SUPERBIA

SUPERBIA
Pusing



"Az ... kita ...." Ucapan Nafla tidak terselesaikan akibat pria yang katanya pemalu itu telah membungkam bibir Nafla dengan sangat apik, hingga membuat wanita di bawahnya itu melenguh tertahan.


"Az ...."


Az tidak pernah membiarkan Nafla bisa menyelesaikan ucapannya karena ia sendiri ingin segera menyelesaikan sesuatu. Pria berhidung mancung itu begitu lihai dan bersemangat, hingga ....


"Azar, Nafla? Ayo, makan!"


Seketika semangat Az menyusut dengan cepat. Ia menatap sejenak Nafla yang masih berada di bawahnya, lalu menggulingkan tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Kemudian, menatap langit-langit kamar dengan pandangan tidak terbaca.


Saat Nafla ingin bangkit, Az bangkit lebih dulu, lantas berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Nafla yang menatapnya heran.


"Kenapa dia?" gumam Nafla sembari merapikan rambutnya yang berantakan.


Setelah lama menunggu, Az baru keluar dari kamar mandi. Rambut dan wajahnya tampak basah saat berjalan melewati Nafla dan mengambil handuk di dalam lemari.


Nafla bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengekori Az yang masih saja memilih bungkam. "Kak Azar mandi?"


Masih sama. Az masih diam.


"Kak Azar kenapa? Sakit?" cecar Nafla khawatir. Pasalnya sang suami, tiba-tiba jadi pendiam.


"Pusing," balas Az sambil lalu. Kemudian, membuka pintu dan berjalan ke luar.


"Pusing? Tadi baik-baik aja."


***


Usai sarapan, akhirnya Az dan Nafla diizinkan pulang. Meski, tetap saja ada tawaran untuk menginap lagi dari nenek.


Kali ini mereka hanya pulang berdua karena ayah dan ibu langsung memilih kembali ke Yogyakarta. Kedua orang tua Az itu tidak bisa meninggalkan adik-adik Az terlalu lama di rumah.


Sepanjang perjalanan pulang Az masih tidak banyak bicara. Pria berhidung mancung itu tampak begitu fokus mengemudikan mobilnya tanpa mau menoleh pada Nafla. Sehingga, membuat Nafla sengaja mendengkus kencang.


"Kenapa?" Akhirnya Az bertanya. Namun, lagi-lagi tanpa mau menatap Nafla.


"Kamu marah?"


"Enggak."


"Terus kenapa nggak mau ngeliat aku?"


Az diam sejenak, lalu menjawab pelan. "Pusing."


"Aku pijitin, ya?" tawar Nafla lembut. Kemudian, mengulurkan tangannya ke arah dahi Az. Namun, Az dengan sigap justru menjauhkan kepalanya dari tangan Nafla.


"Aku yang bikin kamu pusing?" celetuk Nafla tidak percaya.


Tidak diduga, Az justru menganggukkan kepalanya. Hingga, membuat Nafla naik darah dan menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi Az. Kemudian, memaksa suaminya itu untuk menatapnya.


Akibat ulah Nafla tersebut, membuat Az terpaksa harus menepikan mobilnya dulu. Kemudian, menutup matanya.


"Kak Azar!" pekik Nafla kesal karena bisa-bisanya Az memejamkan matanya demi menghindari bersitatap dengannya.


"Emang aku ngapain bikin kamu pusing? Ha?!" rengek Nafla nyaris menangis. Baru saja jadi pengantin baru, tapi sang suami justru mengatainya bikin pusing.


Akhirnya, Az membuka matanya perlahan. Kemudian, menatap Nafla yang wajahnya sudah merah menahan tangis. Senyum begitu hangat terbit di bibir pria, hingga membuat Nafla semakin kesal padanya.


"Kamu lagi mainin aku?" geram Nafla.


Az menggelengkan kepalanya pelan. Masih dengan senyum yang sama. Bedanya, kali ini tangan Az bergerak untuk menyentuh pipi Nafla, lalu mengusapnya pelan.


"Mana mungkin," ucap Az lembut.


"Terus kamu kenapa?" Nafla kembali merengek. Entah sejak kapan ia risau, jika Az mengabaikan dirinya.


"Ke hotel, yuk, Naf."


Nafla membulatkan matanya tidak mengerti. "Kamu bercanda?"


"Serius. Aku bisa gila kalau kayak gini terus."


Hah?


***


Catatan:


Seperti biasa, belum dibaca ulang.


Readers: Kenapa belum dibaca ulang terus, sih, Jik?


Jika: Ya, karena belum dibaca ulang 🙄


wkwkwk