SUPERBIA

SUPERBIA
Khawatir



Semenjak memutuskan kembali ke rumah sakit, Az ditugaskan di Instalasi Gawat Darurat. Semua hal-hal yang bersifat emergency hampir ada setiap harinya dan itu sangat melelahkan.


Seperti malam ini, rasanya Az belum ada meletakkan bokongnya lebih dari 10 menit karena selalu ada pasien yang harus cepat ditangani. Tidak hanya Az, rekan Dokter dan Perawat lainnya juga tampak lelah akibat totalitas mereka.


Saat perawat shift selanjutnya tiba, Az baru bisa menghenyakkan tubuhnya di kursi dekat lorong setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu dan mengisi absen. Wajahnya tampak begitu lelah. Meski ia menyukai pekerjaan tersebut, tetapi malam ini ada hal yang menganggu pikirannnya.


Lama Az terdiam di sana, menikmati suasana hening lorong subuh ini, meski di dalam ruang UGD masih tampak sangat sibuk. Sebetulnya ada ruang istrirahat yang dilengkapi ranjang untuk para tenaga medis. Namun, Az biasanya lebih memilih pulang untuk merebahkan tubuhnya.


Suara roda brankar yang didorong kembali terdengar sesaat setelah suara sirine ambulans memasuki halaman rumah sakit, pertanda kesibukan UGD masih berlanjut. Az beranjak dari duduknya, lantas berjalan menuju pintu keluar. Seketika detak jantungnya terasa menyentak kasar saat brankar yang didorong petugas medis melewati dirinya.


Az menolehkan wajahnya cepat, memandang wajah pucat gadis dengan alat bantu napas yang terbaring di atas brankar. Seketika matanya melebar.


"Nafla?" Tubuh Az mematung. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan spontanitasnya.


Brankar yang membawa Nafla sudah lagi tak terlihat dan lorong kembali sepi. Hanya ada papa yang berdiri seorang diri di depan pintu dengan wajah kalut. Meski begitu, Az tidak berniat menghampiri dan menenangkan laki-laki itu.


Untuk pertama kalinya, Azariel Firdaus merasa ... takut.


***


Meski pagi telah berganti sore, Nafla belum juga diizinkan pulang. Inseiden gagal napas subuh tadi, membuat dokter yang menangani riwayat penyakitnya merekomendasikan Nafla untuk rawat inap. Apalagi suhu tubuh gadis itu masih tergolong tinggi.


Gadis itu kini memang telah sadarkan diri, tetapi tadi ia nyaris kehilangan nyawa. Sekarang tubuhnya sedang terkulai lemah di ranjang, tampak pucat dan tidak bertenaga.


Enam belas kantong yang ditransfusi ke tubuhnya tidak cukup membantu. Produksi sel darah putih abnormal di tubuhnya sangat cepat, hingga merusak sel darah sehat. Sore ini saja, rencananya kembali akan dilakukan penambahan transfusi darah merah.


Az belum tidur semalaman. Namun, ia tetap menolak untuk pulang dan justru duduk di samping ranjang Nafla. Menatap dalam gadis itu tanpa bicara. Sedangkan, papa tampak sedang menelpon seseorang di luar sana.


"Kenapa melihatku begitu?" tanya Nafla yang merasa risih dipandangi Az terus. Alat bantu napas sudah dilepas beberapa saat yang lalu. Kini ia bahkan sudah duduk bersandar dengan seragam khas pasien dan tentu saja dengan jarum yang menancap di lengannya.


"Khawatir. Apa lagi?"


"Nggak usah senyum!"


"Kenapa?"


"Aku lagi khawatir," balas Az ringan, lantas meletakkan kepalanya di pangkuan Nafla dan memejamkan mata. Mencoba mengusir rasa takut yang bercokol di dadanya.


Seketika tubuh Nafla menegang. Ia menatap kepala Az yang berada di atas pangkuannya tanpa berkedip.


"Az?"


"Jangan ganggu! Aku mau tidur sebentar," ucap Az tanpa membuka matanya. Membuat tangan Nafla yang hendak mendorong kepala Az mengambang di udara.


Lama terdiam, Nafla mencoba mengintip wajah Az yang membelanginya. Sekadar memastikan, jika pemuda itu benar-benar terlelap dan sepertinya memang sudah tidur.


Hati-hati, Nafla mengangkat tangan kirinya. Kemudian, menyentuh ujung rambut Az yang lama-lama berubah menjadi usapan lembut di kepala pemuda itu. Untuk kali pertama Nafla berhasil menyentuh, bahkan mengusap kepala Az, hingga sebuah senyum hangat perlahan terulas di bibir Nafla.


"Benar-benar mengkhawatirkanku, ya?" gumam Nafla dengan senyum kian sumringah.


"Hm."


O-ow!


Mata Nafla sontak terbelalak. Ia mengangkat tangannya cepat dari kepala Az. Persis seperti tersangka yang tertangkap basah.


***


Selagi nunggu SUPERBIA update, yuk mampir ke novel temanku yang kece. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya!