
Ming can sudah selesai dengan urusan para tamu yang datang tanpa diundang ini, lalu menghampiri kembali Yu Zhong yang nampak tertegun melihat aksi dirinya.
"Senior lebih baik kita cari tempat singgah yang aman terlebih dahulu" ucap Ming Can menyarankan.
"Baiklah, aku ada kenalan di kota kecil bernama Bulan" ucap Yu Zhong.
"Maka kita akan pergi kesana" jawab Ming Can.
Ming Can dengan Yu zhong melihat kearah kereta dan teringat akan Yu Tianlang dengan ibunya.
Namun rupanya semua sudah baik-baik saja, sebab sosok ibu dari Yu Tianlang yang sekaligus istri Yu Zhong sudah baik-baik saja.
"Suamiku, kamu tidak terluka bukan?" tanya sang istri lembutnya.
"Aku baik-baik saja, kita akan pergi dari sini terlebih dahulu" ucap Yu Zhong.
"Baiklah" jawab sang istri.
"Nak kamu masuklah didalam kereta dengan Tianlang" ucap Yu Zhong.
"Baik" jawab Ming Can.
Perjalanan kembali dilanjutkan, Ming Can didalam kereta mengobrol dengan sosok ibu Tianglang.
"Perkenalkan saya adalah Wumei, dan saya ucapkan terimakasih atas segala bantuannya" ucap Wumei sambil sedikit membungkuk.
"Sama-sama, saya senang bisa membantu" jawab Ming Can.
"Perkenalkan juga, saya adalah Ming" jawab Ming Can memperkenalkan diri.
"Nak Ming terimakasih juga ibu ucapkan karena sudah menjaga Tianlang selama direruntuhan lima elemen sana, dan memberikannya bimbingan" ucap Wumei tulus.
"Sama-sama" jawab Ming Can.
"Kalau boleh tahu, nak Ming berasal dari mana?" tanya Wumei.
"Saya hanya berasal dari pedesaan kecil saja" jawab Ming Can berbohong atas pertanyaan barusan.
"Begitu, apakah masih ada keluarga?" tanya Wumei.
"Saya ditinggal pergi kedua orang tua saya saat berumur 15 tahun" ucap Ming Can.
"Maaf ibu membuatmu mengingat hal yang menyedihkan" ucap Wumei.
"Tidak apa, yang penting saya yakin bahwa mereka berdua pasti masih hidup" ucap Ming Can.
"Baguslah kalau begitu, tetap semangat sayang" ucap Wumei.
"Izinkan saya memeriksa anda" ucap Ming Can.
"Silahkan" ucap Wumei.
Ming Can memeriksa kondisi tubuh Wumei dari denyut nadinya.
Setelah serangkaian pemeriksaan selesai dijalankan, Ming Can berkata "kondisi anda sudah baik-baik saja"
"Benarkah itu saudara Ming?" tanya Tianlang.
"Benar, ibumu sudah dalam kondisi 100% pulih dan benar-benar sehat" jawab Ming Can menjelaskan.
"Sekali lagi ibu ucapkan terimakasih sayang" ucap Wumei pada Ming Can.
"Sama-sama" jawab Ming Can.
Lalu sekarang yang berbicara adalah Yu Zhong dari depan.
"Kita akan segera sampai tidak lama lagi" ucap Yu Zhong.
"Kita kemana sayang?" tanya Wumei pada Yu Zhong.
"Kita akan menemui Xingtian" jawab Yu Zhong.
"Begitu....." jawab Wumei.
"Jikalau saya boleh tahu, sebenarnya ini semua didasari oleh apa?" tanya Ming Can bertanya soal permasalahan di keluarga Yu.
"Semua ini berawal dari sebuah giok jade hijau berbentuk kunci, yang aku dapatkan dari hutan kabut darah" ucap Yu Zhong.
"Kunci?" tanya Ming Can.
Yu Zhong kemudian mengeluarkan sebuah kunci dengan bahan dasar giok jade hijau, dari dalam cincin spatialnya.
"Lihatlah" ucap Yu Zhong menyerahkan kunci tersebut pada Ming Can yang penasaran akan kunci tersebut.
Ming Can menerima kunci giok jade hijau tersebut, dan teringatlah sesuatu akan kunci ditangannya kini sesuai dengan apa yang tertera dalam buku kuno.
"Kunci ini bagaimana kalau aku tukar dengan sesuatu?" tanya Ming Can.
"Memangnya kau tahu sesuatu soal kunci tersebut?" tanya Yu Zhong.
"Benar, walau hanya dugaan saja" jawab Ming Can.
"Memang itu kunci untuk apa?" tanya Yu Zhong.
