SUPERBIA

SUPERBIA
Pemalu



Pelukan Az baru terlepas saat suara bel berbunyi. Mata Nafla sontak melebar karena ia tahu siapa yang telah datang. Sedangkan, Az hanya mengangkat kedua bahunya ringan, lantas merangkul Nafla untuk berjalan menuju pintu.


Makanan telah terhidang di atas meja. Tadi, mereka sudah memesan makanan via online karena tidak ada lagi waktu untuk memasak.


"Assalamualaikum."


Az menurunkan tangannya dari pundak Nafla untuk memutar anak kunci. Kemudian, menarik handel pintu, hingga pintu terbuka lebar.


"Wa'alaikumsalam."


Ayah dan Ibu Az tersebut langsung memandang ke arah Nafla dengan senyum haru. Ibu maju lebih dulu, lantas memeluk Nafla dengan sayang.


"Apa kabar, Nak?" Mata ibu tampak berembun. Dulu, semasa kecil gadis ini sering dipeluk dan digendongnya.


Nafla tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih merasa bingung. Namun, dengan lembut ia menjawab, "Sehat. Ibu gimana?"


Wanita berhijab itu melonggarkan pelukannya, lalu menatap wajah Nafla lagi. Wajah yang telah lama tidak lagi pernah dilihatnya.


"Kamu masih ingat ibu?"


Nafla kembali gugup, lalu tersenyum canggung. Hingga, Ayah ikut menimpali, "Mana mungkin ingat, Bu. Dulu, Nafla masih kecil sekali."


Ibu menoleh pada Ayah lalu mengangguk setuju. Sedangkan, Nafla langsung meraih tangan ibu dan ayah untuk mencium punggung tangannya.


"Akhirnya Az dapetin kamu juga, Naf. Dari kecil dia udah nyebut nama kamu terus," goda Ayah.


"Az selalu tau apa yang dia mau," tambah ibu. Sedangkan, yang digoda hanya tersenyum saja. Kemudian, ikut mencium punggung tangan Ayah dan ibunya tersebut. Suami Nafla itu kembali bersikap tenang seperti Azariel Firdaus biasanya.


"Harusnya biar kami aja yang datang ke sana, Bu," ujar Nafla sembari mempersilakan Ayah dan ibu masuk.


"Hm, rencananya besok kami mau ke sana," timpal Az.


"Nggak apa-apa. Ibu udah nggak sabar." Ibu menoleh pada Nafla, lalu melanjutkan, "Sebenarnya, kami justru mau datang tadi malam. Sayang sekali kami nggak bisa menyaksikan kalian akad."


"Nggak apa-apa, Bu." Nafla menggenggam tangan ibu, lalu tersenyum.


Pernikahan mereka tadi malam memang serba mendadak. Nafla bahkan sangat bersyukur karena kedua orang tua Az langsung merestui niat mereka, padahal hanya dihubungi via telepon saja.


Az mempersilakan kedua orang tuanya untuk duduk di sofa. Sedangkan, Nafla memilih pamit ke dapur untuk menyiapkan minuman.


"Gimana keadaan Pak Tirta dan Bia, Az?" tanya Ayah sembari mendudukkan dirinya di sofa.


Az yang awalnya memandang kepergian Nafla ke dapur, kembali menoleh menatap Ayah. Kemudian, ikut duduk. "Belum ada kabar, Yah. Mungkin lagi sibuk."


Ayah mengangguk dan Az kembali menolehkan kepalanya ke arah dapur. "Aku ke dapur dulu, ya," pamit Az sambil cengengesan, lalu beranjak dari duduknya untuk menyusul Nafla.


Az berjalan pelan mendekati Nafla yang tampak sibuk memilih cangkir di dalam lemari. Pria berhidung mancung itu tanpa aba-aba langsung memeluk Nafla dari belakang, sepertinya sudah jadi kebiasaan barunya.


"Tau dimana letak gulanya?" tanya Az sembari menyenderkan dagunya ke pundak Nafla.


