
Usai makan, mereka tidak kembali ke kamar karena Az mengajak Nafla ke luar. Meski bingung, Nafla tetap mengikuti langkah Az.
"Nggak sekalian bawa barang-barang kita?" Nafla mendongakkan kepalanya menatap Az yang jauh lebih tinggi darinya. Beruntung, di dalam lift hanya ada mereka berdua saja. Jadi, bisa leluasa berbicara.
"Kita keluar sebentar. Nanti kembali lagi," balas Az dengan pandangan masih lurus ke depan.
Kening Nafla mengernyit. Ia kira, mereka hanya akan numpang tidur beberapa jam saja di sini. "Nggak sekalian cek out?"
Akhirnya, Az membalas tatapan Nafla. Kemudian, tersenyum miring tanpa memberikan jawaban.
Ya, tanpa jawaban. Tampaknya Az sudah kembali ke mode menyebalkan, hingga membuat Nafla mendengkus kesal. Padahal ia ingin cepat-cepat pulang dan menyusun barang-barangnya di rumah Az, wkwkwk.
Pintu lift terbuka dan tiga orang laki-laki berbadan besar masuk ke dalam lift sambil berbincang. Tampaknya mereka baru saja selesai berolah raga, jika melihat dari pakaian dan keringat yang membasahi baju mereka. Salah satu di antara mereka juga tampak membawa botol air mineral berukuran cukup besar di tangannya.
Nafla yang berdiri di tengah ruangan lift tampak terperangah. Hingga, membuat Az mendecak kecil, lantas menarik tubuh mungil Nafla agar mendekat ke arahnya. Kemudian, merangkul dan menutup mata wanita itu dengan sebelah telapak tangannya.
Nafla cekikikan, lalu menyingkirkan tangan Az dari matanya. Kemudian, mendongakkan kepalanya menatap Az yang masih saja memasang tampang datar. Az hanya melirikkan matanya tajam, lantas menggenggam tangan Nafla dengan posesif.
Baru dua lantai mereka lalui, pintu lift kembali terbuka. Seorang laki-laki bertubuh atletis masuk dengan napas terengah. Kedatangannya, disambut sorakan tiga orang yang tadi sudah masuk lebih dulu. Kelihatannya, mereka berteman.
"Hebat juga loe, bisa ngejar," ujar salah satu dari mereka.
Az memperhatikan gerak-gerik pemuda yang baru masuk tersebut. Tidak ada keringat di tubuhnya, meski katanya dia baru saja habis berlari melewati tangga darurat.
Perlahan tubuh pemuda tadi merosot dan jatuh ke lantai lift. Ia tidak merespons dan tampak kebingungan, meski teman-temannya memanggil namanya dengan khawatir.
"Heatstroke," gumam Az saat berjongkok untuk menyentuh tengkuk pemuda itu. Ada tanda-tanda kemerahan juga di kulitnya.
Tanpa izin, Az menarik botol air mineral dari tangan salah satu pemuda dan menyiramkannya ke tubuh pemuda yang sedang terbaring di lantai. Seorang pemuda maju dan membentak Az. Merasa tidak terima dengan apa yang baru saja dilakukan Az pada temannya yang sekarat.
Az tidak menggubris. Ia masih memperhatikan pemuda yang baru saja ia siram tersebut, sekadar memastikan jika pemuda itu tidak kesulitan bernapas.
"Bisa menjauh sedikit?" titah Az tenang.
Pemuda emosional tadi kembali maju dan mencoba menarik Az. Namun, dengan cekatan Az bangkit dan memelintir tangannya, hingga membuat Nafla menatapnya panik. Namun, sang suami justru dengan santai mengeluarkan ponsel, tampak menghubungi seseorang.
"GG Hotel, diagnosis sementara heatstroke," ucap Az pada ponsel di telinganya.
Pemuda emosional tadi meringis kesakitan akibat Az yang belum juga melepaskan pelintirannya. Sedangkan, dua temannya yang lain memilih tidak bertindak apapun.
"Dari pada diam, lebih baik kalian angkat teman kalian ke sofa!" ujar Az tetap tenang.
Kedua pemuda tadi mengangguk, lalu bergegas melaksanakan intruksi. Tidak lama kemudian, petugas keamanan juga ikut datang dan berniat menghubungi rumah sakit terdekat.
"Nggak perlu, Pak. Ambulans sebentar lagi datang. Sudah suami saya tangani semuanya," jelas Nafla kalem.
***
Suami siapa katanya 🙄