
Sebenarnya Az grogi juga akan bertemu dengan Tirta. Di luarnya saja, ia tampak biasa. Pada hal di dalamnya, jantungnya berdetak kencang.
Usai mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak, Az langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit untuk menemui sang calon mertua. Di sampingnya duduk Nafla yang sesekali tampak meliriknya. Ia juga jadi ikut deg-degan, meski tidak separah Az.
Tidak sekali Nafla melihat Az meregangkan jemarinya sembari mengendalikan kemudi mobil, hingga membuat Nafla menatapnya takjub. Heran saja, sih, melihat laki-laki dingin seperti Az bisa grogi juga.
"Kamu deg-degan?" goda Nafla, sembari menahan tawa.
Az balas melirik Nafla, lantas menggeleng. "Enggak."
Jawaban penuh gengsi Az tersebut membuat Nafla medecak, lalu tersenyum geli.
"Menurut kamu, Pak Tirta tau hubungan kita?" tanya Az setelah keduanya sempat terdiam beberapa saat.
"Emang kita punya hubungan apa?" Nafla membulatkan matanya dramatis. Sikap menjengkelnya jadi mirip Az.
"Awas aja kalau udah nikah!" geturu Az, hingga membuat Nafla tertawa renyah. Kemudian, keduanya kembali fokus pada jalan di depan sana.
Ini pengalaman pertama untuk mereka, terlebih Az. Ia belum tahu tata cara yang benar dan sopan. Harusnya, ia datang bersama rombongan keluarganya bukan sendirian seperti ayam tidak punya induk begini.
Az terus saja berdeham, seolah ada sesuatu yang menyangkut di kerongkongannya. Bahkan saat, memarkirkan mobil di pelataran parkir rumah sakit, Az jadi bingung sendiri.
"Pak Man! Tolong parkirin mobil."
Security yang dipanggil Pak Man itu melongo. Namun, ia tetap menghampiri Az dan mengambil alih kunci mobilnya. "Kenapa, Pak?"
"Lagi panas dingin, Pak," sambar Nafla dengan disertai tawa geli. Membuat Pak Man semakin bingung.
"Pak Az sakit?"
Az menggeleng, lalu menepuk pelan pundak Pak Man. "Doain saya, Pak, biar segera akad," ucap Az sungguh-sungguh. Kemudian, meraih tangan Nafla dan menggenggamnya untuk melangkah masuk rumah sakit bersama. Mengabaikan tatapan protes wanita yang dicintainya itu.
***
Di dalam sebuah ruangan, ada seorang pemuda yang terus saja menundukkan kepala. Di harapan pemuda itu ada seorang laki-laki paruh baya yang menatapnya serius. Tirta memang mau mereka bicara berdua saja tanpa Nafla atau Bianca.
"Aku sudah mengenalmu sejak kecil," mulai Tirta. "Hubunganku bukan hanya denganmu saja, tapi juga dengan Ayahmu, Firdaus."
Az mendengarkan dengan khidmat. Tidak berani membalas tatapan Tirta.
Perlahan Az mengangkat wajahnya, menatap Tirta yang belum selesai dengan ucapannya. "Kalau kamu memilih salah satunya, maka ... yang lainnya akan terluka."
"Maksud Pak Tirta?"
"Pergilah. Tinggalkan mereka berdua supaya adil."
Az menatap Tirta, dalam. Kemudian, tersenyum tipis. "Nggak ada yang benar-benar adil di dunia ini. Dan untuk permintaan, Pak Tirta barusan ... mohon maaf, saya menolak."
"Kamu yakin sekali bisa membahagian salah seorang dari mereka."
"Asalkan Pak Tirta merestui, saya yakin bisa."
Tirta tertawa. "Sekarang saya percaya kalau Firdaus tidak membual. Dia sering membanggakanmu."
Az mengulum senyum, lalu menunduk.
"Jadi ... Nafla atau Bianca?"
"Sejak Awal Nafla dan akan tetap Nafla."
Tirta meraih tangan Az, lalu menggenggamnya. Tatapannya kali ini menghangat. "Tolong bahagiakan Nafla."
***
Usai pembicaraan serius tersebut, kedua laki-laki itu kembali ke ruang inap. Di sana sudah menunggu Nafla dan Bianca. Papa lebih dulu menebar senyum, sedangkan Az masih sibuk mengatur napasnya agar tetap tenang.
"Sudah, Pa?" Bianca memulai, membuat Nafla menolehkan kepalanya. Kemudian, menatap Bianca dengan sorot sedih. Terlihat baik-baik saja padahal terluka merupakan sebuah seni menyakiti diri sendiri.
"Sudah belum, Az?" Papa memilih duduk terlebih dahulu, baru kemudian menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Az.
Az ikut duduk di samping Tirta, setelah dipersilakan. Kemudian, menjawab, "Sekarang tinggal bagaimana keputusan Nafla."
Mendengar namanya disebut-sebut, Nafla langsung melebarkan matanya, kaget. Lagi pula apa-apaan, sih, laki-laki dua itu justru duduk bersandingan. Seolah kompak menyidangnya.
"Naf?" Kali ini Bianca memutar pandangannya ke arah sang kakak perempuan yang duduk di sampingnya. "Sebelum pergi ke Singapura, aku mau ngeliat kalian menikah."