
"Kamu adikku."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Nafla langsung tertidur. Entah karena kondisinya yang memang tidak terlalu baik atau karena pengaruh obat yang membuatnya begitu mudah tertidur.
Tangan Nafla dan Bianca masih tertaut. Bianca memang sengaja tidak melepaskannya. Ia hanya terus menatap wajahnya sendiri yang kini dikuasai oleh Nafla. Wajah yang begitu cantik, tetapi nasibnya tidak seberuntung wajahnya.
"Kalau aku mati di tubuhmu, kamu tetap akan baik-baik saja di tubuhku, kan? Kalau nggak berpengaruh buruk untukmu, ya ... nggak masalah."
Bianca masih memikirkan ucapan Nafla tadi. Ia sama sekali tidak habis pikir bagaimana Nafla bisa terlihat begitu tenang. Seolah tidak khawatir andai mereka kehabisan waktu dan selamanya menjalani takdir yang salah.
Bianca mengulurkan tangan ke arah tas yang ia letakkan di atas meja samping ranjang. Kemudian, mengeluarkan sebuah arloji hitam legam yang persis sama dengan milik Nafla dari dalam tasnya, lalu memandang jam itu cukup lama.
Kemarin, ia merasa marah pada Nafla karena meski berpindah jiwa, Az tetap saja memprioritaskan kakaknya itu. Kemarin, ia merasa kecewa pada Az karena hanya selalu mengkhawatirkan Nafla dan hanya Nafla saja.
"Jam kesayangan kamu mana?"
"Rusak."
"Mana?"
"Aku nggak tau! Semenjak aku pindah ke tubuh ini ingatanku nggak begitu bagus, Kak!"
Ya, Bianca berbohong. Pertanyaan Az itu membuat Bianca sangat jengkel karena nada suara pria yang dicintainya itu terdengar memaksa dan begitu khawatir. Namun, sayangnya kekhawatiran itu tidak ditujukan untuknya.
Sebenarnya bukan kali itu saja Bianca merasa jengkel dengan perasaan berlebihan Az pada Nafla. Suatu hari ia juga pernah bertanya dan protes.
"Kenapa Kak Azar sesuka itu, sih, sama Nafla? Banyak 'kan perempuan lebih cantik dari dia? Lagi pula, cinta Kak Azar itu cuma cinta monyet, Kak! Kakak cuma penasaran aja gimana rasanya memiliki dia."
Hati Bianca seketika terasa perih saat melihat Az menggelengkan kepalanya yakin. "Dia berbeda. Dia ... tulus."
"Cih!" Bianca mendecih, tidak percaya. "Andai dia punya hidup sepertiku, Kak Azar yakin dia masih bisa tulus?"
"Tentu."
"Kita liat aja nanti!"
Bianca mengembuskan napasnya dalam, lantas memakaikan jam tadi ke pergelangan tangannya sendiri. Jam yang layarnya tampak kosong itu, saat dikenakan langsung berkedip dan menampilkan deretan angka aneh. Angka sama dengan yang ditunjukkan jam di tangan Nafla.
23:59
Aku minta waktumu ... sehari saja.
Bianca menyatukan jam di tangan mereka, lantas tubuh Bianca langsung jatuh terkulai di atas ranjang, hampir menimpa tubuh Nafla yang sedang berbaring.
***
Hari masih terlalu pagi saat ruang rawat terasa begitu ramai. Kini ada dua ranjang dengan dua gadis berbeda yang sama-sama tengah terbaring dengan mata tertutup.
"Nafla!"
Kata dokter, tidak ada yang salah dengan Nafla. Namun, sejak ditemukan terkulai di atas ranjang, sampai kini Nafla tidak bisa dibangunkan. Papa mengusap wajahnya kasar. Hal yang ia takutkan sejak dulu, mungkinkah akan benar-benar terjadi?
"Nafla, bangun, Nak!"
Jika boleh meminta, biarkan Nafla hidup lebih lama, Tuhan.
"Nafla!"
Nafla berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat. Kemudian, mengerjapkannya pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya yang terasa menyilaukan dan membuat pening.
"Nafla?"
Kening Nafla berkerut saat melihat wajah khawatir papa. Bukan! Bukan itu. Papa memanggilnya ... Nafla?
***
Seperti biasa, selagi menunggu SUPERBIA update, aku punya rekomendasi novel yang bikin baper. Yuk dikepoin, yuk!