SUPERBIA

SUPERBIA
Emang Penting?



"Aku juga sayang kamu."


"Aku nggak nulis itu!" Nafla menatap Az tidak terima. Kemudian, melangkah mendekati pemuda berhidung mancung tersebut untuk merebut kembali kertas tadi.


Kali ini Az pasrah saja saat Nafla merebut kertas berisi pesan singkat itu dari tangannya. Senyum geli justru terulas di bibir Az ketika melihat Nafla serius membaca kembali tulisannya sendiri di secarik kertas tersebut. Membuatnya gemas saja.


Az melangkahkan kakinya maju, lantas memeluk Nafla dengan gerakan lambat. Kemudian, meletakkan dagunya di atas kepala gadis itu.


Nafla melebarkan matanya, kaget. Ia tidak menyangka, Az akan memeluknya seperti ini.


"Aku nggk bisa marah lama-lama sama kamu, tapi jangan ulangi lagi, ya," ucap Az lembut. Terlalu lembut, hingga membuat detak jantung Nafla berdetak tidak karuan.


Tangan gadis itu masih memegang secarik kertas dengan tulisan, temui aku kalau kamu udah nggak marah. Kertas yang tadi ia rebut dari Az itu, kini tak lagi membuatnya minat untuk dibaca. Kini, ia terlalu sibuk menenangkan hatinya.


Tubuhnya menegang saat Az semakin mengeratkan pelukan dan menghela napas. Kemudian berkata, "Kuno banget sayangnya aku, tapi aku suka."


Uhuk!


Benar-benar kejutan bagi Nafla saat ia mendengar seorang laki-laki dingin seperti Az bisa mengucapkan kalimat semanis itu. Sempat terlena, tetapi kini Nafla mencoba melepaskan pelukan Az. Tiba-tiba ia merasa malu. Namun, pemuda itu seolah tidak rela melepaskan pelukannya.


"Sebentar, Naf. Aku butuh kamu."


Nafla kembali bergeming. Menikmati hangatnya perlakuan pemuda itu dan aroma parfum yang manis.


"Aku dengar, kamu berhenti dari rumah sakit?" tanya Nafla pelan.


"Hm."


"Kenapa?"


"Hm?"


"Dih!" Nafla mendorong pelan dada Az, lalu menatap pemuda itu serius. "Kamu beneran mau ke Jerman?"


Tatapan Az terlihat begitu teduh. Ia bahkan membantu menyelipkan rambut Nafla yang tertiup angin ke belakang telinga gadis itu.


"Emang kenapa?"


"Az ...." Nafla merengek nyaris menangis, lalu menundukkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa tidak rela. Benar-benar tidak rela.


"Menikahlah denganku, Nafla Afanin Tirta. Supaya kita bisa terus bersama."


Sejenak Nafla tampak tertegun. Ia terus menatap mata Az yang selalu menawarkan keteduhan.


Kening Az sontak berkerut, hingga Nafla menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan! Maksud aku ... kamu suka wajahnya Bianca, kan?"


"Apa?"


"Eh, gimana, sih?" Nafla jadi bingung sendiri. Terlebih Az terus saja menatapnya, menuntut penjelasan, hingga membuatnya menundukkan lagi kepalanya, salah tingkah. Namun, gumaman Az membuat Nafla kembali mengangkat wajahnya dengan cepat.


"Nafla bodoh."


Nafla mendecak keras, lalu melotot mendengar ucapan pelan Az tersebut.


"Emang bodoh, kan?" ulang Az tanpa rasa bersalah.


Nafla melebarkan matanya tidak terima. Baru saja ia merasa Az begitu hangat dan menyenangkan, tetapi sekarang sudah kambuh lagi.


"Udah tau di mata, otak, hati, dan duniaku cuma ada kamu, masih juga nanya pertanyaan bodoh kayak gitu," gerutu Az. Namun, gerutuannya itu terdengar lucu sekali, hingga membuat Nafla tanpa sadar mengulas senyum.


"Nggak usah senyum!"


Nafla langsung memasang ekspresi cemberut di wajahnya. Kemudian, berkata dengan dagu terangkat, "Emang pernah bilang cinta?"


"Emang penting?"


"Penting!"


"Aku cinta kamu, Nafla."


Seketika Nafla tergugu, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Skak mat!


***


Jangan ada lagi yang komen, "Kok pendek, ya, Jik?"


Karena ... emang pendek 😭


Jangan ada lagi yang nanya, "Kok Mas Duda nggak update, Jik?"


Karena ... emang nggak update.


Jangan ada lagi yang bahas, kapan khilaf crazy up, Jik?


Kagak akan, wkwkwk.