SUPERBIA

SUPERBIA
Rahasia Nama



"Bia ... hidung kamu berdarah!"


Kedua alis Nafla bertaut saat mendengar ucapan aneh Faiz tersebut. Ia menundukkan kepalanya pelan, lantas mengusap ujung hidungnya dan seketika matanya membulat saat melihat cairan merah memasahi jemarinya.


"Darah!" Nafla berteriak panik. Ia menarik handle pintu mobil, lalu melompat keluar dari sana sembari menutupi lubang hidungnya dengan jari. Kemudian, berjalan cepat medekati Az yang sudah berdiri sejak tadi di dekat mobil. "Az, aku berdarah!"


Az yang mendengar itu, dengan sigap berlari ke arah Nafla. "Turunkan tanganmu! Jangan ditutup, nanti kamu kekurangan oksigen."


Nafla hampir menangis karena panik. Seumur hidup, ia belum pernah mengalami kejadian seperti ini.


"Az, aku berdarah," rengeknya sekali lagi.


Az yang masih tetap tenang, membawa Nafla ke dalam mobil. Kemudian, duduk di sampingnya dan membersihkan darah di hidung Nafla dengan tisu, hingga darah itu perlahan berhenti menetes.


Saat merasa Nafla mulai tenang, Az meraih botol air mineral di dashboar depan. Kemudian, memberikannya pada Nafla setelah membuka tutup botolnya terlebih dahulu.


"Tidak perlu panik. Sekarang minum dulu."


Nafla menurut. Ia meneguk air minumnya sambil terus menangis. "Aku nggak mati, kan?"


Az mengambil kembali botol dalam genggaman Nafla, lalu memasang kembali tutupnya. "Kamu nggak mau mati?" tanya Az tenang.


Sebenarnya, Nafla ingin protes terhadap pertanyaan Az tersebut. Namun, kali ini ia sedang tidak punya tenaga dan memilih menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, minum obatnya," tukas Az sembari meletakkan sekantung obat ke pangkuan Nafla. Kalau sudah begini, lagi-lagi Nafla hanya bisa patuh.


Nafla menengadahkan tangannya yang terasa lemas. Sedangkan, Az dengan sabar membukakan kaplet obat itu untuknya.


"Obatnya banyak. Gede-gede semua," keluh Nafla, lalu menenggak obat itu bertahap.


"Pahit!" Nafla berteriak dengan mata tertutup saat akhirnya ia berhasil meminum semua obatnya. Bahkan, air di dalam botol tadi nyaris kosong.


Az menatapnya sejenak, lalu memasukkan kembali sisa obanya ke dalam kantung. Pemuda itu memang pandai mengendalikan situasi.


"Emang Bia sakit apa, sih, Az?" Sebenarnya, sejak awal menemukan tubuh Bianca di rumah sakit, Nafla sudah penasaran. Tetapi, ia berusaha mengusir rasa ingin tahunya tersebut.


"Kanker,"jawab Az tenang. Tidak sepeti Nafla yang kembali melebarkan matanya.


"Leukimia," imbuh Az kemudian. Seolah tidak peduli dengan keterkejutan Nafla, ia kembali melanjutkan informasinya. "Terakhir, Nona Bianca juga didiagnosis terkena tumor otak sekunder."


Nafla tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya diam, menatap Az yang duduk di sampingnya dengan sekujur tubuh meremang.


"Makanya, jaga baik-baik tubuh Nona Bianca. Dia nggak boleh terbentur. Makannya juga tolong dijaga."


Jadi, itu alasan Az memeriksa tubuhnya tempo hari. Itu juga alasan Bianca selalu makan makanan hambar selama ini.


Sebenarnya, masih banyak pertanyaan yang ingin Nafla tanyakan. Namun, ia tahan. Ia takut, semakin banyak tahu, ia akan semakin luluh.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Az membuyarkan lamunannya. Kemudian, tanpa menunggu jawaban Nafla, Az berpindah ke kursi belakang kemudi dan menyetir menuju rumah sakit.


Aishh!


***


Baru saja bekerja beberapa hari, Nafla terpaksa izin libur karena harus melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Az yang dengan sabar menemaninya, membuat rasa takut di hati Nafla sedikit mereda.


Meski terlihat enggan, tetapi Az tetap memberikan benda pipih itu pada Nafla. "10 menit!" Az memperingati.


Nafla menerima ponsel itu sambil tersungut-sungut. 10 menit bisa apa?


Alexander Faizlan


Kamu baik-baik aja, Bia?


10.25 WIB


Nafla menggigit pelan bibir bawahnya saat membaca pesan dari Faiz tersebut. Baru saja ia hampir berhasil membuat Faiz mabuk kepayang, tetapi darah si hidungnya malah bercucuran.


Bianca Zehra


Gapapa, Mas. Bia cuma kelelahan aja.


10.28 WIB


Alexander Faizlan


Cepat sehat, Bia. Mas kangen.


10.28 WIB


Fiuh! Sepertinya hidung belang itu tidak ilfil padanya. Besok, setelah sembuh, Nafla akan lebih gencar memberi serangan.


"Nama kamu siapa?"


Kepala Nafla sontak tertoleh ke arah Az yang rupanya sedang menatapnya. Keningnya mengernyit, curiga. "Kenapa?"


"Bukan itu jawabannya."


Nafla mendecih kesal. Sepertinya Az ini memang tidak bisa diajak mengobrol normal. "Nafla. Namaku Nafla."


"Nafla?"


"Iya. Kenapa? Mirip nama mantanmu?" cibir Nafla, lalu perhatiannya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya.


"Nafla Afanin Tirta?"


Deg! Nafla kembali menolehkan kepalanya cepat ke arah Az. Menatap pemuda itu dengan pandangan kaget sekaligus takut.


"Nona Bianca Zehra Tirta? Silakan ikut saya." Seorang perawat wanita muncul dan memutus kontak mata antara Nafla dan Az.


Az yang lebih dulu memalingkan pandangan ke arah perawat wanita tersebut. Sedangkan, Nafla masih saja terus menatapnya.


Azariel itu sebenarnya siapa? Kenapa dia tau nama lengkapku?


***


Cusss mampir ke sini yaa~