
Az terbangun dari tidurnya saat mendengar ponselnya berdering. Awalnya ia berniat untuk menjawab panggilan tersebut. Namun, saat melihat wajah wanita yang dicintainya tengah terlelap tepat di hadapannya, membuat Az mengurungkan niatnya.
Ia justru beralih menelungkupkan ponsel ke atas ranjang tanpa melihat nama si penelpon, hingga tentu saja secara otomatis nada deringnya menjadi senyap. Kemudian, kembali menatap wajah Nafla. Ia masih ingin berlama-lama menatap wajah sang istri.
Uhuk!
Diiringi senyuman hangat, Az mulai merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Nafla. Sejujurnya, hingga detik ini masih ada perasaan tidak percaya, jika akhirnya ia berhasil memiliki cinta masa kecilnya itu.
Dulu, rasanya Nafla begitu tidak mungkin digapai. Terlebih saat Nafla kecil dipindahkan ke rumah nenek, sedangkan ia sendiri harus mengikuti orang tuanya kembali ke kampung halaman.
Nafla dulu begitu ceria dan bersinar. Bahkan, hingga kini Az masih bisa melihat sinar itu di mata Nafla. Sinar yang selalu berhasil menghangatkan hatinya.
"Udah bangun?" Nafla membuka matanya perlahan, membalas tatap Az. Terlihat tenang, padahal sebenarnya jantungnya sudah tidak karuan.
Az mengangguk, lalu mengulum senyum, hangat sekali. "Lapar?"
Kali ini Nafla yang tersenyum. Namun, belum sempat ia menjawab, ponsel Az kembali berdering. Sekali lagi, Az ingin menekan mode senyap di ponselnya, tetapi Nafla mengintrupsi.
"Siapa?"
"Nggak tau."
"Liat dulu, mana tau penting."
Awalnya, Az tidak setuju. Namun, akhirnya ia mengikuti keinginan Nafla dan memeriksa identitas si penelpon.
"Ayah," beritahu Az pada Nafla.
Nafla mengangkat kedua alisnya, lalu duduk bersila di atas ranjang. "Angkat!"
Az ikut menarik tubuhnya untuk duduk, lantas menatap Nafla lagi sebelum akhirnya ia menggeser icon hijau dan mengaktifkan mode loudspeaker di ponselnya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, Azar. Kamu di rumah, Nak?"
"Iya, Ayah. Kenapa?"
"Ibu sama Ayah sedang perjalanan ke sana sekarang. Mau menyambut menantu kami."
Mata Nafla dibuat melebar. Ia menunduk, menatap penampilannya sendiri. Kemudian, menatap Az dengan panik.
"Ayah udah sampai mana?"
"Setengah jam lagi sampai."
Nafla hampir melompat dari ranjang, tetapi Az keburu menahan tangannya. "Ya, sudah. Ayah dan Ibu hati-hati, ya."
Panggilan terputus dan Az meletakkan kembali ponselnya secara asal ke atas ranjang. Sedangkan, sebelah tangannya masih memegang tangan Nafla.
"Mau kemana?"
Az melongo, lalu terkikik geli. "Ngapain sembunyi? Kita nggak lagi kumpul kebo."
Nafla melebarkan matanya lagi. Ia sedang tidak dalam mode bercanda karena ini perkara mertua yang harus disebut hatinya.
"Aku pakai baju kayak gini, Az!" geram Nafla. Ia mengutuki dirinya sendiri yang tadi langsung memasukkan pakaiannya ke dalam keranjang baju kotor.
"Kenapa?" Az memperhatikan penampilan Nafla. Tatapannya terhenti cukup lama di paha Nafla yang terbuka. Jakunnya terlihat bergerak naik-turun saat ia kembali memaksakan diri untuk menatap wajah Nafla lagi.
"Tinggal pakai celana panjang udah bagus," lanjut Az dengan ekor mata yang sesekali melirik ke arah kaki mulus istrinya itu.
Nafla menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia tidak bisa membayangkan di pertemuan pertamanya dengan sang mertua semiris itu.
"Az ...." Nafla menarik tangan Az sambil merengek. "Aku malu kalau pakai baju kayak gini."
"Cantik," balas Az serius.
"Kak Azar!"
Az terkekeh melihat Nafla kesal. Ia meraih kunci mobilnya di atas nakas, lalu turun dari ranjang. "Siap-siap, kita belanja baju buat kamu sekarang."
Nafla melompat bahagia menuruni ranjang, lalu spontans berlari memeluk Az. "Makasih, Az."
"Sama-sama, Sayang." Az mendekap Nafla dengan erat, lalu meletakkan dagunya ke atas puncak kepala istrinya itu dengan senyum terkulum.
"Ayo berangkat sekarang."
"Iya."
"Az, nanti kita terlambat." Nafla kesal karena Az masih saja mengurung tubuhnya di dalam dekapannya. Sedangkan, waktu terus saja berjalan.
"Atau ... aku nelpon Ayah aja, ya?"
"Buat apa?"
"Ke sininya besok aja."
Nafla mengangkat wajahnya, menatap Az dengan kening berkerut.
"Hari ini aku mau mesra-mesraan sama istri."
"Kak Azar!"
"Hehe, aku serius."
***
Aku hadir lagi 😎