
"Aku cinta kamu ... Nafla Afanin Tirta."
Seketika tubuh Nafla membeku mendengar pengakuan Az tersebut. Ia tergugu, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Skak mat!
Sekali lagi Az melangkahkan kakinya dan memeluk Nafla. Kalau sudah memulai sekali, maka ia akan jadi kecanduan begini. Makanya, selama ini Az tidak pernah mau memulainya, tetapi sekarang sudah terlanjur basah.
"Az, jangan peluk-peluk dulu!" protes Nafla. Kemudian, mendorong dada Az lagi. Harusnya Az menunggu jawabannya darinya dulu, kan?
"Kenapa?" tanya Az datar.
"Aku belum jawab!"
"Tapi jawabannya udah kelihatan di mata kamu."
"Nggak sopan nyuri jawaban orang!" Nafla mendengkus, lantas membalikkan tubuhnya berniat pergi dari sana. Harusnya ini menjadi momen romantis mereka. Namun, Az justru tetawa geli, hingga membuat Nafla kesal.
Menyadari kekesalan Nafla, Az menarik tangan gadis itu, mencoba menghentikan pergerakannya. Kemudian, menatapnya dalam. "Jadi gimana? Kamu mengizinkanku memintamu pada Pak Tirta?"
Wajah Nafla perlahan berubah serius. Kali ini, ia tidak lagi cemberut, tetapi justru terlihat sedih.
"Bianca?" tanya Az hati-hati. Pemuda itu memang peka, hingga Nafla menganggukkan kepalanya ragu.
"Beri kesempatan buat Bianca untuk memutuskan sendiri," lanjut Az.
"Dia pasti sedih, Az. Kamu nggak tau gimana perasaan dia sama ...."
"Terus perasaan kamu gimana?" sela Az.
"Aku nggak tau," ucap Nafla pelan sembari memainkan ujung kaus yang dikenakan Az dengan kepala tertunduk. Sebuah kebiasaan yang sulit ia ubah jika sedang risau.
Az memiringkan wajahnya, mencoba agar tatapan mereka bertemu. "Ikutlah bersamaku, Nafla."
Tentu saja Nafla ingin sekali, tetapi ada hati yang tidak boleh ia patahkan. Ada semangat seseorang yang tidak boleh ia padamkan.
Melihat Nafla tidak langsung menjawab ajakannya, membuat Az mengulurkan tangannya, lalu mengusap puncak kepala Nafla dengan lembut. "Sekarang pulanglah. Besok kita bicara lagi."
"Kamu marah?" Nafla mengangkat wajahnya dan menatap Az takut-takut.
"Hm."
"Az .... " Kali ini Nafla bukan hampir menangis lagi. Gadis berparas ayu itu bahkan sudah menitikkan air mata, hingga membuat Az tergelak.
Dering ponsel Nafla menjeda percakapan mereka. Saat gadis itu memeriksa ponselnya, darahnya sontak berdesir ketika melihat nama papa di sana. Buru-buru ia menjawabnya.
"Iya, Pa?"
"Kamu sedang bersama Az sekarang?"
Nafla menolehkan kepalanya, menatap Az sejenak. Kemudian, menjawab pertanyaan papa di telepon. "Iya."
"Bawa Az ke sini. Papa mau bertemu."
Mata Nafla melebar. Sekali lagi ia melirik ke arah Az, hingga membuat pemuda itu mengedikkan dagunya penasaran.
"Bianca kenapa, Pa?"
"Nggak apa-apa. Bawa saja Az ke sini."
Sambungan terputus usai papa menyudahi obrolan mereka dan tidak menerima penolakan. Entah apa yang sedang direncanakan orang tua tunggalnya itu. Namun, hal ini sedikit membuat Nafla was-was juga.
"Kenapa?" tanya Az cepat saat Nafla menyimpan ponselnya lagi.
"Papa ... mau ketemu kamu."
Mata Az juga membulat. Namun, reaksi pemuda itu lebih postif. "Bagus! Ada yang mau aku minta juga pada Pak Tirta."
"Az!" Protes Nafla. Menurutnya, ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan perasaan sendiri.
"Apa? Ini perasaanku. Jangan ikut campur!" balas Az menjengkelkan. Kemudian, dengan santai ia meraih tangan Nafla dan menggenggamnya. "Ayo! Ke rumah sakit sekarang. Aku nggak mau calon mertua menunggu."
UHUK!
***
Mohon maaf, ya, slow update. Lagi sibuk ngurus Mas Duda.
Kabooooorrrr
Btw, mohon maaf atas segala ucap dan sikap yang silap, ya 😘