
Ming Can berjalan diantara keramaian kota, manik matanya menangkap sebuah kejadian tidak biasa dihadapan nya.
Namun tidak langsung bertindak, melainkan menilai situasi apa yang tengah terjadi sebenarnya.
Ming Can lebih mendekat lagi kesana, begitupun para warga kota sekitar yang ikut mendekat kesana.
"Tuan, kenapa dengan anak itu?" tanya Ming Can pada salah satu warga kota dengan ramah.
"Kamu sepertinya pendatang baru disini, anak itu adalah seorang anak yang berasal dari kalangan para pengemis di kota ini" jawab warga yang ditanya.
"Pengemis?" ucap Ming Can.
"Benar, tidak hanya ada satu orang saja pengemis di kota sehebat Angin Biru ini" jawab warga tersebut.
Ming Can tersenyum sudah tahu nama kota ini, dan dengan begini dirinya sudah tahu sekarang sedang berada dimana.
"Lalu apa kesalahan anak itu sampai harus kena pukul begitu?" taya Ming Can penasaran.
"Anak itu hanya sekedar meminta sedikit uang pada si penjual di kios, namun malah dimarahi dan kena pukul begitu" jawab warga tersebut.
"Begitu......lalu bagaimana sikap kaisar?" tanya Ming Can.
"Berita ini pasti sudah diketahui oleh yang mulia, namun seharusnya yang mulia sudah mengambil tindakan" jawab warga tersebut.
Benar saja, ada beberapa prajurit kota yang melerai perlakuan si penjaga kios dengan anak kecil yang merupakan pengemis tersebut.
Selesailah masalah tersebut, para warga kemudian membubarkan diri dan begitupun dengan Ming Can.
Saat ini dibawah pohon rindang didaerah pesisir kota Angin Biru, Ming Can tengah duduk santai dengan nyaman dibawah pohon.
"Sekarang aku berada di Kekaisaran Angin Biru, dan ini sangat jauh dari tempatku berada sebelumnya"
"Ibukota Angin Biru ini adalah tempat beradanya para kekuatan utama kekaisaran Angin Biru"
Ming Can menatap kearag langit yang cerah dengn warna biru dan dihiasi awan yang bergerak perlahan tersapu angin, membuat awan tersebut datang dan pergi.
"Sekarang aku harus cari informasi para keluarga besar dan penguas ibukota ini"
Ming Can berdiri dari posisi duduknya dibawah pohon rindang tersebut, namun belum sempat bergerak untuk pergi dari tempatnya.
"Toloong!"
Terdengar sebuah suara teriakan dari arah sebelah timur, Ming Can dapat melihat itu adalah sebuah kawasan hutan pesisir Ibukota.
"Apa yang terjadi disana?"
"Tidak mungkin ada bandir didalam wilayah ibukota Angin Biru yang sekuat ini bukan?"
Ming Can bergegas pergi kearah sumber suara berasap untuk memastikan apa yang tengah terjadi dihutan tersebut.
....
Didalam hutan, Ming Can melihat ada seorang perempuan muda nan cantik dengan tubuh yang matang.
"Huft......apalagi yang akan menunggu diriku setelah menolong wanita ini dari orang seperti mereka?"
Swush!
Bugk!
Buagk!
Dua orang tersebut dipukul dengan kuat dibagian perut oleh Ming Can yang muncul dengan secara tiba-tiba dihadapan keduanya, keduanya terlempar jauh dan menabrak sebuh pohon sampai langsung pingsan tak sadarkan diri.
"Kau tidak kenapa-napa nona?" tanya Ming Can sambil berbalik badan menatap wanita yang sekiranua berusia sepantaran dirinya itu.
"Saya baik-baik saja tuan pendekar, terimakasih telah menolong saya yang lemah ini" jawan wanita itu sesopan mungkin.
"Baiklah, sekarang kau mau kemana dan habis dari mana sebenarnya?" tanya Ming Can penasaran.
"Saya dari rumah dan hendak keluar untuk berjualan di pasar terdekat, namun malah dihadang dua orang asing dan aneh barusan yang anda buat terbang" jawabnya.
"Siapa namamu?" tanya Ming Can.
"Shiyu" jawabnya sambil berdiri dibantu Ming Can.
"Aku Ming, salam kenal" jawab Ming Can sopan setelah membantu Shiyu untuk berdiri.