"Ini, kan?" Nafla menarik toples kaca, lalu membukanya. "Ayah sama ibu suka minum apa?"


"Nafla?"


Az langsung melepaskan tangannya dari perut Nafla, lalu melangkah mundur dengan cepat saat terdengar suara ibu. Tampaknya pemuda itu kaget sekali.


Sebenarnya Nafla juga kaget, tapi ia lebih kaget lagi melihat reaksi Az tersebut. Kemudian, terkikik geli.


"Iya, Bu?" sahut Nafla, mencoba menghentikan tawanya.


Tidak lama kemudian, ibu muncul dan tersenyum. "Ibu bantu, ya?"


Nafla mengangguk, lalu tersenyum. "Ibu nggak capek?"


"Nggak. Cuma duduk aja, kok." Ibu berjalan mendekat, lalu menoleh menatap Az yang berdiri di dekat Nafla. "Kamu duduk aja, temani Ayah. Biar ibu yang bantu istrimu."


"Iya, Bu." Az menggaruk belakang kepalanya, lalu dengan berat hati pergi meninggalkan kedua wanita itu. Namun, sesekali ia masih menoleh pada Nafla yang sudah tampak mengobrol bersama ibu.


"Az itu nggak pernah pacaran, loh, Naf," mulai ibu yang disambut tatapan tidak percaya Nafla.


"Az itu anaknya kaku. Apa lagi sama perempuan," lanjut ibu nyaris terkekeh. "Jadi kamu jangan kaget, ya, kalau Az nggak romantis. Dia pemalu benget soalnya."


Nafla tampak tertegun, lalu tidak lama kemudian terkekeh pelan. "Iya, Bu. Kak Azar emang pemalu," balasnya geli sendiri.


***


Saat makan siang, ayah dan ibu lebih banyak mengobrol dengan Nafla. Ada banyak cerita yang ingin ia dengar dari istri putra pertama mereka itu. Lagi pula, bagi mereka Nafla sudah seperti anak sendiri sejak lama.


Sesekali Az menoleh pada Nafla, lalu menekuk wajahnya lagi sambil makan. Ia merasa diabaikan istrinya sendiri. Padahal, kan harusnya pengantin baru sedang hangat-hangatnya.


Perlahan tangan kiri Az terulur ke bawah meja. Kemudian, menarik tangan kiri Nafla dan menggenggamnya. Sontak saja senyum terulas di bibir Az.


Nafla yang sedikit terkejut oleh ulah sang suami tersebut, ikut menoleh. Kemudian, tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba ia jadi teringat dengan ucapan ibu tadi dan berniat menggoda Az.


"Kak Azar, tolong dekatkan sup ayamnya pada Ayah." Nafla tiba-tiba bersuara, hingga membuat Az menoleh dengan kedua alis terangkat.


"Sup ayam," ulang Nafla tanpa rasa berdosa saat melihat Az belum melakukan intruksinya.


Bukannya Az tidak mendengar ucapan Nafla, tapi ia sedang kebingungan karena Nafla tidak mau melepaskan sebelah tangannya. Sedangkan, wadah sup yang dimaksud cukup besar dan berat. Jadi, tidak mungkin ia mengangkatnya dengan sebelah tangan.


Az menatap Nafla dengan pandangan memohon, tetapi tampaknya sang istri masih ingin terus menjahilinya. Jadi, Az terpaksa menganggkat wadah sup hanya dengan sebelah tangannya, hingga tangannya terlihat gemetar, keberatan.


"Hati-hati, Az!" Ibu berdiri dan meraih wadah sup tersebut, dari pada jatuh dan tumpah. Kemudian, menatap Az khawatir. "Tangan kiri kamu sakit?"


"Tangan kamu sakit, Sayang?" tanya Nafla tiba-tiba.


"Uhuk!" Az terbatuk keras, lalu membulatkan matanya menatap Nafla.


Ckckck! Benar-benar Azariel Firdaus yang pemalu.