Supreme Cultivation

Supreme Cultivation
Sc.45



Keesokan harinya.


Ming Can sudah berada di alun-alun kota yang menjadi tempat diselenggarakannya pertandingan kontes beladiri.


Ming Can dengan peserta lainnya tengah menunggu acara untuk dimulai.


Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya seorang pria naik keatas panggung dan membuka suara.


"Pertandingan akan segera dimulai, bagi siapa saja yang ingin bergabung dalam kontes beladiri ini diharapkan untuk segera naik keatas panggung"


Langsung saja banyak orang-orang yang naik keatas panggung arena pertempuran, hingga selang beberapa menit sudah tidak ada lagi yang naik keatas panggung arena pertempuran.


Dan panitia acara menutup pendaftaran.


"Aku akan menjelaskan aturannya, kalian akan diberikan nomor peserta dan setelah itu akan dipanggil keatas arena untuk naik satu persatu agar bisa bertanding"


"Bagi siapa yang menang selama 10x berturut-turut tanpa terkalahkan, maka dia akan jadi pemenangnya dalam kontes beladiri ini"


Selesai semua peserta mendapatkan nomor masing-masing, mereka segera turun dari atas panggung arena pertempuran untuk menunggu panggilan naik keatas panggung dan bertempur.


Ming Can sendiri mendapat nomor 156 dan itu cukup lama sepertinya untuk bisa naik keatas panggung dan mendapatkan giliran bertarung, karena melihat banyaknya jumlah peserta yang ada disana.


Maka Ming Can memutuskan untuk mengamati situasi yang terjadi sekarang ini terlebih dahulu, dengan mengawasi dan memperhatikan setiap peserta yang bertanding diatas panggung arena pertempuran.


Kembali pria sebelumnya terlihat naik keatas panggung dan membuka suara.


"Bagi peserta nomor 1 & 2 silahkan naik dan bertanding, bagi yang menang bisa lanjut menantang peserta dengan nomor berikutnya"


"Sedangkan jika kalah akan digantikan dengan peserta berikutnya, maka dengan ini aku umumkan pertarungan kontes beladiri bebas dimulai!!"


Sesuai dengan aturan, maka peserta nomor 1 dengan 2 sudah naik keatas panggung dan melakukan pertarungan dengan mempertontonkan pertarungan yang cukup menghibur para penonton.


Pertarungan terus saja berlanjut, sedangkan Ming Can terus memperhatikan jalannya pertatungan satu demi satu hingga pada akhirnya menemukan satu orang yang berhasil bertahan dalam 9x pertempuran.


Namun sayang, peserta itu harus bertemu dengan Ming Can yang menjadi petarayng dengan nomor 156.


Saat diatas panggung tidak ada lagi aba-aba mulai, dimana setiap peserta yang sudah naik keatas panggung bisa saling menyerang satu sama lain, bahkan walau harus terjadi pembunuhan yang kejam sekalipun tidak akan ada yang melarang.


"Kau akan jadi kemenangan kesepuluh bagi diriku" ucap lawan yang dihadi oleh Ming Can.


Ming Can memasang senyum diwajahnya sebelum melesat dengan kecepatan yang cepat, dan memberikan sebuah pukulan telak dengan hanya kekuatan fisik saja yang sudah berhasil membuat peserta tersebut terlempar jauh keluar arena sampai tidak sadarkan diri.


Para penonton yang menyaksikan hal tersebut sangat tercengang sekali, karena tidak menyangka akan ada kejadian semacam itu di atas panggung pertempuran.


Lalu lawan berikutnya naik keatas panggung dan itu adalah seorang wanita dewasa dengan pakaian cukup terbuka dan wajah genit yang dipasang.


"Tampan, bisakah menyerah dan berikan kemenangan ini padaku?" ucap wanita tersebut dengan genit.


"Maaf aku tidak mau" jawab Ming Can dengan menutup matanya.


"Kalau begitu maafkan aku karena harus membuatmu kalah disini tampan" ucap wanita tersebut sambil mengeluarkan teknik ilusi miliknya.


Namun sayang, dirinya sedetik kemudian baru sadar bahwa lawannya yang tidak lain adalah Ming Can menutup matanya.