"Saudara Ming, kau mau kemana?" tanya Shiyu.
"Kebetulan sedang bersantai tidak jauh dari sini, malah secara tiba-tiba mendengar seseorang berteriak minta tolong dari sini arahnya ketika aku perhatikan barusan" jawab Ming Can jujur.
"Kau sendiri sekarang mau kemana setelah ini?" giliran Ming Can yang bertanya sekarang.
"Aku rasa lebih baik untuk pulang saat ini" jawab Shiyu.
"Mau aku antar?" saran Ming Can.
"Apakah tidak merepotkan anda tuan Ming?" tanya Shiyu hormat pada Ming Can.
"Tidak repot, jangan terlalu bersikap seformal dan sehormat itu pada diriku" jawab Ming Can.
"Baik, kalau begitu saya akan tunjukan jalannya dan anda bisa mengikuti saya dari belakang saja" jawab Shiyu.
.......
.......
.......
.......
Ming Can mencoba mencari informasi dari Shiyu sebanyak yang dia bisa.
"Kau lahir dan besar disini?" tanya Ming Can memulai percakapan.
"Benar, saya lahir dan besar di ibukota Angin Biru ini" jawan Shiyu.
"Ada berapa jumlah keluarga teratas atau keluarga besar dengan kekuatan besar juga di Ibukota Angin Biru ini?" tanya Ming Can langsung pada inti pembicaraan.
"Saudara Ming sudah dapat dipastikan merupakan orang luar dan pendatang baru di ibukota Angin Biru" jawab Shiyu.
"Begitulah" jawab Ming Can.
"Keluarga besar yang menjadi pilar kekaisaran Angin Biru disini ada 3 keluarga, termasuk satu diantara ketiga keluarga adalah keluarga kerajaan" jelas Shiyu mengawali penjelasan soal ibukota Angim Biru yang ditanyakan Ming Can barusan.
"Keluarga apa saja, dan mereka menguasai apa saja di ibukota Angim Biru ini sampai dengan sekarang" jawab Shiyu.
"Keluarga dengan kekuatan dan kekuasaan terkuat adalah keluarga Shin, dengan kaisar sebagai kepala keluarga dan pemimpin negeri Angin Biru ini" jelas Shiyu.
"Nama dan kekuatannya?" tanya Zen mengenai keluarga Shin yang kini menjadi seorang kaisar saat ini.
"Shin Taewong, dia berada ditahap Mahayana 8" jawab Shiyu.
"Kedua terkuat adalah keluarga Huo, dengan kepala keluarga Huo Lin sudah berada ditahap Mahayana 7"
"Ketiga terkuat adalah keluarga Ji, dengan kepala keluarga Ji Han sudah berada ditahap Mahayana 7 awal"
"Apa yang dikuasai dan bisnis apa yang tengah mereka jalankan?" tanya Ming Can kembali tidak kalah bosen, dan malah mendapatkan bamyak keuntungan mungkinnya.
"Keluarga Huo memobilisasi pasar senjata, sesangkan keluarga Ji memobilisasi pasar obat dan pill" jawab Shiyu.
Mereka berdua akhirnya sampai didepan sebuah rumah gubuk kayu, terlihat gubuk kayu tersebut sudah rapuh dan termakan waktu.
"Ini rumahmu?" tanya Ming Can saat melihatnya.
"Benar" jawab Shiyu.
Ming Can dengan Shiyu kemudian masuk kedalam rumah, mereka kemudian melanjutkan obrolan soal ibukota Angin Biru yang sedang dibahas sedari tadi.
"Kau tinggal sendiri?" tanya Ming Can.
"Masih ada kedua orang tua yang selalu baik hati dan penuh kasih sayang memberikan rasa cinta dan perhatian mereka padaku agar lebih baik dan lebih baik lagi kepribadian diriku kedepannya" jawab Shiyu.
"Lalu dimana mereka sekarang?" tanya Ming Can heran, karena tidak mendapati dua orang tua dari Shiyu.
"Mereka sedang di pasar tengah berjualan makanan buatan rumahan sendiri, dan djual di pasar" jawab Shiyu.
"Karena tugasku mengantarmu sampai rumah sudah selesai, kau juga pulang dengan kondisi aman dan tanpa terluka atau lecet sedikitpun. Bahkan tanpa kekurangan apapun, aku harus segera pergi kembali" ucap Ming Can.
