
Meski telah menikah, enah kenapa Nafla merasa canggung saja saat Az memesan satu kamar hotel untuk mereka. Ulangi, hanya satu kamar.
Rupanya tidak hanya Nafla karena Az juga sama canggungnya. Berkali-kali pemuda itu tampak mengusap tengkuknya sendiri dan sesekali mengedarkan pandang. Berharap tidak ada yang ia kenal, wkwkwk.
"Kak Azar yakin kita mau menginap di sini?" Nafla menggeser tubuhnya, mendekati Az yang sedang berdiri di depan resepsionis. Kemudian, melanjutkan dengan berbisik, "Ini masih siang, loh."
Mendengar ucapan Nafla tersebut, membuat Az sekali lagi mengedarkan pandang. Gelagatnya persis orang yang sedang melakukan dosa besar dan takut digrebek masa. Kemudian, ikut menggeser tubuhnya dan berbisik di telingan Nafla. "Jadi, mau di dalam mobil aja?"
Kemana akhlaknya?
***
Berhasil memesan sebuah kamar hotel, Az memilih langsung mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Sedangkan, Nafla lebih memilih berdiri. Suasana benar-benar canggung.
Beruntung ponsel Nafla berbunyi, hingga membuat wanita itu bergerak mencari ponselnya di dalam tas. Kemudian, mengeluarkannya.
"Papa," beritahu Nafla dengan mata bulat menggemaskan. Setidaknya, itulah yang dirasakan Az. Ia gemas sekali setiap melihat Nafla membuatkan matanya seperti itu, hingga tanpa sadar senyum terbit di bibirnya. Kemudian, menarik pelan tangan Nafla agar duduk di dekatnya.
"Ayo, dijawab!" ucap Az pelan.
Nafla menganggukkan kepalanya, lalu jemarinya bergerak untuk menggeser icon berwarna hijau. Kemudian, menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Assalamualaikum, Pa."
Entah apa yang dibicarakan ayah dan anak itu karena Az tidak lagi memfokuskan perhatiannya pada obrolan tersebut. Ia justru terlena setiap kali melihat Nafla mengembangkan senyum dengan antusias.
Perlahan Az menggeser tubuhnya semakin mendekat pada Nafla. Kemudian, memeluknya dari belakang. Sekali lagi ia tersenyum karena tampaknya Nafla belum juga terbiasa dengan sentuhannya.
Nafla menolehkan kepalanya ke belakang sebentar, memandang ke arah Sang Suami, lalu kembali fokus pada obrolannya di telepon seluler. Sedangkan, Az mulai menyenderkan dagunya ke pundak Nafla dan mengeratkan pelukannya. Bahkan, semakin lama tangan dan bibirnya semakin kurang ajar menjelajah, hingga membuat Nafla terpekik kaget.
"Kenapa Naf?" terdengar samar-samar suara Papa bertanya dari balik sambungan telepon. Mungkin, ia khawatir mendengar anak perempuannya tiba-tiba berteriak.
Nafla tidak langsung menjawab pertanyaan papa tersebut karena ia memilih menolehkan kepalanya ke arah Az, lalu melotot kesal. Ia tidak tahu saja jika ekspresi kesalnya itu justru membuat Az tidak sabar ingin menelannya.
"Nggak apa-apa, Pa. Ada kecoak aja barusan," jawab Nafla asal.
"Panggil Az! Suruh buang kecoaknya," balas Papa.
Nafla sudah hampir cekikikan, sedangkan Az memilih melepaskan pelukan dari tubuh Nafla dengan wajah cemberut.
"Kecoak yang ini nakal, Pa," sahut Nafla sembari menahan tawa.
Tampaknya kali ini Papa cukup paham dengan bahasa isyarat itu. Meski tidak terlihat, tapi Nafla tahu jika Papa sedang tersenyum saat berkata, "Sekarang Papa semakin yakin sudah menitipkan kamu pada orang yang tepat."
"Sekarang matikan ponselnya dan cepat kasih kecoaknya makan."
Ucapan Papa tersebut membuat Nafla tertawa. "Oke, Pa. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sambungan terputus. Nafla menatap layar ponselnya sejenak masih dengan senyuman yang betah bertengger di bibirnya. Kemudian, meletakkan ponselnya ke atas nakas. Sedangkan, Az masih betah memasang tampang datar.
"Papa dan Bia baik-baik saja," beritahu Nafla.
Az mengangguk, meski tampangnya masih dingin-dingin saja.
"Besok Bia baru bisa bertemu dengan dokter ahli yang akan menangani penyakitnya."
Sekali lagi Az mengangguk mendengar informasi dari istrinya tersebut. Sedangkan, Nafla yang baru menyadari sesuatu, langsung mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu ngambek?"
Az mendengkus. Ekspresi wajahnya masih saja datar. "Ngapain peduli sama kecoak?"
Hal itu justru membuat Nafla cekikikan. Tampaknya, ia memang sudah keterlaluan.
"Maaf, ya, Sayang." Nafla mencondongkan tubuhnya ke arah Az, lalu memeluk suaminya itu dengan erat. Kemudian, mendongakkan kepalanya, hingga jarak wajah mereka begitu dekat.
"Masih marah?"
Az diam saja, hingga dengan ragu-ragu Nafla mengecup bibirnya dengan cepat. "Masih marah?"
Az masih diam dan kali Nafla mulai merasa khawatir. Ia berniat menjauhkan tubuhnya dari Az agar bisa meminta maaf dengan benar, tapi dengan cekatan Az justru menahan pinggangnya.
"Begitu saja?" tanya Az dengan intonasi datar dan detik selanjutnya pria berhidung mancung itu telah menguasai keadaan dengan mel*mat bibir Nafla.
Hanya sebentar karena kini Az melepaskan pagutannya dan memandang wajah Nafla yang sudah memerah itu dengan lekat. Mata mereka beradu dalam jarak dekat, hingga membuat jantung keduanya berdegup tidak karuan.
"Nafla," panggil Az lembut. Tangan Az mulai bergerak menelusuri mata, hidung, dan bibir Nafla dengan sangat lembut.
Gerakan tangan itu, tatapan mata itu, hingga helaan napas seorang Azariel Firdaus benar-benar berhasil membuat Nafla terkurung dalam pesonanya.
"Aku mencintaimu, bahkan sebelum aku memahami arti cinta. Terima kasih sudah hadir di hidupku, Nafla Afanin Tirta. "