SUPERBIA

SUPERBIA
Milik Kamu



Percayalah, tidak mudah terlelap saat jantung terus saja berdegup tidak karuan. Terlebih, ada sesosok laki-laki tampan yang dari tadi terus saja menempel di punggung.


Seperti Nafla. Meski semalaman belum sempat tertidur, tetapi matanya tidak bisa diajak kompromi saat ini.


"Sudah tidur?" tanya Nafla hati-hati. Ia menolehkan kepalanya pelan, khawatir Az sudah tertidur dengan memeluk tubuhnya.


"Belum," jawab Az di telinga Nafla dengan suara serak. Sepertinya pemuda itu benar-benar berada sangat dekat dengannya, hingga membuat bulu kuduk Nafla seketika meremang.


"Papa sama Bia udah sampai belum, ya?"


"Kalau sampai pasti langsung mengabari."


"Hm, benar."


Hening.


Az menggeliat dan menyusupkan kembali wajahnya ke ceruk leher Nafla saat sang istri tidak lagi bicara. Namun, hal itu justru membuat tubuh Nafla tersengat dan menegang. Sehingga, ia beringsut menjauh, lalu menarik tubuhnya untuk duduk.


Az merengutkan wajahnya lucu, lalu ikut bangkit dan duduk, menghadap Nafla. "Nggak ngantuk?"


Nafla menggelengkan kepalanya pelan. "Az?"


"Hm?"


"Bajuku ...." Nafla sengaja menggantung ucapannya, lalu menoleh ke arah kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket dan sejujurnya ia ingin mandi. Namun, teringat pakaiannya tidak ada di sini.


"Mau dijemput sekarang?" tawar Az lembut. Tadi mereka memang memutuskan langsung pulang. Berniat menjemput pakaian Nafla sore nanti setelah istirahat.


"Kamu tidur dulu. Pasti ngantuk, kan?" Nafla tidak tega melihat mata Az yang tinggal beberapa watt. Tampaknya, pria itu memang benar-benar mengantuk.


"Kamu mau mandi?" Az bergerak menuruni ranjang, lalu berjalan mendekati lemari. Ia tampak memilih beberapa pakaian di tumpukan pakaiannya. Kemudian, mengeluarkan sebuah kaus oblong longgar berwarna kelabu dan celana pendek berwarna hitam.


"Pakai ini dulu, ya?" Az memberikan pakaian yang tadi diambilnya dari dalam lemari pada Nafla. Meski tampak bingung, tetapi Nafla tetap menerima pakaian ganti ajaib tersebut.


"Ini handuknya. Masih baru belum pernah aku pakai." Az mengalungkan handuk tersebut ke leher Nafla, lalu melanjutkan, "Butuh yang lain lagi?"


Spontans Nafla menggelengkan kepalanya cepat. Kemudian, berjalan ke arah kamar mandi, sebelum Az menyadari ada benda lain yang tidak bisa dicari candangan sementaranya.


"Sikat giginya ada di lemari, ya, Sayang!" teriak Az saat pintu kamar mandi ditutup Nafla.


Ini kali pertama Nafla berbagi kamar mandi dengan seorang laki-laki. Jadi, ia mengedarkan pandangannya mengamati kamar mandi milik Az yang tidak terlalu luas, tetapi lagi-lagi terkesan rapi dan bersih.


Senyum Nafla terulas begitu saja saat menatap cermin di atas wastafel. Entah kenapa ia jadi malu sendiri.


Nafla menggelengkan kepalanya kuat, lantas mulai membersihkan diri. Pikirannya kembali tersesat saat memikirkan ia memakai sabun dan sampo yang sama dengan Az. Sekali lagi senyum malu-malu terukir di bibirnya.


Usai mandi dan berganti pakaian, Nafla melangkahkan kakinya ke luar dari kamar mandi. Hatinya dibuat menghangat saat melihat Az telah terlelap di pinggir ranjang. Tampaknya, rasa kantuk pemuda itu tidak main-main.


Nafla berjalan mendekati Az dengan hati-hati, lantas memandang wajah teduh itu sejenak. Setelah merasa cukup puas, perlahan ia menarik selimut untuk menyelimuti sebagian tubuh Az dengan senyum terkulum.


Rupanya, tidak semudah itu untuk puas memandang wajah seorang Azariel Firdaus. Jadi, Nafla memilih duduk di dekat Az dan kembali memandang wajah suaminya tersebut.


Tangannya tanpa sadar bergerak pelan dan mulai bermain dengan rambut Az. Lagi-lagi senyum terbit di bibirnya. Sekarang, seluruh tubuh itu sudah menjadi miliknya.


"Iya." Az dengan cepat menahan tangan Nafla yang tampak terkejut. Kemudian, menarik tubuh Nafla agar ikut berbaring dengannya. "Semua ini milik kamu," lanjut Az nyaris berbisik.


***


Nggak ngasih gift gapapa, Bestie. Kalian cukup nonton iklan gratis aja. Poin kalian aman, aku pun senang 😂


Tapi kayaknya yang bisa nonton iklan cuma yang pakai Noveltoon aja.


Nb. Belum dibaca ulang, mungkin bakalan banyak typo.