"Baiklah, terimakasih sekali lagi saya ucapkan karena telah menolong saya dan mengantarkan saya pulang kesini sampai dengan selamat tiba dirumah" jawab Shiyu sopan sambil sedikit membungkukkan badan dam memberi hormat.
"Sama-sama, dan sudahi hormat tersebut" jawab Mong Can.
Setelah selesai dengan urusan di rumah Shiyu, Ming Can pergi ke penginapan kembali.
.......
"Sekarang aku sudah tanu perihal tiga keluarga besar yang ada, tinggal cari sesuatu yang berguna untuk diriku selama tinggal di sini dan berada di ibukota Angin Biru yang merupakan kekaisaran kecil di bagian ujung peta.
Ming Can merebahkan tubuhnya dengan santai diatas tempat tidur, dan memikirkan apa yang akan dirinya lakukan di kota Angin Biru ini sendirian selama satu bulan kedepan, sebelum pergi melanjutkan kembali perjalanan berkelana dengan tujuan keliling dunia.
Tok.....Tok......Tok.......
Pintu kamar terdengar diketuk oleh seseorang, Ming Can bangun dari posisi tiduran dan membukakan pintu.
Terlihat ada seorang pelayan dihadapannya.
"Permisi tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda di lantai bawah" ucap sang pelayan.
Ming Can memgerutkan keningnya ketika memdengar perkataan sang pelayan barusan.
"Siapa?" tanya Ming Can heran.
"Saya tidak tahu, namun orang itu berpesan agar anda segera menemui dirinya" jawab sang pelayan.
"Baiklah pimpin jalannya" ucap Ming Can.
Mereka kemudian pergi bersama menuju lantai bawah penginapan untuk menemui orang yang dimaksudkan.
....
Di lantai bawah penginapan.
Ming Can duduk disebuah kursi dalam satu meja yang sama dengan seorang kakek tua dihadapan dirinya.
"Senior, apakah anda mencari saya?" tanya Ming Can.
"Benar, aku sedang mencari dirimu" jawab kakek tersebut atas pertanyaan yang diajukan Ming Can barusan.
"Jikalau boleh tahu, kenapa anda mencari saya?" tanya Ming Can.
"Aku melihatmu membantu seseorang dihutan belum lama ini" jawab si kakek.
"Owh....iya benar" jawab Ming Can ingat akan dirinya yang menyelematkan Shiyu di hutan sebelum ini.
"Dia adalah cucuku" jawab si kakek.
"Apa?!" ucap Ming Can tidak percaya.
"Tenanglah, jangan membuat kehebohan" jawab si kakek.
"Iya, maaf" jawab Ming Can.
"Sekarang ikutlah denganku, kita akan kerumah Shiyu" jawab si kakek.
"Baik" jawab Ming Can.
Mereka berdua akhirnya pergi bersama-sama menuju kediaman tempat tinggal Shiyu.
....
Sampai disana, Ming Can dengan si kakek mendapati bahwa Shiyi sedang mengobrol bersama dua orang paruh baya.
"Itu orang tua Shiyu?" tanya Ming Can pada si kakek saat dikejauhan.
"Benar" jawab si kakek dengan muka kerinduan akan seseorang.
Ming Can merasa heran, namun memilih diam saja dan tidak mempertanyakan masalah tersebut sekarang ini.
Sampailah Ming Can dengan si kakek dihadapan tiga orang tersebut.
"Saudara, kau kembali kesini?" tanya Shiyu antusias senang, terlihat dari raut wajahnya.
"Iya, aku kemari karena permintaan kakek ini" jawab jujur Ming Can.
Si pria paruh baya disana tiba-tiba berkata "Ayah" pada si kakek yang ada disamping Ming Can.
"Ayah" sapa si wanita paruh baya.
"Hem, bisa kita bicara terlebih dahulu?" tanya si kakek.
Shiyu dengan Ming Can menjadi bingung, dan saling bertanya dalam hati dan pikiran masing-masing soal apa yang tengah terjadi disini.
"Baik, silahkan masuk kedalam ayah" jawab si pria paruh baya.
Mereka kemudian dibawa masuk kedalam rumah berukuran kecil tersebut, namun lebih tepatnya mereka dibawa masuk kedalam ruanga bawah tanah yang berada tepat dibawah rumah tersebut.
Bersambung......
Jangan lupa
Like,Komen,Favorit,Vote,Rate 5 Bintang.
Terimakasih.