"Cih, apakah dia sudah sadar dengan teknik yang aku miliki?" gumam wanita tersebut dengan kesal.


Tapi dia lengah, sehingga Ming Can melakukan gerakan cepat untuk memberikan sebuah serangan kuat pada wanita tersebut.


Buggk!


Buugk!


Dua pukulan berhasil didaratkan pada perut wanita tersebut dan juga pada bagian dagunya hingga membuat wanita itu mengalami nasib yang sama seperti lawan Ming Can yang pertama.


"Dia sepertinya hebat" ucap penonton A.


"Ini barulah awal, kita lihat apalagi yang bisa dia lakukan dalam pertandingan ini" ucap penonton B.


Terdengar ada beberapa pujian namun ada juga komentar biasa atas penampilan yang diberikan oleh Ming Can diatas panggung.


Kembali lawan yang harus dihadapi oleh Ming Can naik keatas panggung, dan kali ini adalah seorang laki-laki dengan badan otot dan dua senjata gada yang besar dan terlihat memiliki bobot yang kuat dan berat.


"Namaku Lei, salam" ucap sang pria otot.


"Namaku Ming, salam" ucap Ming Can dengan sikap tak kalah sopan.


Lalu setelah saling mengucapkan perkenalan dan salam, mereka berdua saling mengambil ancang-ancang sebelum saling melesat untuk berhadapan.


Terlihat Lei memulai duluan dengan melayangkan gada beratnya pada kepala Ming Can, namun dapat dihindari dengan mudah begitu saja.


Dan Ming Can memberikan serangan balasan berupa pukulan pada gada yang dipegang oleh Lei yang berada di tangan kiri dengan pukulan kuat.


Boom!


Satu pukulan kuat itu berhasil membuat Lei terlempar mundur, dan bahkan Ming Can kembali memberikan serangan berikutnya dengan berupa tendangan kuat pada dada Lei.


Bughk!


Tendangan kuat yang diterima Lei membuatnya terjatuh kebelakang dengan cukup kuat namun tidak membuatnya terbang keluar arena seperti dua peserta yang menjadi lawan dari Ming Can sebelumnya.


Lei bangkit berdiri kembali dan berkata "sungguh fisik yang kuat sekali, aku mengakui itu"


"Terimakasih, dan itu baru awal" jawab Ming Can sambil tersenyum.


Mereka kembali melakukan adu serangan ditengah panggung pertempuran, Ming Can hanya bergerak menghindari saja atas serangan-serangan yang diberikan oleh Lei.


Sampai Ming Can merasa bahwa sudah cukup untuk bermain-mainnya.


Sehingga Ming Can mengeluarkan pedangnya, namun pedang tersebut berupa energi yang dipadatkan oleh Ming Can.


Kembali penonton dibuat kagum dan terkejut dengan apa yang ditampilkan oleh Ming Can diatas panggung sekarang ini.


"Kau punya teknik yang hebat" ucap Lei.


"Terimakasih, namun aku harus mengakhiri pertandingan ini secepatnya" ucap Ming Can.


Kembali Ming Can dan Lei saling melesat untuk beradu serangan, dan kali ini Ming Can hanya butuh dua gerakan untuk membuat Lei kalah telak.


Satu tebasan digunakan untuk menangkis dua gada yang mengarah padanya, hingga membuat Lei terpental dan kehilangan fokus.


Sedangkan satu gerakan lagi Ming Can lakukan dengan tebasan kuat pada dada Ming Can.


Sehingga memberikan luka yang tidak sedikit dan cukup berat pada tubuh Lei.


Menyadari bukan lawan dari Ming, Lei memilih mundur dari pertarungan ini daripada nyawa yang melayang ditangan Ming.


Setelah kemenangan ketiganya, Ming Can kembali melakukan pertarungan-pertarungan berikutnya secara terus-menerus sampai akhirnya mencapai kemenangan yang ke-9 dan hanya butuh satu kemenangan lagi untuk membuat kemenangan 10x secara berturut-turut.


Dan kebetulan itu adalah peserta terakhir yang tersisa di kontes beladiri bebas sekarang ini, lawan kali ini adalah seorang wanita yang terlihat seumuran dengannya dan menggunakan satu pedang.


Bersambung........


Terimakasih.