming Can yang langsung pergi dari dalam kereta kuda menuju arah yang ditunjukan Chiso.
....
Ming Can sudah tiba dilokasi pertambangan, dirinya dapat melihat sebuah pemukiman yang nampak seperti markas kecil.
"Kalau begitu, selesaikan langsung saja"
Saat Ming Can akan bergerak maju untuk bertindak, dirinya mendapati dua orang tetua yang pernah dirinya temui sebelum ini ketika baru saja sampai di sekte Awan Laut.
"Bukankah dua tetua itu orang yang pertamakali aku temui ketika aku dan yang lainnya sampai di sekte?"
Ming Can kemudian lebih mendekat lagi kearah markas para bandit, sampai dirinya bisa mendengarkan percakapan dua tetua tersebut bersama dengan para bandit disana.
"Tuan, kalian akhirnya suda tiba" ucap salah satu bandit.
Ming Can melihat mereka berdua masuk kedalam perkemahan para bandit, melihat itu Ming Can dengan inisiatif ikut masuk kedalam area perkemahan.
Dengan perlahan bergerak secara diam-diam mengikuti dua orang tetua tersebut.
Sampai mereka tiba di lokasi goa pertambangan.
"Bagaimana keuntungan yang telah kita dapatkan?" tanya salah satu tetua tersebut.
"Semua untung besar tuan" jawab seorang pria yang memiliki kultivasi paling tinggi diantara para bandit disana.
"Bagus, kekayaan kita akhirnya bisa bertambah" ucap sala satu tetua lainnya.
Ming Can mengampil keputusan untuk melumpuhkan mereka semua, dan menangkapnya hidup-hidup.
"Aku akan serahkan kalian kepada sekte untuk dibereskan" ucap Ming Can dalam hati.
Swush!
Ming Can menghilang dari tempatnya berada dan melumpuhkan semua orang dengan mudah, kecuali dua tetua yang berhasil menahan serangan diam-diam dari Ming Can.
"Kau Ming Can" ucap salah satu tetua.
"Benar" jawab Ming Can.
"Sedang apa kau disini?" tanya salah satu tetua yang lainnya.
"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu kepada dua tetua sekalian" ucap Ming Can tidak kalah sengit.
"Kau lebih baik pergi dari sini, sebelum kau mengalami hal tidak baik" ucap salah satu tetua.
"Sudahi omong koson-" ucapan tetua tersebut terhenti karena Ming Can sudah mengurung keduanya didalam lonceng hitam.
Desiran Pembunuh!
Dengan menggunakan desiran pembunuh, Ming Can tidak membunuh keduanya. Melainkan hanya membuat mereka berdua pingsan saja.
Setelah itu teknik lonceng hitam dihilangkan.
Berikutnya Ming Can mengikat mereka semua, dan memilih untuk membawa mereka kembali menuju sekte terlebih dahulu.
Tentu saja Ming Can membawa banyak bukti keterlibatan dua tetua itu dengan para bandit yang menjalankan bisnis ilegal tersebut.
Kebetulan ada beberapa gerobak kuda yang berukuran besar disana, Ming Can kemudian memasuka mereka semua kedalam gerbong kereta berupa sel tahanan tersebut.
Setelah mengangkut mereka kedalam gerbong tahanan, Ming Can mengendalikan semua kuda yang menarik gerbong menuju kearah sekte.
Dan menggunakan pasukan bayangan yang dirinya keluarkan untuk dijadikan seorang kusir.
Waktu perjalanan yang dibutuhkan Ming Can untuk sampai ke sekte dengan kereta kuda seperti ini, yaitu sekitar 2 hari.
"Aku rasa sekte Awan Laut juga memiliki masalah internalnya sendiri, namun jarang atau bahkan sulit diungkapkan oleh orang lain yang ada didalam sekte"
"Namun mereka berdua ini akan aku bereskan" ucap Ming Can didalam hati sambil mengendalikan kereta kuda yang ditarik seekor kuda.
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.