
Ming Can menatap kearah Meiyuri dengan lembut dan kemudian mengusap kepalanya perlahan dengan penuh kasih sayang.
"Ming...." panggil Meiyuri.
"Iya?" jawab Ming Can lembut dan menghentikan elusan kepalanya.
"Ada bau wanita di bajumu, siapa hiks...hiks..." Meiyuri malah menangis dan membuat Ming Can kaget.
Segera Ming Can menarik Meiyuri kedalam pelukannya sambil memberikan elusan lembut pada bagian punggungnya.
"Itu hanya pelayan yang aku katakan sebelumnya" ucap Ming Can.
"Bohong!" jawab Meiyuri sambil terus menangis dan memeluk erat Ming Can.
"Gak percaya nih?" tanya Ming Can.
"Buktiin!" ucp Meiyuri.
Swush!
Ming Can membawa Meiyuri masuk kedalam kediaman ilusi.
"Ming Can, kenapa kau kesini lagi?" tanya Mu Haiji.
"Ada urusan sebentar" ucap Ming Can.
"7 Permata dan Liuren kalian semua temui aku sekarang dihalaman depan" ucap Ming Can mengirim pesan telepati pada mereka.
Begitu mendapatkan pesan tersebut, 7 permata dengan Liuren segera datang dengan segera menemui sang tuan muda di halaman depan sesuai yang diminta.
"Kami disini tuan" ucap 7 permata dan Liuren bersamaan sambil memberikan hormatnya.
"Mei, lihatlah" ucap Ming Can.
Meiyuri melepaskan pelukannya pada tubuh Ming Can, dan berbalik badan untuk melihat apa yang coba Ming Can tunjukan pada dirinya.
"Siapa mereka, dan dimana kita sekarang ini?" tanya Meiyuri bingung.
"Mereka para perempuan yang merupakan pelayanku, sedangkan pria disana adalah guruku juga" jawab Ming Can.
Tatapan mata Meiyuri menjadi tegas saat mendengar perkataan dari Ming Can barusan soal siapa para wanita cantik ini.
"Kalian dengar ya, Ming Can adalah kekasihku dan aku melarang kalian sebagai pelayannya untuk melakukan hal diluar batas wajar, ingat itu!!" tegas Meiyuri.
!
7 permata dengan Liuren kaget dengan ucapan wanita yang dipanggil Mei oleh tuannya tersebut.
"Kenapa begitu, bukankah selaku bawahan kami bebas melayani tuan kami, bahkan jika harus menyerahkan tubuh kami?" sahut Liuren.
"Itu benar" timpal 7 permata.
"Itu mungkin berlaku pada tuan dan bawahan lainnya, namun tidak dengan Ming Can kekasihku" ucap Meiyuri dengan tegas memperingati.
"Huh, kita lihat saja apakah kau bisa menghentikan kami atau tidak" sahut Zu.
"Kalian cukup berdebatnya, segera kembalilah berlatih 7 permata dan kau Liuren" perintah Ming Can.
"Baik tuan" jawab 7 permata dan Liuren.
Setelah itu mereka memberi hormat terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Jadi apakah ini yang namanya masalah dalam hubungan cinta?" tanya Mu Haiji.
"Sudahlah guru jangan jahil, aku yakin dengan pengalaman hidupmu yang panjang itu, sudah banyak hal yang lebih menarik dari ini yang pernah dirimu lihat sebelumnya bukan?" tanya Ming Can.
"Hahahah.....kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian berdua lagi, silahkan teruskan saja urusan kalian berdua" ucap Mu Haiji sambil melenggang pergi dari sana.
Setelah kepergian Mu Haiji, Ming Can menatap Meiyuri yang menatap dirinya juga.
"Percaya sekarang?" tanya Ming Can.
"Pulang" ucap Meiyuri.
"Baiklah, sini pegang tanganku" ucap Ming Can.
Grep.
Meiyuri memeluk erat tubuh Ming Can, kemudian segera mereka menghilang dari kediaman ilusi dan muncul didalam kediaman Zhantian kembali pada tempat yang sama seperti sebelumnya mereka berada disana.
...
Meiyuri dengan Ming Can kini masih dalam posisi berpelukan, walau sudah kembali.
"Mei, masih marah?" tanya Ming Can.
"Iya" jawabnya.
"Kan sudah dijelaskan barusan" jawab Ming Can.
"Ini amarah baru, dan itu muncul saat melihat 8 wanita cantik yang merupakan para pelayanmu itu" jawab Meiyuri.
