SUPERBIA

SUPERBIA
Hukuman



Nafla dan Daniel tiba tepat saat seorang perawat keluar dari ruangan Bianca. Beruntung perawat itu bukan Az.


Bianca yang mendengar suara pintu yang kembali terbuka langsung menoleh. Namun, raut wajahnya tampak sedikit kecewa.


Tentu saja raut kecewa itu tertangkap oleh Nafla, tetapi ia berpura-pura tidak tahu. Ia hanya memilih menghampiri Bianca, lantas menggenggam tangannya. Tidak ada pertanyaan, bagaimana kabarmu? Apa kabar? Kamu baik-baik saja, kan? Karena semua pun tahu, Bianca sedang tidak baik-baik saja.


Daniel yang datang dengan membawa beberapa macam buah-buahan, ikut melangkahkan laki mendekat. Kemudian, meletakkan buah tangannya ke atas nakas.


"Kenapa bawa buah? Aku mau Soto Lamongan, Mas."


Ucapan Bianca tersebut membuat Daniel sedikit tertegun. Sampai-sampai ayah satu anak itu tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Aku kangen makan enak," ucap Bianca sembari mengerucutkan bibirnya.


"Memang boleh? Kalau boleh saya belikan." Daniel sendiri tidak tahu kenapa ia mengatakan itu, tetapi melihat kesedihan di mata Bianca membuatnya merasa ... entahlah.


Bianca tertawa kecil, lalu menggeleng. "Nggak boleh, Mas. Tapi makasih udah niat."


Sekali lagi Daniel terpana. Ia menatap Bianca dalam. Tawa itu terasa tidak asing.


"Kalian datang berdua aja? Jia mana?"


"Di rumah, sama nenek. Lagian anak kecil juga nggak akan diizinkan masuk, kan?"


Bianca mengangguk. "Lebih baik emang nggak ikut. Kenangan rumah sakit nggak bagus untuk Jia," ucap Bianca pahit.


Obrolan mereka terjeda saat terdengar suara ketukan pintu beberapa kali dan tidak lama kemudian seorang laki-laki berhoodie hitam melangkah masuk. Sontak saja senyum terkembang di bibir Bianca.


Bianca dengan tidak sabar menunggu Az melangkah mendekat. Sedangkan, Az tampak terdiam sejenak menatap keberadaan Nafla dan Daniel yang kini berdiri bersisian. Baru kemudian, berjalan mendekati Bianca.


"Aku dengar kamu belum minum obat?" Suara Az terdengar berat. Suara yang intonasinya selalu stabil dan terdengar tenang. Suara yang selalu dirindukan Nafla maupun Bianca.


Sebuah adegan yang berhasil membuat Nafla memalingkan wajahnya ke arah lain. Bahkan, saat Az dengan perhatian menyiapkan obat untuk diminum Bianca, Nafla masih tidak mau menatap mereka. Hal ini cukup disadari Daniel yang berdiri di sampingnya.


"Besok kamu ikut ngantar aku, kan?" tanya Bianca setelah berhasil menenggak seluruh obatnya. Kemudian, memberikan gelas yang kini isinya telah kosong pada Az. Ia memang selalu menghabiskan minumanya akibat terlalu muak dengan aroma obat yang tertinggal di kerongkongannya.


"Aku dalam masa hukuman. Jadi, tidak bisa ikut," jawab Az tenang sembari meletakkan gelas yang diberikan Bianca tadi ke atas meja kecil di samping ranjang.


Tentu saja jawaban Az ini membuat Bianca kaget. Begitu pula dengan Nafla. Gadis itu bahkan menolehkan kepalanya cepat. Padahal kemarin semuanya baik-baik saja.


"Dihukum ... kenapa?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Nafla. Gadis itu bahkan tidak sadar telah menujukkan tatapan khawatirnya.


Nafla tahu betul dengan usaha keras Az, hingga sampai ke titik ini. Ia juga tahu betul, Az tidak pernah gegabah dalam membuat tindakan dan tiba-tiba mendapat hukuman, tentu saja membuatnya terkejut.


Tiba-tiba ia sadar, Az sedang tidak memakai seragam perawatnya. Padahal seharusnya minggu ini dia masih masuk shift siang.


Az mengalihkan tatapannya dari Bianca ke wajah Nafla. Pemuda berhidung mancung itu tidak langsung menjawab. Ia justru memandang lekat Nafla yang berdiri di dekat Daniel.


Berusalah jadi pantas untuk gadismu.


Az kembali teringat dengan ucapan Idan kemarin. Mungkin, inilah maksud ucapan Idan tersebut. Dirinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan si pengusaha muda bernama Daniel.


Nafla yang masih menunggu jawaban Az harus dibuat kecewa sekaligus jengkel karena Az justru hanya mengangkat kedua bahunya, lalu berkata, "Karena ... dihukum."


Terserah!


***


Yang panas, yang panas, yang panas. Eh? Pokoknya aku nggak mau panjang lebar ngasih bocoran novel ini. Yuk, dibaca saja~