SUPERBIA

SUPERBIA
Bukan Sebenarnya



Nafla berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat. Kemudian, mengerjapkannya pelan, sekadar mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya yang terasa menyilaukan dan membuat pening.


"Nafla?"


Kening Nafla berkerut saat melihat wajah khawatir papa tepat di hadapannya. Bukan! Bukan itu. Papa memanggilnya ... Nafla?


Belum terjawab pertanyaan di benak Nafla, papa sudah memeluk tubuhnya dengan erat. Erat sekali, seolah orang tua itu merasa takut kehilangan dirinya.


"Papa?"


Papa melepaskan pelukan, lantas menegakkan tubuhnya lagi. Kemudian, menyapukan telapak tangannya ke pipi Nafla. "Papa kira, Papa akan kehilangan kamu juga, Nafla."


Pelupuk mata pria paruh baya itu tampak basah. Ada ketulusan yang membuat Nafla merasa hatinya begitu tersentuh. Namun, sekali lagi ... papa memanggilnya Nafla?


Pintu ruang rawat terbuka dan seorang pria berpakaian perawat melesat masuk. Kemudian, dengan wajah panik mendekati ranjang Bianca yang lebih dulu sadar, lalu menggengam tangannya khawatir. "Apa yang kamu rasakan?"


Sorot mata Nafla seketika berubah redup menyaksikan adegan itu. Terlebih saat melihat senyum bahagia pelan-pelan terkembang di bibir Bianca, lalu dengan beraninya memeluk pinggang pemuda itu.


"Aku senang bisa melihatmu lagi," ucap Bianca di sela pelukannya.


Nafla membuang pandang ke arah lain. Ia tidak lagi sanggup melihat adegan itu. Kini jiwa mereka telah kembali ke tubuh masing-masing. Meski, ia belum memberitahu siapapun, tetapi tetap saja ia berharap Az mengenalinya.


"Apa yang sakit, Nafla?" Papa kembali menanyakan kabarnya, membuat Nafla menoleh pada papa, lalu memeluk orang tua tunggalnya itu dengan bibir gemetar.


"Nafla nggak apa-apa, Pa." Setetes air mata akhirnya lolos dari sudut mata Nafla.


Ia teringat saat menemukan laptop milik Bianca beberapa saat yang lalu. Baru menghidupkannya saja, Nafla langsung melihat foto Azariel terpajang sebagai wallpaper desktop.


Nafla bukan tipe orang yang mudah membuat kontak fisik dengan laki-laki, tetapi kemarin ia dengan berani menarik tangan Az dan memainkan jemarinya hanya sekedar untuk melihat reaksi Bianca. Sekali lihat saja, siapapun akan tahu, jika Bianca sedang terbakar cemburu.


Perlahan tangis Nafla berubah menjadi sesegukan. Sehingga, papa yang tidak tahu penyebabnya, memilih menepuk punggung putri sulungnya tersebut.


"Az, titip Bianca sebentar, ya. Saya mau mengantar Nafla pulang dulu." Papa menolehkan kepalanya ke arah Az yang rupanya juga sedang memandang mereka.


Az mengangguk, lalu memandang ke arah Nafla. Namun, gadis itu langsung menundukkan kepalanya.


"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Az pada Nafla.


Belum sempat Nafla menjawab, Bianca menarik tangan Az, hingga pemuda berhidung mancung itu menoleh padanya. "Aku pusing," rintih Bianca.


"Makan dulu sedikit, ya?" Az mengabaikan keberadaan Nafla dan langsung duduk di dekat Bianca. Menatap gadis itu penuh kekhawatiran.


Bianca langsung mengangguk patuh, lantas menyenderkan kepalanya ke pundak Az. "Suapin."


***


"Kenapa, Sayang?"


Meski berkali-kali ditanya, Nafla tidak pernah mau menjawab. Ia hanya pamit, lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa, Tirta?" tanya nenek khawatir.


"Mungkin Nafla kaget melihat kondisi Bianca, Bu."


Nenek mengangguk paham. Ia mengerti pasti Nafla kembali teringat dengan kondisi mendiang mamanya dulu.


"Saya pamit dulu, Bu. Bianca di rumah sakit sendiri."


"Iya, kalau Nafla sudah tenang, nanti malam Ibu ke sana."


Papa mengangguk, lantas pamit. Usai mengantar kepergian papa, nenek menolehkan kepalanya menatap pintu kamar Nafla dari jauh. Kemudian, mengembuskan napasnya.


Saat hari beranjak siang, Daniel dan Jia datang berkunjung menemui Nafla. Nafla baru tahu jika ayah dan anak itu memang kerap datang berkunjung.


Pintu diketuk dan saat Nafla membuka pintu kamar, Jia langsung memeluk kakinya, hingga membuat hati Nafla dijalari rasa hangat. Nafla melepaskan pelukan Jia, lalu berjongkok di depan gadia kecil itu. "Apa kabar Jia?"


"Jia bawa soto buat Tante." Jia dengan malu-malu berkata, hingga membuat Nafla gemas. Ia mengacak rambut Jia, lalu menggandeng tangannya.


"Kenapa repot-repot, Mas?"


Daniel tampak bingung dengan ucapan Nafla. "Bukannya kamu bilang suka makan? Jadi kalau ke sini harus bawa makanan," goda Daniel, hingga membuat Nafla gelagapan. Dasar, Bianca!


Mereka makan soto lamongan berempat. Nenek sampai geleng-geleng kepala karena Daniel ini patuh sekali dengan permintaan sang cucu yang mengharuskan membawa makanan setiap sore. Namun, bedanya sore ini Nafla tampak tidak terlalu lahap memakan sotonya. Ia lebih banyak diam sembari memperhatikan Jia makan, lalu tersenyum.


***


Votenya jangan lupa, yess.


***


Ceritanya menarik banget, nih. Bikin baper sampe ke tulang. Yuk kepoin!