SUPERBIA

SUPERBIA
Lega dan Bahagia



Tidak semudah itu membuat Nafla berhenti dari tangisnya, hingga membuat Bianca yang sedang patah hati justru tertawa geli. "Udah, Naf! Kamu nggak malu sama suami kamu kalau ingusan begini?"


Nafla menggelengkan kepalanya, tanpa berniat melepaskan pelukan pada Bianca. Ia tidak tahu, apakah keputusannya mengikuti keinginan Bianca malam ini sudah benar, yang jelas sekarang ia sedang merasa berdosa.


"Berhenti jadi orang nggak enakkan! Kamu berharga," bisik Bianca tegas, lalu dengan sedikit memaksa ia melepaskan pelukan Nafla.


Ini bukan kali pertama Bianca bicara begitu padanya. Namun, tetap saja sulit bagi Nafla.


"Kamu pantas dapetin kebahagiaan ini, Naf!" Bianca menatap Nafla sungguh-sungguh, lantas mengusap air mata di wajah pengantin baru itu. "Berhenti nangis, ok? Soalnya aku juga jadi mau nangis."


Mendengar ucapan Bianca itu membuat Nafla sedikit mengulas senyum, lalu menghapus air matanya sendiri. "Ayo, sini nangis! Aku peluk."


"Ogah!" Bianca kabur sebelum Nafla berhasil memeluknya lagi. Kemudian, merangsek masuk ke dalam pelukan Papa. "Lebih nyaman di sini."


Semuanya tergelak melihat tingkah kakak beradik tersebut. Malam ini memang tidak banyak yang hadir untuk menyaksikan prosesi ijab kabul Nafla dan Az. Hanya ada nenek yang tadi khusus dijemput, Tirta sebagai wali nikah, penghulu sebagai petugas pencatat pernikahan, dan dua orang saksi yang salah satunya merupakan guru Az sekaligus dokter senior di rumah sakit tersebut, siapa lagi kalau bukan Idan.


Idan sampai geleng-geleng kepala ketika diminta menjadi saksi pernikahan Az malam ini. Selama ini, perawat kebanggaannya itu tidak pernah terlihat tertarik dengan masalah asmara dan sekalinya terlibat langsung akad kilat begini.


Tentu saja pernikahan Az menjadi perbincangan hangat di rumah sakit. Banyak yang tidak menyangka dan banyak pula yang berharap ini cuma kabar angin saja. Namun, saat melihat Idan memakai koko dan kopiah, lutut perawat wanita langsung lunglai dibuatnya.


Malam ini Nafla tampak cantik dengan menggunakan kebaya modern berwarna wardah dan rambut yang gelung anggun. Riasan wajahnya disponsori langsung oleh sang adik yang tidak diragukan lagi keahliannya.


Tadi, Papa sempat tampak terperangah melihat Nafla. Melihat putri sulungnya itu membuatnya teringat pada mendiang sang istri yang begitu teduh dan manis. Tipe wajah yang membuat orang betah lama-lama menatapnya.


Nafla menundukkan kepalanya, lantas beringsut pelan mendekati Az yang sekarang telah menjadi suaminya. Kemudian, dengan malu-malu meraih tangan Az dan dengan khidmat mencium punggung tangannya. Namun, Nafla dibuat terperanjat saat kedua telapak tangan Az menangkup wajahnya dan menariknya mendekat. Kemudian, sebuah kecupan hangat dan dalam sontak mendarat di dahi Nafla.


Mata Nafla seketika membulat. Ia tidak menyangka akan mendapat kecupan mesra di depan umum seperti ini. Terlebih Idan bersorak begitu bersemangat dengan diikuti sorakan dan tepukan tangan yang lainnya.


"Udah sah, langsung bawa pulang Az!" goda Idan yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


Bianca yang masih berada di dalam pelukan Papa tampak mengulas senyum tulus. Kali ini, ia sedang tidak bersandiwara. Hatinya benar-benar terasa lega dan bahagia melihat kebahagiaan di depannya.


***


Tolong, Jika jangan dimarahin kalau update-nya lama, Kakak. Jika tuh lagi sibuk menabung dosa mantengin Mas Bian, wkwkwk.


Ga usah nanya-nanya Mas Bian itu siapa 😚