
Bianca sedang membaringkan dirinya di ranjang sembari mengutak-atik ponsel Nafla dengan tak minat. Tidak ada yang menarik dari isi ponsel kakaknya itu selain foto langit, hewan, dan tumbuhan serta beberapa aplikasi baca.
Ia teringat dengan pertemuannya dengan Az tadi pagi. Ia tidak menyangka, pemuda itu menjadi bagian dari rahasia besar mereka. Sebuah fakta yang membuat Bianca sedikit kecewa.
Dari dulu aku penasaran, gimana rasanya jadi kamu.
Dari dulu ...
Aku penasaran, gimana rasanya jadi kamu. Agar tau bagaimana rasanya dicintai oleh ...
Azariel Firdaus secara diam-diam.
Bianca menarik kedua ujung bibirnya, lalu tersenyum pahit. Andai Az tidak tahu pertukaran jiwa mereka, mungkin Bianca bisa sedikit merasakan cinta darinya.
"Bianca?"
Bianca menarik tubuhnya untuk duduk saat Nafla datang dan memasuki kamar. Ia bisa melihat raut tak percaya Nafla saat melihat penampilan barunya.
"Kamu beneran motong rambut aku?!" Mata Nafla melebar, sembari memegang ujung rambutnya yang tinggal sepundak.
Bianca tersenyum bangga. "Lebih cantik, kan?"
Tidak bisa dipungkiri, jika penampilan dengan rambut pendek itu membuatnya terlihat lebih segar. Namun, bagaimana pun juga rambut panjang adalah idendtitas kebanggan Nafla.
Bianca yang tampak sangat tidak peduli dengan protes si empunya tubuh, justru menarik tangan Nafla untuk menyentuh pipinya. "Lebih kenyal, kan? Aku beli skin care paket komplit pakai uang tabungan kamu," tukasnya cekikikan.
"Uang papa," balas Nafla pelan, lantas duduk di tepi ranjang. Ia meraih dompetnya di atas nakas, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dari sana. Menatapnya dengan pandangan tidak terbaca.
"Kamu nggak pernah make?"
"Pernah, tapi sekedarnya."
"Pantes banyak. Kamu kaya, Naf!" Bianca menepuk-nepuk pundak Nafla takjub. "Tapi kekayaan kamu udah aku kuras sedikit. Baju kamu nggak modis, aku ganti semua dengan yang kekinian."
Mata Nafla kini tidak hanya melebar, tapi membulat menatap Bianca yang duduk di sampingnya. "Kamu kemanakan baju-bajuku?"
"Nggak usah khawatir! Aku simpan di ...." Bianca menggigit lidahnya pelan, lalu melanjutkan, "Gudang."
"Bianca!"
Bianca menutup telinganya malas. Ia yakin keputusannya sudah benar. Love yourself, kalau kata orang.
"Ini cara aku mencintai diriku sendiri, Naf!"
Kening Nafla mengernyit. Kemudian, mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Suaranya terdengar pelan saat berkata, "Banyak orang gagal menemukan alasan untuk mencintai dirinya sendiri, Bia."
"Alasannya, karena aku berharga!" Bianca menunjuk dirinya sendiri bangga. Namun, arah telunjuk itu kemudian beralih ke arah Nafla. "Begitu juga dengan kamu dan yang lainnya. Setiap orang berharga dan satu-satunya," lanjutnya sungguh-sungguh.
Nafla tampak tercenung mendengar ucapan Bianca tersebut. Di balik sikap kekanakannya, sebenarnya Bianca merupakan sosok yang lebih dewasa.
Nafla mengulas senyum tipis. "Biasa aja. Walaupun nggak sebenci dulu, tapi tetap aja canggung."
Bianca mengembuskan napasnya pelan. "Udah main-main ke lantai dua?"
Kening Nafla berkerut. Selama tinggal kembali di rumah besar, Nafla hanya sering mondar-mandir di lantai bawah saja. "Ngapain?"
"Kamar kamu kan di lantai dua, Naf!"
"Oh, ya?" Untuk yang satu ini Nafla tidak terlalu ingat. Diingat-ingat pun tetap tidak ingat.
"Jadi kamu belum lihat?"
"Lihat apa?"
Bianca tampak gemas. "Lihat aja sendiri! Aku mau tidur. Aku harus menjaga pola tidurku demi kesehatan kulit."
Nafla mendecak sebal melihat Bianca yang benar-benar kembali berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ingin menjitak kepalanya, tapi tidak tega.
***
Setelah benar-benar ditinggal tidur oleh Bianca, Nafla kembali pulang ke rumahnya dan langsung menuju ke lantai dua. Ia penasaran, ada apa di lantai dua?
Ada dua kamar tidur di sana. Ada juga sebuah balkon luas yang nyaman sekali untuk menghabiskan waktu sore hari sambil minum kopi.
Perhatian Nafla tertuju pada sebuah pintu berwarna cokelat dengan aksesoris kupu-kupu di sana. Nafla mencoba menekan handel pintu dan benar saja pintu itu terkunci.
Ia memeriksa laci lemari di dekat pintu dan menemukan sebuah kunci di sana. Syukurlah, jadi dia tidak perlu repot-repot memanggil Dini seperti kemarin.
Pintu terbuka setelah Nafla memutar anak kuncinya dua kali. Ia mendorong daun pintu dan mendapati sebuah ruangan dengan banyak boneka yang tersusun rapi.
Nafla melangkahkan kakinya terus memasuki kamar. Kamar ini nampaknya sering dibersihkan, sehingga masih terasa nyaman. Tirai jendelanya juga disingkap dan membuat kamar terlihat terang.
Selain rak berisi boneka, ada juga rak berisi buku bacaan anak-anak. Nafla meraih salah satu buku dan membolak balik isinya. Bibirnya sontak tersenyum saat membaca dongeng bergambar tersebut. Entah kenapa hatinya merasa bahagia saat membacanya.
Nafla meletakkan kembali bukunya ke tempat tadi. Kemudian, melanjutkan langkah menelusuri setiap sudut kamar. Langkahnya terhenti di depan sebuah lemari tiga pintu. Ia membuka dua pintu sekaligus dan keningnya dibuat mengernyit saat melihat ada banyak sekali kado di dalam lemari tersebut.
Tangan Nafla terulur dan meraih salah satu kotak yang dibungkus kado tersebut. Kemudian, membaca tulisan yang ada di salah satu sisinya.
Selamat ulang tahun ke-10 untuk buah hati yang kami harapkan selalu sehat dan bahagia: Nafla Afanin Tirta.
***
Sebenarnya tema kontes ini balas dendam, tapi aku nggak tau cara balas dendam yang baik dan benar itu gimana, wkwkwk.
Begini aja, udah ah!