SUPERBIA

SUPERBIA
Melihatnya Lagi



Nafla masih saja memikirkan ekspresi wajah Faiz tadi. Ia cukup puas melihat mantan pacar seharinya itu kelabakan. Sesekali ia bahkan tampak tersenyum sendiri.


"Az, kalau misiku berhasil. Aku teraktir kamu makan enak." Pelan-pelan, Nafla sudah menganggap Az sebagai temannya. Sekarang, ia mulai ingin berbagi kebahagian dengan Az. Namun, bukannya antusias, reaksi pemuda yang sedang menyetir itu justru dingin, hingga membuat Nafla mendecak kesal.


"Kamu nggak merasa keterlaluan?" Tiba-tiba Az, berbicara. Ia menarik tisu di atas dashboard, lalu memberikannya pada Nafla dengan ekspresi datar.


Nafla yang bingung, hanya mengambil tisu itu saja, hingga Az menggerakkan kaca spion dalam ke arah Nafla. Barulah gadis itu sadar, jika lipstik di bibirnya berantakan.


"Aku tidak tau tujuanmu, tapi ini terlihat kelewatan," lanjut Az saat Nafla merapikan lipstik di bibir menggunakan tisu yang diberikannya tadi.


Pergerakan tangan Nafla terhenti. Kini gadis berambut cokelat itu menatap Az tajam dari balik kaca spion. "Karena kamu nggak tau, maka lebih baik diam!"


Air mata Nafla menetes tanpa kendali, hingga ia langsung memalingkan wajahnya cepat ke arah jendela. Sepertinya, keputusan untuk menganggap Az sebagai teman, salah besar.


"Kamu takut Bia dicap murahan? Kamu takut aku berbuat hal yang ngerugiin Bia? Kalau itu yang kamu takutkan, kamu tenang aja," cecar Bia tajam.


Diam-diam Az merasa menyesal. Ia tidak menyangka, Nafla akan menangis karena ucapannya. Inilah salah satu kekurangan Azariel Firdaus, ia tidak tahu cara meminta maaf.


Usai pertengkaran itu, tidak ada lagi yang bicara. Keduanya sama-sama diam dan selalu menghindari kontak mata.


Sesampainya di rumah, Nafla menemukan sang ayah akhirnya pulang. Wajah pria paruh baya itu tampak kelelahan. Namun, masih sempat-sempatnya ia menyambut kepulangan Nafla dengan hangat.


"Gimana kabarmu, Bia?" Papa mengusap puncak kepala Nafla seperti biasa. Hal yang sangat Nafla rindukan. Namun, hatinya sakit saat sadar, jika usapan sayang itu bukan benar-benar untuknya.


Nafla menepis tangan papa dengan kasar. Suasana hatinya tidak terlalu baik untuk bersandiwara sekarang. Ia bahkan beranjak pergi dari sana, meninggalkan papa yang masih memanggil namanya dengan nada khawatir.


Bia, Bia, Bia! Semua tentang Bianca!


Nafla melempar kuat ponselnya ke arah figura besar yang berisi foto Bianca, hingga keduanya pecah berderai. Ia benci wanita itu. Ia benci semua orang yang ada di rumah ini.


Nafla melangkah keluar kamar dengan dada bergemuruh. Kemudian, memakai salah satu mobil yang terparkir di carport setelah merebut paksa kunci dari sopir.


Gadis itu bisa menyetir. Dulu, ia pernah ikut kursus menyetir, bahkan difasilitasi sebuah mobil oleh nenek untuk kuliah.


Sekarang, ia mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan. Air matanya masih saja luruh, meski berulang kali ia menghapusnya dari pipi.


Tanpa disadari, Nafla tiba di depan rumah bercat hijau. Rumah yang terlihat selalu asri dan sejuk, tetapi menjanjikan kehangatan di dalamnya.


Ada nenek yang sedang duduk di kursi teras. Wajahnya tampak sendu, menatap tanaman-tanaman kesayangan. Ingin sekali menyapa, namun belum saatnya.


Tiba-tiba, Nafla ingin tahu dengan nasib tubuhnya. Ia kembali memacu mobil untuk menuju rumah sakit terdekat. Mudah-mudahan nasibnya mujur, hingga bisa segera tahu kabar dirinya sendiri.


Nafla langsung menuju resepsionis dan menyebut nama lengkapnya sendiri. Ia juga memperkenalkan diri, sebagai adik pasien korban kecelakakan tersebut. Beruntung urusannya tidak dipersulit dengan syarat ia harus meninggalkan kartu identitas.


Ruang yang dimaksud adalah ruang ICU yang tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalamnya. Sehingga, Nafla hanya diizinkan melihat dari kaca pintu saja.


Meski telah sampai di depan ruangan yang dimaksud, tetapi Nafla enggan mengintip ke dalam sana. Ia selalu takut melihat orang sakit. Ia terlalu takut, melihat kondisi tubuhnya sendiri.


"Ada yang bisa dibantu, Bu?" Seorang perawat wanita menghampirinya. Sehingga, dengan cepat Nafla menarik tangannya yang gemetar ke belakang.


"E ... pasien di dalam, keadaannya gimana, Sus?"


Perawat tersebut tidak langsung menjawab. Ia menatap Nafla baik-baik, hingga Nafla terpaksa memperkenalkan dirinya.


"Saya Bianca Zehra, adik kandung Nafla."


Perawat mengangguk percaya. "Nona Nafla mengalami cedera kepala traumatis yang menyebabkan pembengkakan otak. Itu sebabnya ia kehilangan kesadarannya."


"Apa ... dia bisa sembuh?"


Sebelum perawat wanita itu menjawab, seorang pria berahang tegas, berpostur tegap dengan tubuh yang dibalut dengan pakaian khusus penjenguk ruang ICU tampak membersihkan tangannya dengan cairan handsainitizer. Kemudian, dengan santai memasuki ruangan tempat Nafla di rawat.


Sontak Nafla melebarkan matanya kaget. Seingatnya, ia tidak mengenal pria tampan itu.


"Siapa dia?" tanya Nafla panik pada si perawat wanita.


"Tuan Daniel." Sepertinya, perawat wanita mulai sadar telah banyak bicara. Maka, ia memilih pamit dan meninggalkan Nafla yang akhirnya memberanikan diri mengintip lewat kaca pintu.


Darahnya berdesir saat melihat wajahnya sendiri tengah terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup. Wajah yang begitu pucat dengan dikelilingi alat-alat kesehatan yang tidak diketahui Nafla nama dan fungsinya.


Ternyata aku masih hidup.


Tatapan Nafla terkunci pada wajah pucat di balik kaca. Tanpa sadar, tangannya perlahan bergerak menyentuh handel pintu. Secara naluri, ia ingin masuk, tetapi secara logika ia tidak ingin mendekati tubuh itu.


Pintu ruang ICU perlahan terbuka, lalu tertutup kembali. Nafla memundurkan langkahnya, menatap waspada pria bertubuh tegap tadi yang kini sudah berdiri di depannya.


"Anda siapa?"


***


Rekomendasi yang bagus buatmu ...