"Aku pernah baca pada salah satu catatan, dan ini adalah kunci untuk membuka sebuah tempat bernama Goa Kristal" jawab Ming Can.
"Tempat seperti apa itu, dan dimana tempat itu berada?" tanya Yu Zhong.
"Aku tidak tahu, yang aku tahu hanyalah soal kunci ini untuk apa dan berguna untuk digunakan sebagai apai?" ucap Ming Can menjelaskan.
"Kalau begitu berikan saja kunci ini pada Ming, sayang" ucap Wumei.
"Benar, aku berikan saja kunci itu padamu" ucap Yu Zhong.
"Kalau begitu aku akan berikan sesuatu sebagai barang tukarnya" jawab Ming Can.
"Kau sudah memberikan hal paling bagus bagiku, dengan sembuhnya istriku saja sudah membuatku senang. Karena nyawa itu lebih berharga dari harta" ucap Yu Zhong.
"Terimakasih aku ucapkan kalau begitu pada senior" jawab Ming Can.
Ming Can menyimpan kunci ditangannya jedalam cincin spatial, dan mengeluarkan pill yang sudah siap diberikan pada Tianlang.
"Tianlang ambil pill ini, efek dan kegunaannya sama seperti pill yang aku berikan pada Yun Mei sebelumnya" ucap Ming Can seraya menyerahkan pill tersebut ketangan Tianlang.
"Terimakasih, saudara Ming" jawab Tianlang sambil menerima pill tersebut.
"Sama-sama" jawab Ming Can.
"Kita sampai" ucap Yu Zhong.
Setelah itu kereta memasuki sebuah desa kecil dengan orang-orang yang tinggal tidak lebih dari 1000 orang, kereta kemudian berhenti didepan sebuah kediaman yang cukup besar di desa tersebut.
Yu Zhong dan yang lainnya keluar dari dalam kereta, dan mendekati rumah tersebut.
Tok.
Tok.
Tok.
Setelah mengetuk pintu tiga kali, akhirnya pintu terbuka dan terlihat ada seorang pria paruh baya menyambut.
"Yu Zhong" ucap pria tersebut.
"Xingtian, boleh kami masuk terlebih dahulu?" tanya Yu Zhong.
"Silahkan" jawab Xingtian.
Mereka masuk kedalam rumah tersebut, dan mengobrol bersama didalam rumah mengenai apa yang telah terjadi pada Yu Zhong dengan keluarganya.
....
Setelah bercerita, Xintian berkata "sekarang apa yang akan kau lakukan dengan keluargamu?"
"Yang pasti kami tidak ada niatan kembali kesana" jawab Yu Zhong.
"Apakah kau yakin akan meninggalkan apa yang telah ayahmu bangun sedari dulu begitu saja?" tanya Xingtian.
"Aku akan bantu anda untuk membereskan masalah di keluarga anda" ucap Ming Can.
"Tapi walau kau bergabung sekalipun, itu berarti kita hanya menambah satu orang dalam tim" ucap Yu Zhong.
"Kau sepertinya tidak tahu kekuatan anak muda ini yang sebenarnya" ucap Xintian.
"Maksudmu?" tanya Yu Zhong.
"Usia 20 tahun berada di ranah Raja 1" ucap Xingtian.
"Apa!" teriak Yu Zhong sekeluarga.
"Pak tua kau hebat juga bisa menggunakan kemampuan mata langit" ucap Ming Can.
Seketika sekarang giliran Xingtian yang terkejut.
"Siapa kamu anak muda?" tanya Xingtian.
"Aku hanya anak biasa" jawab Ming Can.
"Kenapa kau bisa mengetahui soal kemampuan mata langit yang aku pakai" tanya Xingtian.
"Seseorang yang bahkan pernah menjabat sebagai salah satu diaken luar Sekte Tengku, aku heran kenapa dia bisa ada didaerah seperti ini" ucap Ming Can makin membeberkan apa yang dia ketahui soal Xingtian ini.
"Apa!" Sekarang giliran Yu Zhong dengan keluarganya kembali terkaget.
"Nak sepertinya kamu memang bukan berasal dari tempat sembarangan, sampai-sampai mengetahui soal sejarah Sekte Tengku yang sudah hancur 100 tahun lalu" ucap Xingtian.
"Entahlah" jawab Ming Can.
"Darimana kau tahu aku pernah menjadi diaken Sekte Tengku" tanya Xingtian sambil berdiri dihadapan Ming Can.
"Pertama dari tanda yang ada di lehermu, kedua adalah kemampuan mata langit yang hanya bisa digunakan para diaken dan jajaran petinggi Sekte Tegku lainnya" ucap Ming Can menjelaskan apa yang dia tahu.
"Bagaimana kau bisa tahu semua hal tersebut?" tanya Xingtian.
