
Kalau kamu bertanya, apa istimewanya dia? Aku juga tidak tahu jawabannya. Aku cuma tahu, dia satu-satunya wanita yang berhasil membuatku benar-benar menginginkannya sejak lama.
***
Az membuka matanya setelah cukup lama terlelap. Ia mereganggkan tubuhnya sebentar, lantas mengulum senyum. Wajahnya tampak begitu sumringah seolah baru saja bermimpi indah.
Az menelungkupkan tubuhnya yang sebagian ditutupi selimut putih khas hotel dengan kepala yang ia rebahkan di atas bantal empuk. Seolah begitu enggan beranjak dari sana.
Saat pintu kamar mandi terbuka dan memunculkan sosok yang membuat tidurnya begitu nyenyak, sekali lagi Az tersenyum. Bola matanya dengan setia mengikuti pergerakan wanita yang tampak enggan menatapnya tersebut.
"Nafla!" panggil Az dengan suara yang terdengar serak. Sedangkan, yang dipanggil lebih memilih menyibukkan diri duduk di sofa sembari melepaskan handuk yang tadi melilit di kepalanya. Sehingga, kini rambut basahnya tergerai.
"Kenapa mandinya nggak ngajak-ngajak?"
Pertanyaan Az tersebut berhasil membuat Nafla menoleh dan menatapnya kaget. Apa ini yang disebut anak pemalu oleh ibu kemarin?
"Pertanyaanmu vulgar, Az!" cetus Nafla, lalu memilih memfokuskan diri menepuk-nepukkan handuk ke rambutnya agar cepat kering. Padahal, sebenarnya ia sedang mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Terdengar Az terkekeh ringan. Namun, kali ini Nafla tidak akan mau menoleh lagi. Melihat Az dalam kondisi seperti itu di atas ranjang enah kenapa membuatnya merona malu.
Ia bahkan baru tau, jika Az memiliki bentuk tubuh yang bagus. Eh?!
"Nafla?" panggil Az lagi. "Bisa tolong ambilkan celanaku."
Mata Nafla sontak membulat. Ia menolehkan kepalanya ke arah lantai dan meringis sendiri melihat pakaian Az berserakan di sana.
"Cepat, Naf!" rengek Az. Manjanya minta dirukiah.
Nafla yang masih tampak ragu, mulai beranjak dari sofa dan mengutip pakaian Az dengan sebelah tangan. Kemudian, mengulurkannya pada sang suami tanpa berani menatapnya.
Az tersenyum usil. Bukannya meraih pakaian tersebut, ia justru menarik tangan Nafla, hingga wanita itu hilang keseimbangan dan akhirnya terduduk di ranjang dengan ekspersi terkejut.
"Az!" pekik Nafka kaget. Sedangkan, Az dengan cekatan langusng memeluk pinggang Nafla, sebelum sang istri kembali bangkit dari sana.
"Siapa suruh jauh-jauh!" cetus Az sembari merebahkan kepalanya ke pangkuan sang istri. Kemudian, meraih tangan Nafla dan meletakkannya ke atas kepalanya. "Elus, Naf."
Nafla mendecih kecil. Namun, ia tetap melakukan permintaan konyol Az tersebut. Mengusapkan tangannya dengan lembut ke rambut Az, hingga sang suami terlihat begitu nyaman di pangkuannya.
"Lapar."
"Ya, udah. Cepat mandi! Habis itu kita makan."
Seutas senyum terbit di bibir Az. "Jadi begini rasanya diperhatikan istri."
Uhuk!
***
Usai melakukan perbincangan singkat dan diakhiri dengan adegan pemaksaan Nafla mandi dua kali, akhirnya pengantin baru itu turun juga untuk makan sore. Mereka memilih makan di restoran yang terdapat di atap hotel dengan ditemani pemandangan matahari yang mulai menyingsing.
Az makan dengan begitu lahap. Tampaknya pria itu benar-benar kelaparan. Sedangkan, Nafla yang sama laparnya, memilih tetap menjaga reputasinya sebagai istri yang manis.
Perhatian Az teralihkan saat melihat Nafla menambahkan begitu banyak sambal di piringnya. Namun, ia tidak menegurnya karena sepertinya istrinya itu memang suka dengan makanan pedas.
Selesai dengan makanannya, Az memilih memeriksa notifikasi di ponselnya. Masa skorsnya besok akan habis, tapi ia lanjutkan dengan masa cuti pengantin baru.
Grup WhatsApp dan pesan pribadi di ponsel Az dipenuhi oleh ucapan selamat atas pernikahan dadakannnya. Ia berencana membalasnya satu persatu, hingga membuat Nafla melirikkan matanya pada Az yang tampak begitu asik dengan ponselnya.
Sikap Az di tempat keramaian berbeda dengan sikap Az ketika berdua saja dengan Nafla. Jika di tempat umum seperti ini, pemuda berhidung mancung itu jarang bicara dan tampak sangat cuek.
Nafla menarik napasnya, lalu mengembuskannya pelan. Tiba-tiba selera makannya hilang. Ia meraih gelas berisi jus jeruk yang tadi ia pesan, lantas menyeruputnya. Namun, keningnya sontak berkerut saat merasakan rasa asam yang berlebihan pada minumannya. Kemudian, menarik bibirnya dari sedotan.
Sebuah tangan mengeser gelas jus jeruk asam di hadapannya, lalu menggantinya dengan thai tea. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Az. Meski pria itu tampak tidak peduli, tetapi rupanya segala hal yang dilakukan Nafla tidak luput dari perhatiannya.
Nafla tersenyum, lalu menyeruput minuman Az tersebut dengan hati yang menghangat. Dasar, suami pemalu yang pro!
***
Kalau kamu bertanya, apa istimewanya dia? Aku juga tidak tahu jawabannya. Aku cuma tahu, dia satu-satunya laki-laki yang berhasil membuatku yakin, jika dia memang orang yang tepat.
***
Btw, bukan adegannya yang gantung, tapi pikiran kakak-kakak yang kepanjangan 😝