SUPERBIA

SUPERBIA
Pancaroba



Rupanya, Az membawa Nafla ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju. Saking niatnya tidak mau pulang, Az rela berbelanja pakaian ganti selama di hotel.


"Rumah kita dekat, loh, Az," ujar Nafla sembari memperhatikan Az yang sedang memilih kemeja.


"Di rumah banyak gangguan," balas Az sekenanya.


"Naf!" Tiba-tiba Az menyejajarkan kemeja putih ke tubuh Nafla. "Mau beli ini?"


"Buat apa?" sengit Nafla. Firasatnya tidak enak.


"Aku sering lihat ...."


"Kak Azar!" pekik Nafla. Seolah sengaja tidak membiarkan Az berhasil menyelesaikan ucapannya.


Jika Nafla sudah memanggil nama Az dengan embel-embel Kak, maka itu tandanya dia sedang serius. Az hanya menggelengkan santai kepalanya sambil berdecak kagum memandang kemeja putih kebesaran di tangannya.


"Sayang sekali, padahal kayaknya seru," gumam Az. Kemudian, tampak kembali asik memilih perlengkapan pakaian gantinya.


Keasikan Az tersebut terinstrupi oleh getaran ponsel di waist bag-nya. Ia mengeluarkan ponselnya, lantas memasukkannya lagi tanpa menjawab.


Sikap Az ini membuat Nafla menatapnya curiga, lantas mendekatinya lagi. "Kenapa nggak dijawab?"


"Nggak penting," jawab Az, lalu menggenggam tangan Nafla dan menariknya menuju kasir.


Saat akan membayar, Az mengeluarkan kembali ponselnya. Namun, ponsel itu kembali bergetar, menandakan ada panggilan yang masuk. Nafla tidak sempat membaca nama yang tertera di layar karena Az dengan cepat menolak panggilan itu dan langsung menyelesaikan proses pembayarannya.


Kening Nafla berkerut, tetapi kali ini dia memilih untuk tidak bertanya karena jawaban Az pasti itu-itu saja.


"Kalau ada yang mau ditanya, tanyain aja," ucap Az tiba-tiba, sembari menerima tas belanjaan yang kasir berikan padanya.


"Dari siapa? Kenapa nggak dijawab?"


"Pasien. Nggak penting," balas Az singkat, padat, dan menyebalkan. Kemudian, menggenggam tangan Nafla lagi dan membawanya pergi dari sana.


Nafla tidak puas dengan jawaban Az tersebut. Namun, pemuda tinggi itu keburu mendorongnya untuk berbelok dan masuk ke dalam sebuah toko sepatu wanita.


"Ngapain, Az?" tanya Nafla bingung.


"Beli sepatu. Aku belum tau ukuran kaki kamu." Az menundukkan kepalanya, menatap kaki Nafla di bawah sana, hingga membuat wanita itu risih dan menyembunyikan kakinya.


"38?" tebak Az.


Seketika mata Nafla membulat. Pria di hadapannya ini benar-benar pro dan itu tidak diragukan lagi.


Usai menebak tepat sasaran, Az langsung ngeluyur pergi. Menelusuri selasar demi selasar. "Kamu suka model gimana, Naf?"


Nafla segera mengejar Az, lalu menarik lengan suaminya itu. "Aku nggak mau beli sepatu, Az!"


"Jadi mau beli apa?"


"Nggak mau beli apa-apa."


"Nggak mau!"


"Baju?"


"Enggak!" tolak Nafla tegas.


"Tas?"


"Enggak!"


Az mengembuskan napasnya pelan. "Harusnya, kan, kamu bilang terserah, Naf."


Nafla menjulurkan lidahnya, lalu pergi meninggalkan Az yang menatapnya takjub. Kemudian, senyum sumringah terbit di bibir Az saat ia melangkahkan lebar kakinya untuk menyusul sang istri.


"Kita beli hoodie couple. Deal?"


***


Usai memakai jurus memaksa, kini keduanya sedang berjalan menuju parkiran sembari memakan es krim dengan memakai hoodie berwarna dan bentuk yang sama. Nafla saja sampai geli sendiri. Sedangkan, Az justru tampak biasa-biasa saja.


Jika diibaratkan musim, maka Azariel Firdaus ini merupakan musim pancaroba. Kadang panas, kadang hujan, kadang malah konyol seperti sekarang ini.


Az membukakan pintu untuk Nafla seperti yang selalu ia lakukan dulu. Kemudian, beranjak untuk membuka pintu kemudi setelah memastikan Nafla telah duduk dengan aman.


Az melepaskan waist bag-nya, lalu meletakkannya di kursi belakang. Kemudian, duduk manis untuk menghabiskan es krimnya dulu sebelum memacu mobil. Sedangkan, Nafla yang duduk di sampingnya, langsung menarik beberapa helai tisu dan membersihkan ujung bibir Az dengan senyum terkulum.


Pandangan mereka beradu sejenak, hingga Az berkata, "Ini makanya aku nggak mau cepat-cepat pulang."


Nafla membulatkan matanya, lalu mencubit pinggang Az. Sebenarnya, ia senang-senang saja menghabiskan banyak waktu bersama Az. Anggap saja honeymoon, iya kan?


Iyain!


Suara getaran halus di kursi belakang, membuat Nafla menolehkan kepalanya. Tampaknya ada panggilan lagi di ponsel Az. Sedangkan, si pemilik ponsel tetap bersikap biasa saja, seolah tidak mendengar getaran tersebut.


"Angkat, Az! Mungkin penting," pinta Nafla. Kalau sekali lagi Az tidak juga mau menjawab telepon itu, mungkin Nafla harus curiga.


Az melirik Nafla sebentar, lalu dengan malas meraih tas yang tadi ia letakkan di belakang. Kemudian, mengeluarkan ponselnya dari sana.


Sorot mata Az terkunci sejenak pada layar ponsel, hingga akhirnya pria itu menggeserkan jempolnya ke atas layar.


"Iya, Pak Idan?"


" ... "


"Maaf, tapi saya sedang cuti."


Tut! Panggilan diselesaikan sepihak oleh Az. Tumben sekali perawat itu bersikap kurang hormat pada dokter seniornya.