"Aku pernah diberitahu seseorang yang dipanggil guru olehku" ucap Ming Can.
"Apakah kau mau memberitahukan siapa nama gurumu itu?" tanya Xingtian.
"Maaf tidak bisa" jawab Ming Can.
"Begitu.....Sayang sekali" ucap Xingtian.
"Jadi apakah anda ingin kembali mengambil hak anda senior Yu Zhong?" tanya Ming Can kembali.
"Namun apakah kita bisa?" tanya Tianlang.
"Apakah kau sampai dibuat lupa setelah terkejut barusan Tianlang" ucap Ming Can.
"Oh, kau kan kultivator tingkat Raja 1" jawab Tianlang.
"Aku akan bantu juga" jawab Xingtian.
"Nah, satu lagi kekuatan tingkat Raja 9 membantu anda senior Yu Zhong" ucap Ming Can.
"Baiklah, aku mohon bantuan kalian berdua untuk membantuku merebut kembali posisi patriak keluarga Yu" ucap Yu Zhong.
"Baiklah, kita akan berangkat sekarang" jawab Ming Can.
"Kenapa sekarang, dan tidak besok saja?" tanya Tianlang.
"Tianlang, aku akan beritahu dirimu sesuatu"
"Disaat musuhmu merasa menang setelah berhasil dalam peperangan yang menang dengan mudah, maka disitulah akan ada banyak celah" ucap Ming Can.
"Baiklah, kalian berangkat dengan kereta" ucap Xingtian.
"Kalian sendiri?" tanya Wumei.
"Kami akan terbang" ucap Xingtian.
"Enaknya jadi kultivator tingkat Raja yang sudah bisa terbang" ucap Tianlang.
"Berusaha lebih keras lagi demi mencapainya" jawab Ming Can.
Mereka segera berangkat kembali menuju kediaman Yu dari desa tersebut. Yu zhong dengan keluarga menggunakan kereta kuda, sedangkan Ming Can dengan Xingtian terbang diudara mengikuti kereta kuda yang berjalan cukup cepat.
"Nak setelah masalah ini selesai, kemana kau akan pergi?" tanya Xingtian.
"Keliling dunia" jawab Ming Can.
"Keberatankah dirimu mengajak orang tua ini?" tanya Xingtian.
"Kenapa senior seperti anda ingin ikut dengan anak muda seperti diriku yang mungkin melakukan penjelajahan semaunya saja" jawab Ming Can.
"Aku hanya ingin tahu kau bisa membantu perkembangan kekuatan diriku atau tidak?" tanya Xingtian.
"Apa yang aku dapatkan sebagai gantinya?" tanya Ming Can.
"Aku akan jadi pengikut setiamu" ucap Xingtian.
"Aku takut dikhianati" jawab Ming Can.
"Kita bisa melakukan kontrak darah" jawab Xingtian.
"Baiklah, lakukan sekarang" jawab Ming Can.
"Baiklah setelah masalah ini selesai, maka kita bisa lakukan" jawab Xingtian.
...........
Perjalanan sudah ditempuh dengan cepat, akhirnya mereka sudah sampai ditujuan.
Terlihat kediaman Yu sekarang ini tengah dalam suasana tenang, sebelum akhirnya terjadi kepanikan dari orang-orang tertentu yang memang berkhianat.
Boom!
Kedatangan Yu Zhong dengan kelompoknya diawali dengan sebuah ledakan akibat turunnya Xingtian dari atas langit.
"Keluar kalian!" teriak Xingtian.
Semua orang benar-benar dibuat kaget degan teriakan tersebut dan ledakan yang terdengar barusan dari halaman depan kediaman Yu.
Terlihat sosok paman ke-3 yang merupakan dalang semua kekacauan ini keluar bersama orang-orang yang berkhianat lainnya.
"Senior, apakah kami ada menyinggung anda sekalian?" tanya sang dalang.
"Kau dan kalian semua akan membayar semua yang telah kalian semua lakukan pada Yu Zhong dengan keluarganya" ucap Xingtian.
Deg!
Semua orang-orang tersebut kaget dan merasa benar-benar syok sekali mendengar perkataan Xingtian barusan.
"S-enior ki-" ucapa sang dalang terhenti karena kepalanya sudah telepas dari tubuhnya.
Slash!
Glutuk!
Satu kepala jatuh keatas tanah karena terlepas dari tubuhnya akibat tebasan pedang yang dilakukan Ming Can.
"Aku tidak suka berlama-lama, segera bereskan" ucap Ming Can.
Sementara semua orang masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi, Xingtian sudah menyerang semua musuh untuk membunuh mereka sesuai perkataan Ming Can.
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.