SUPERBIA

SUPERBIA
Rasanya Sudah Sempurna



Usai makan dan berbincang, Nafla berniat menjemput pakaiannya ke rumah nenek. Awalnya, ia ingin berangkat sendiri saja, tetapi Az tidak mengizinkan dan bersikeras ingin mengantar.


Ayah dan ibu yang mendenger percakapan mereka dan dengan antusias berkata ikut berkunjung ke sana.


"Sudah lama sekali kami nggak bertemu Bu Lika," ujar ibu. Kalau sudah begitu, Nafla pasrah saja. Awalnya ia ingin nekat pergi sendiri, tapi justru diantar kini ia dikawal oleh tiga orang.


Keberatan? Tentu tidak. Nafla justru merasa terharu. Keluarga lengkap yang dulu diidam-idamkannya, kini telah jadi kenyataan.


Az dan ayah duduk di depan, sedangkan Nafla dan ibu duduk di kursi penumpang. Mereka kembali berbincang. Mulai dari keempat adik Az yang sedang mondok di pesantren, hingga usaha mandiri Az yang bikin Nafla tercengang.


"Travel?"


"Iya, selain kerja di Rumah Sakit, Az ini punya usaha travel. Kamu belum tau, Naf?"


Nafla memandang ke arah depan, ke arah Az yang sedang menyetir. Ia yakin, suaminya itu mendengar percakapannya dengan ibu, tapi tetap saja Az bersikap tenang, seolah tidak mendengar.


Nafla kembali menatap ibu, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Azariel Firdaus, suaminya.


Sesampainya di rumah nenek, mereka disambut dengan begitu hangat. Mendengar Nafla akan pulang bersama suaminya, membuat nenek masak besar.


Sempat tercipta suasana haru saat ayah dan ibu Az datang mengucapkan salam dan menanyakan kabar. Nenek Nafla itu sampai tak kuasa menahan tangis karena ia kembali teringat pada mendiang putri semata wayangnya.


"Kalau saja Zahrah masih ada, dia pasti senang sekali bisa bertemu kalian lagi," ujar nenek, lirih.


Ayah dan ibu sama-sama tertunduk sedih. Mendiang Zahra begitu berkesan untuk mereka. Ibu kandung Nafla itu merupakan sosok yang lembut dan memperlukan mereka layaknya keluarga.


"Kami beruntung mendapatkan Nafla, Bu. Nafla membuat kami seolah-olah kembali melihat Bu Zahrah," ucap ibu sungguh-sungguh.


Nenek menoleh, menatap Nafla, lantas mengangguk. "Benar, Nafla sangat mirip dengan Zahrah."


Niat hati hanya ingin mengambil pakaian, Nafla, Az dan kedua orang tuanya justru dipaksa menginap oleh nenek. Rasanya seolah kembali ke masa lalu, saat semuanya terasa bahagia dan baik-baik saja.


Sejak tadi, Nafla sudah diisolasi oleh ibu dan nenek. Mereka terus saja mengobrol di dalam kamar sembari membuka album foto, lalu cekikikan.


Ayah melirik ke arah Az, lalu mengusap pundaknya. "Sabar, ya. Malam ini kamu harus tidur sendiri."


Az tidak menjawab. Ia hanya menekuk wajahnya, lalu melangkah menuju kamar yang tadi ditunjukkan oleh nenek, tanpa Nafla. Ulangi, tanpa Nafla.


***


Usai salat subuh berjamaah di mushala, Az langsung kembali ke kamar, hingga membuat Nafla memandangnya heran. Namun, Nafla tidak sempat bertanya karena ibu dan nenek kembali menariknya menuju dapur dan kembali bercengkrama.


Meski sinar mentari telah terang dan sarapan telah terhidang, tetapi belum juga keluar kamar. Hal ini, membuat Nafla pamit pada nenek dan ibu untuk memanggilnya makan.


Ibu menoleh pada Ayah yang dengan santainya mengangkat kedua bahunya. Padahal ia tahu persis anak lelakinya tengah merujuk.


"Kak Azar?" Nafla membuka pelan pintu kamar dan mendapati Az tengah terbaring di atas ranjang. Kening Nafla berkerut, lalu dengan hati-hati berjalan mendekati sang suami dan duduk di dekatnya.


"Kak Azar sakit?" tanya Nafla pelan, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Az.


"Nggak panas," gumam Nafla. Sedangkan, Az tetap saja berbaring dengan mata terpejam.


"Kak Azar tidur?" tanya Nafla sekali lagi. Kali ini ia memainkan jemari Az. Namun, Az justru membalikkan tubuhnya membelakangi Nafla.


Awalnya Nafla merasa heran, tapi kemudian, senyum geli tersungging di bibirnya. "Oh, lagi ngambek?"


Ucapan Nafla tersebut berhasil membuat Az membuka matanya dan menoleh. "Aku nggak tidur semalaman," ucapnya datar.


Sontak saja mata Nafla membulat. "Kok bisa?"


"Pakai nanya lagi!" Az menarik pinggang Nafla, hingga membuat wanita itu terguling ke atas ranjang dan cekikikan.


Bak pemain profesional, Az berhasil mengunci tubuh Nafla di bawah kungkungan. Kemudian, menatap wanita yang baru dinikahinya itu dengan pandangan berkabut, hingga membuat Nafla salah tingkah.


"Az ... kita ...." Ucapan Nafla tidak terselesaikan akibat pria yang katanya pemalu itu telah membungkam bibir Nafla dengan sangat apik, hingga membuat wanita di bawahnya itu melenguh tertahan.


"Az ...."


Az tidak pernah membiarkan Nafla bisa menyelesaikan ucapannya karena ia sendiri ingin segera menyelesaikan sesuatu. Pria berhidung mancung itu begitu lihai dan bersemangat, hingga ....


"Azar, Nafla? Ayo, makan!"


Aish!


***


Begitulah kira-kira, ya, Bestie.