SUPERBIA

SUPERBIA
Bukan Aku



Nafla menatap arloji hitam yang melingkar di tangannya. Kini layar jam itu kembali kosong tanpa menunjukkan angka apapun. Bahkan, saat Nafla menarik pengaitnya, jam itu langsung terlepas dari tangannya begitu saja.


Usai mengembuskan napas berat, Nafla melempar benda itu ke dalam sebuah kotak kayu. Kemudian, menutupnya lagi dan memasukkannya ke dalam lemari.


Hari ini ia dan nenek akan kembali menjenguk Bianca karena besok subuh gadis itu rencananya akan terbang ke Singapura. Hanya papa yang ikut bersamanya dengan ditemani seorang dokter dan perawat yang direkomendasikan ikut mengantar juga. Nafla yakin, perawat itu pasti Az.


Saat akan beranjak, ponselnya berdering dan menampilkan nama Daniel di sana. Ayah dari Jia itu memang suda dua hari tidak menemuinya seperti biasa. Terakhir saat ada insiden perang dingin dengan Az tempo hari.


"Halo?"


"Halo, Nafla. Maaf mengganggu."


"Ya."


"Hari ini Jia ingin bertemu denganmu. Apa tidak mengganggu?"


Kening Nafla mengernyit. Apa yang sudah dikatakan Az sampai Danie harus meminta izin begini?


"Siang ini kami mau ke rumah sakit, Mas."


"Siapa yang sakit? Kamu?"


"Bianca, Mas."


"Oh." Daniel diam sejenak. "Saya juga belum pernah menjenguk Bianca. Boleh saya ikut menjenguknya?"


Nafla tampak berpikir. Sebenarnya, jutru Bianca yang lebih dekat dengan Daniel dan Jia. Jadi, akan lebih baik jika mereka memang menjenguk Bianca.


"Boleh."


Setelah izin diberikan, Daniel yang memang sedang berada di parkir pusat perbelanjaan langsung memacu mobilnya menuju rumah Nafla. Hari ini ia memang sengaja tidak masuk kantor karena Jia sedang berulang tahun dan berniat merayakannya di mall dengan membeli mainan. Namun, rupanya gadis kecil itu justru merengek ingin bertemu Nafla.


Terlebih sudah dua hari ini Daniel absen mengajak Jia ke rumah Nafla karena pekerjaannya yang lumayan padat. Daniel tentu saja tidak menghandle semua urusan perusahaan mengingat jabatannya yang lumayan tinggi, sehingga waktunya lebih banyak senggang. Namun, di saat-saat tertentu kontribusinya dibutuhkan juga.


Setelah membeli makanan seperti biasa, Daniel dan Jia melanjutkan perjalanan. Saat mereka tiba, Nafla sudah berdiri di teras dengan senyum mengembang. Entah kenapa saat melihat Jia melompat turun dan berlari memeluk Nafla, hatinya terasa hangat.


Begitu juga saat nenek keluar. Jia dengan ceria berlari ke dalam pelukan wanita tua itu. Di sini, gadis kecil itu merasa banyak yang menyayangi.


"Berangkat sekarang?" Daniel datang menghampiri. Tidak lupa, ia memberikan bingkisan makanan untuk Nafla, hingga membuat gadis itu tergelak.


"Lain kali nggak usah bawa makanan, Mas."


"Nggak apa-apa. Udah kebiasaan." Daniel mengulum senyum, lantas menghampiri nenek dan mencium punggung tangannya.


"Kalian pergi duluan saja. Biar Nenek menyusul nanti."


"Kenapa, Nek?"


"Kasian Jia kalau dibawa ke rumah sakit," jawab Nenek sembari mengusap puncak kepala Jia.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Daniel, yang dibalas anggukan kepala Nafla.


Keduanya akhirnya pamit untuk berangkat duluan. Daniel dengan sopan membukakan pintu mobil untuk Nafla, membuat gadis itu termenung sejenak. Bukan karena perhatian Daniel, tetapi karena ia jadi teringat pada Az.


Fiuh!


Selama di dalam mobil tidak banyak obrolan yang terjadi, membuat Daniel menoleh pada Nafla yang duduk di sampingnya.


"Tumben diam saja?"


Nafla ikut menoleh dan mendapati Daniel tengah menatapnya. "Hah?"


"Biasanya suka cerita." Daniel tersenyum, lalu mengalihkan perhatiannya lagi ke arah jalan. "Saya suka setiap kali mendengar kamu bercerita."


"Bukan aku!" tukas Nafla cepat. Namun, ia segara menyadari kebodohannya dan memilih membungkam mulutnya sendiri, hingga membuat Daniel tertawa.


"Kalau bukan kamu terus siapa?" Daniel melirik pada Nafla, lalu melanjutkan, "Dekat dengan kamu membuat saya dan Jia banyak tertawa. Terima kasih, Naf."


Astaga! Itu bukan aku, tapi Bianca.


***


Bianca melakukan hal yang sama. Ia juga menatap jam hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Bedanya, ia tidak berniat membukanya karena kalau sampai ia buka, Az pasti akan bertanya.


Wajahnya tampak begitu pucat dan lelah karena sejak pagi, ia sudah melakukan berbagai macam pemeriksaan. Kini saja, ia harus kembali melakukan transfusi darah. Hal yang membuatnya nyaris muak.


Sembari berbaring, Bianca meraih ponsel yang ia simpan di dalam laci lemari kecil, samping ranjang. Sebenarnya, ia tidak diperbolehkan memakai ponsel, tetapi Bianca terlalu keras kepala dan melakukannya secara sembunyi-sembunyi.


Tangan kurusnya tampak mulai bergerak pelan mengetikkan beberapa kalimat.


Azariel Firdaus


Temani aku. Aku takut.


11.45 WIB


Tanpa menunggu balasan Az, Bianca kembali menyimpan ponselnya. Raut wajahnya tampak kesakitan saat denyut yang teramat kuat seolah mencengkram otaknya.


Bianca memegang kepalanya, lalu merintih pelan. Bibirnya sampai pucat menahan sakit yang belakangan ini rutin ia rasakan.


***


Selagi menunggu SUPERBIA update, yuk, baca novel teman aku! Baca novel ini bikin semangat jadi yang penting yakin!