
"Naf?" Kali ini Bianca memutar pandangannya ke arah sang kakak perempuan yang duduk di sampingnya. Kemudian, dengan wajah serius berkata, "Sebelum pergi ke Singapura, aku mau ngeliat kalian menikah."
Nafla tampak terkejut mendengarnya. Ia menatap Bianca lama.
"Aku serius! Besok aku nggak mau berangkat ke Singapura kalau malam ini nggak ngeliat kalian menikah pakai mataku sendiri," ancam Bianca dengan tangan bersedekap di depan dada.
"Bia?" lirih Nafla. Gadis ayu itu sebenarnya tidak tahu harus bicara apa.
"Kalian kira, aku benar-benar suka sama Kak Az?" Bianca tertawa, lalu melanjutkan, "Aku sengaja pura-pura, biar kalian gerak cepat aja. Biar kalian cepat nyadar sama perasaan masing-masing. Cinta, tapi nggak berani ngungkapin, bikin aku gemes aja."
Nafla masih tertegun, hingga lagi-lagi Bianca kembali bersuara. Gadis cantik itu begitu banyak bicara dan mengumbar senyum hari ini. "Cepat nikah, Naf! Bikin aku iri sama kalian, biar aku semangat nyari jodoh juga."
Nafla masih saja menatap Bianca, hingga kemudian ia menarik cepat tubuh Bianca ke dalam pelukannya. Kemudian, setetes air matanya jatuh diam-diam. "Terima kasih, Bia."
Usai mengucapkan kalimat itu, Nafla langsung melepaskan pelukan dan dengan langkah cepat keluar dari ruangan tanpa menatap Bianca sedetik pun. Disusul oleh Az yang sejak tadi memilih diam.
"Pa?" Kali ini Bianca yang menangis. Ia mendongakkan wajahnya menatap Papa, hingga Papa berjalan mendekat dan memeluknya.
Papa mengusap punggung Bianca beberapa kali, mencoba membuat sang putri bungsu merasa sedikit tenang. Ia tahu betul, keputusan ini pasti berat untuk Bianca.
"Apa yang kamu lakukan itu sudah benar, Sayang," ucap Papa menguatkan. Kemudian, mengecup dalam puncak kepala Bianca. "Kamu memang selalu jadi Bia Papa yang kuat."
Kemudian, keduanya tidak lagi bisa membendung air mata dan berakhir menangis bersama. Begitu pula dengan Nafla. Di luar, gadis itu juga terjebak dalam tangisnya. Bahkan, saat Az menghampiri, ia sudah terisak sendirian.
"Bia bohong, Az. Bia bohong!" ucap Nafla di sela tangisnya saat menyadari keberadaan Az. Suaranya terdengar serak.
"Aku tau," balas Az pelan, lalu menarik tubuh Nafla ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
Tentu saja semua juga tahu, jika yang diucapkan Bianca tadi hanya sebuah kebohongan. Berada dalam pihak yang harus berpura-pura tidak tahu seperti ini, benar-benar membuat hati Nafla dan Az hancur.
***
"Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Siapa yang menyangka, beberapa menit yang lalu, status mereka masih asing. Namun, di menit berikutnya status itu sudah berubah menjadi terikat dalam hubungan yang direstui Tuhan.
"Alhamdulillah," sekali lagi Az menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kini wanita di sampingnya sudah sah menjadi tanggung jawabnya.
Az beringsut dan meraih tangan Tirta yang duduk di hadapannya. Kemudian, mencium punggung tangan sang mertua dengan khidmat. Kini tanggung jawab di pundak Tirta telah berpindah ke pundaknya. "Doakan Az bisa membahagiakan Nafla, Pa."
Tirta yang matanya sudah berembun, tampak menganggukkan kepala. "Papa yakin kamu bisa membahagiakan Nafla lebih dari Papa."
Nafla terus saja menundukkan kepala. Di belakangnya, juga hadir sang nenek yang menemani dan membisikkan selamat padanya.
Air mata Nafla masih menetes dan ia tidak berani mengangkat kepala, hingga Bianca memeluknya dari samping. Demi bisa mendampingi akad nikah sang kakak, Bianca menguatkan tubuhnya yang lemah untuk bisa turun dari ranjang dan duduk di samping Nafla.
"Kamu harus bahagia, Naf," ucap Bianca di sela pelukannya, hingga membuat Nafla semakin memecahkan tangisnya.
Masih tanya kenapa harus SUPERBIA?
***
Aku hampir lupa dengan SUPERBIA. Untung ada yang nyolek nungguin persiapan nikah mereka yang lama bener, wkwk.
Calangeo semua ❤