
"Cepat cari Kak Azar, Naf!" Bianca melonggarkan pelukannya, lantas menatap Nafla serius.
"Hah? Buat apa?"
Meski kondisi tubuhnya melemah, Bianca tetaplah Bianca. Ia memutar bola matanya, lalu berkacak pinggang. "Jangan sampai kamu nyesel kalau sampai Kak Azar nikah sama bule."
"Hah?"
"Hah, hah, hah, terus!" dengkus Bianca, lalu melanjutkan nyaris berbisik, "Aku dengar gosip dari perawat, katanya Kak Azar mau lanjut kuliah ke Jerman."
Nafla tertegun. Bibirnya tiba-tiba terasa kelu saat bertanya, "Jerman? Bukannya ... dia di skors?"
"Nggak tau. Kamu tanya aja sendiri!" balas Bianca gemas. Kemudian, menyenderkan tubuhnya lagi ke kepala ranjang.
Nafla akhirnya berdiri, lantas menatap ke arah pintu dan termenung lagi. Sebenarnya ia ingin, tetapi ragu.
"Jangan kebanyakan mikir, Naf. Kalau cinta, perjuangin!" ucap Bianca pelan.
Nggak semua orang punya kesempatan untuk memperjuangkan cintanya, Naf. Aku contohnya.
Belum sempat Nafla mengambil keputusan, pintu tiba-tiba terbuka dan memunculkan sosok papa di sana. Laki-laki paruh baya itu tersenyum lembut, meski di wajahnya tampak begitu lelah. Kemudian, berjalan mendekat.
"Kalian lagi ngapain?"
"Lagi gosipin, Papa," cetus Bianca usil, hingga membuat papa mendelikkan matanya pura-pura marah.
"Ngomong-ngomong soal gosip ... Papa dengar, Az mengundurkan diri, ya?"
Baik Nafla maupun Bianca tidak menjawab. Namun, ucapan papa itu berhasil memvulatkan tekad Nafla. Sehingga, gadis itu langsung melangkahkan kakinya cepat keluar ruangan.
"Nafla pergi dulu, Pa," pamitnya cepat sembari mencium punggung tangan papa. Kemudian, berlari menelusuri lorong rumah sakit.
Papa yang melihat sikap Nafla tersebut tampak bingung. Kemudian memandang Bianca meminta penjelasan. Sedangkan, Bianca memilih hanya mengangkat kedua bahunya saja.
"Lagi ngejar cintanya," balas Bianca sembari mengalihkan pandang. Namun, tiba-tiba bibirnya tampak bergetar dan tidak lama kemudian tangisnya pecah.
Sekali lagi papa dibuat terperanjat. Ia berjalan cepat mendekati Bianca dengan raut khawatir. Namun, kali ini ia tidak bertanya. Ia cukup tahu tentang perasaan terpendam Bianca pada Az.
Papa tetap memilih diam dan menarik tubuh Bianca ke dalam pelukannya. Kemudian, mengusap punggung sang putri bungsunya tersebut dengan lembut. "Kamu hebat, Bia. Putri papa hebat."
Tangis Bianca kian pecah. Ia ingin mengosongkan semua isi hatinya hari ini, termasuk nama Az, jika bisa.
***
Usai membayar tagihan taksinya, Nafla berjalan ragu mendekati rumah tersebut. Pertemuannya dengan Az tadi tidak terlalu baik, jadi ia takut Az tidak mau bertemu dengannya.
Cukup lama Nafla termenung. Ia tidak menekan bel, tidak pula pergi. Ia hanya terus berdiri saja di sana, hingga kakinya terasa pegal.
Nafla akhirnya mengeluarkan sebuah buku cacatan kecil dari dalam tasnya, lalu menuliskan beberapa kalimat di sana. Kemudian, mengoyak lemabaran kertas yang suda ditulisnya tersebut.
Ia tampak membaca kalimat itu berulang kali, lalu mengangguk yakin. Kemudian, berjalan mendekati pintu dan berjongkok di sana. Ia berencana menyelipkan kertas tersebut di bawah pintu.
"Nafla?" Tubuh Nafla sontak tersentak kaget saat mendengar namanya disebut. Ia menolehkan kepalanya dan dibuat semakin terkejut saat melihat Az sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu ... ngapain?" tanya Az sembari memiringkan kepala.
Nafla sontak berdiri dan dengan cepat menyembunyikan kertas tadi di belakang tubuhnya. Kemudian, menggelengkan kepala berulang kali. "Nggak ngapa-ngapain."
"Itu apa?" Az melangkah maju, mencoba memutari tubuh Nafla untuk mengintip sesuatu yang sedang disembunyikan gadis berlesung pipi tersebut.
"Nggak apa-apa!" Nafla ikut memutar tubuhnya agar Az tidak berhasil mengintip. Kemudian, meremat kertas tersebut.
Az menegakkan tubuhnya lagi, pasrah. Kemudian, menatap Nafla. "Terus kamu ngapain ke sini?"
"Oh, itu ...."
Sebelah alis Az terangkat. "Apa?"
Di saat Nafla kebingungan mencari jawaban itulah, Az mengulurkan tangannya diam-diam, lantas merebut kertas dari ganggaman Nafla dengan cepat.
"Azariel!" teriak Nafla kaget. Terlebih saat ia melihat Az melangkah mundur sembari membaca isi kertas tersebut.
Nafla membalikkan tubuhnya cepat, berniat pergi dari sana karena mau merebut kertas itupu percuma. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar Az berkata, "Aku juga sayang kamu."
Sontak Nafla memutar tubuhnya lagi, menatap Az tidak terima. "Aku nggak nulis itu!"
***
SUPERBIA slow update, ya. Soalnya Jika lagi sibuk sama Mas Duda 😙