"Huft....aku boleh minta satu hal?" tanya Ming Can.
"Soal tempat barusan dan apapun yang terjadi sebelumnya disana tadi, jangan ceritakan pada siapapun itu" ucap Ming Can.
"Iya" jawab Meiyuri masih dalam posisi memeluk Ming Can.
"Gendong" pinta Meiyuri.
"Gendong?" tanya Ming Can.
"Iya, cepetan" ucap Meiyuri.
"Kemana?" tanya Ming Can sambil mulai menggendong tubuh Meiyuri ala tuan putri.
"Kamar" jawab Meiyuri semangat.
"Hah?" ucap Ming Can tidak percaya.
"Kenapa kaget begitu, emangnya gak mau?!" tanya Meiyuri sambil mengigit telingan Ming Can tapi tidak kuat.
"Aw...ok...ok" jawab Ming Can.
Setelah itu Ming Can membawa Meiyuri kedalam kamar.
Sampai didalam kamar, Ming Can menurunkan Meiyuri diatas tempat tidur.
"Jangan pergi" ucap Meiyuri.
"Kenapa?" tanya Ming Can.
"Temenin tidur" pinta Meiyuri.
"Tidur aja ok?" tanya Ming Can.
"Iya, cepet sini" ucap Meiyuri.
Akhirnya sore hari itu, Ming Can menemani Meiyuri untuk tidur sesuai permintaannya barusan.
...
Keesokan pagi harinya.
"Mungkin aku akan mendapatkan sebuah teknik keterampilan bertarung yang hebat disana"
Saat sampai di depan pintu masuk perpustakaan, dirinya dihalangi oleh seorang pria paruh baya yang merupakan penjaga perpustakaan dan sekaligus sebagai seorang tetua.
"Token murid" ucap pria paruh baya tersebut.
Ming Can menunjukan token pemberian Zhantian pada pria paruh baya tersebut yang membuat pria paruh baya tersebut terkejut.
"Kau rupanya murid bernama Ming Can itu" ucap pria paruh baya tersebut.
"Benar tetua, murid ini bernama Ming Can" jawabnya.
"Kau boleh masuk sampai lantai 7, sedangkan lantai 8 itu dilarang masuk oleh siapapun sebab itu rahasia" ucap tetua tersebut.
"Apakah tidak masalah seorang murid luar seperti saya masuk kedalam lantai tingkat tinggi begitu tetua?" tanya Ming Can.
"Jika ada masalah, aku akan langsung turun tangan untuk menyelesaikannya secara sendiri" jawab tetua tersebut.
"Kalau begitu terimakasih atas izinnya, dan junior ini mohon izin masuk" ucap Ming Can.
"Hm" jawab tetua tersebut.
Ming Can sendiri sekarang sudah berjalan masuk kedalam area perpustakaan dan tengah melihat-lihat semua buku yang ada di lantai 1.
Semua buku tersebut tidak Ming Can ambil dan lihat secara satu-satu, melainkan menggunakan sebuah trik khusus untuk mencari sebuah buku yang cocok dengan penggunanya kelak.
Ming Can memejamkan mata dan menajamkan indra spritual dan menenangkan hatinya, kemudian secara perlahan menyebar energi dalamnya dengan halus.
Namun nyatanya tidak ada rasa kecocokan pada setiap buku-buku yang ada didalam rak pada lantai satu.
"Kita coba di lantai berikutnya"
Ming Can terus saja melakukan kegiatan tersebut sampai dirinya mencapai lantai 7 dan berhasil menemukan satu buku yang memiliki kecocokan dengan dirinya menurut teknik yang digunakan barusan.
Ming Can mengambil buku tersebut dan membaca sampul buku tersebut.
Api 'Yang' dan Es 'Yin'
"Nama yang aneh untuk sebuah buku keterampilan bertarung"
Begitulah pikir Ming Can, namun dirinya tetaplah berniat mengambil buku tersebut untuk dirinya.
Setelah selesai dengan pemilihan buku, Ming Can keluar dari dalam perpustakaan dan kembali menuju kediaman Zhantian.
...
Terlihat Zhantian masih setia menunggu kedatangan dirinya ditempat sebelumnya.
Sebelum ini Zhantian meminta pada Ming Can untuk mengambil satu buku keterampilan bertarung yang kemudian akan dirinya pelajari nantinya.
"Sudah selesai?" tanya Zhantian.
"Benar" jawab Ming Can.
"Buku apa yang kau ambil?" tanya Zhantian.
Ming Can memperlihatkan buku apa yang dirinya pilih dan ambil dari perpustakaan untuk dipelajari.
"Api 'Yang' dan Es 'Yin'"
"Kenapa kau mengambil buku teknik dengan nama rumit begitu?" tanya Zhantian.
"Hanya berdasarkan perasaan dan keinginan saja" jawab Ming Can santai.
"Yasudah, sekarng kuberikan waktu satu minggu untuk dirimu berlatih dan mempelajari sekaligus memahami semua gerakan teknik beladiri didalam buku tersebut"
"Tiba saatnya nanti, kau akan bertarung denganku menggunakan keterampilan yang kau dapatkan dari buku tersebut" ucap Zhantian sambil berdiri.
"Jika aku bisa mempeljari semua yang ada didalam buku dengan cepat, apakah yang akan kau berikan padaku guru?" tantang Ming Can.
"Akan kuberikan restu penuh pada hubungan kalian, dan akan kuceritakan siapa Meiyuri sebenarnya" ucap Zhantian sambil berlalu pergi dari sana.
Senyuman terbit dari wajah Ming Can, dan berkata "ini akan mudah"
Segera Ming Can mengambil posisi duduk di gazebo, dan memulai kegiatan membaca buku tersebut untuk proses memahami dan mempelajari semua yang tertulis didalam buku tersebut.
Buku ditangan Ming Can yang sekarang dipegang cukup tebal, namun itu masihlah bukan suatu masalah atau ancaman besar dalam jalan kultivasinya.
Dengan tingkat pemahan yang dirinya miliki sekarang dan juga bakat yang tinggi, maka semua itu bukanlah sebuah masalah.
...
2 batang dupa telah berlalu.....
Ming Can telah selesai membaca dan memahami semuanya yang tertulis didalam buku tersebut, bahkan sudah langsung bisa dirinya pelajari dengan mudahnya sampai tingkatan sempurna.
"Sekarang dimana orang tua itu?" ucap Ming Can.
"Tapi agar bisa lebih kuat lagi dalam menggunakan teknik ini, aku lebih baik menyerap khasiat pill yang pada hari itu diberikan oleh guru Zhantian padaku pemberian dari sekte"
Ming Can berjalan masuk kedalam kediaman, dan menuju kamarnya.
Tapi nyatanya malah ada Meiyuri tengah tertidur diatas kasurnya dengan terlelap.
Ming Can mendekati Meiyuri yang sedang tertidur dan mengecup keningnya sekilas, kemudian menyelimuti tubuh Meiyuri dengan selimut hangat.
"Lebih baik aku menyerap khasiat pill ini dikediaman ilusi saja"
Swush!
Ming Can menghilang dari dalam kamar, dan muncul dihalaman depan kediaman ilusi dengan disambut kyubi dan si naga.
Ming Can menerima sambutan mereka, dan mengangkat tubuh keduanya yang berada dalam mode kecil sambil berjalan kearah kediaman.
"Kau sudah kembali lagi kemari?" tanya Mu Haiji.
"Memangnya tidak boleh ya?" tanya balik Ming Can.
"Bukannya tidak boleh, namun apakah kau diluaran sana tidak ada urusan lain apa?" tanya Mu Haiji.
"Aku kemari untuk menyerap khasiat pill ini terlebih dahulu" ucap Ming Can sambil menunjukan pill yang pernah diberikan oleh Zhantian pada dirinya pemberian dari sekte Awan Laut.
"Pill 9 pola matahari"
"Itu sangat bagus untuk meningkatkan kekuatanmu sekarang ini yang masihlah sangat lemah, dan dengan kau mengkonsumsi pill tersebut maka kekuatan kultivasimu setidaknya bisa meningkat pesat sampai beberapa kali dan mencapai tahap Mahayana 1" ucap Mu Haiji.
"Semoga saja, aku ingin segera menjadi kut agar siap dalam menghadapai situasi seperti apapun itu nantinya dimasa depan yang akan datang entah seperti apa bentuknya" jawab Ming Can.
"Yang pasti, alam rendah ini perlu kau lewati terlebih dahulu sebelum bisa menemukan hal yang paling kejam dan sadis serta mengerikan mantinya" ucap Mu Haiji santai sambil meminum segelas teh hangatnya.
"Aku mengerti" jawab Ming Can.
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.