
Jika ada yang bertanya, akankah Nafla merelakan Azariel untuk Bianca? Maka jawabannya adalah ....
Tot, tok, tok!
Pintu ruang inap terbuka sesaat setelah terdengar beberapa kali suara ketukan pintu. Kedua gadis itu melepaskan pelukan, lantas menoleh ke arah yang sama.
"Kalian kenapa?" Papa yang baru datang dibuat terkejut melihat adegan tersebut. Ia menutup kembali pintu, lalu berjalan mendekat.
Nafla memilih berdiri dengan kepala tertunduk, mencoba menyembunyikan sisa air matanya. Sedangkan, Bianca tetap duduk di atas ranjang.
"Papa dari mana aja baru kelihatan?" protes Bianca setelah menghapus cepat air matanya.
Papa sempat terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. "Maaf," ucapnya pelan yang langsung disambut bibir berkerucut Bianca. Tumben-tumbennya papanya itu tidak menemaninya di rumah sakit.
Meski masih penasaran dengan apa yang barusan terjadi pada kedua putrinya tersebut, tetapi papa tidak lagi bertanya. Ia memilih mengusap puncak kepala Bianca dan menanyakan kabarnya. Beberapa hari ini, ia memang jarang bertemu putri bungsunya tersebut.
"Kapan aku bisa pulang, Pa?"
Lagi-lagi ada jeda untuk menjawab pertanyaan Bianca. Papa selalu tampak berpikir setiap kali menjawab. Wajah laki-laki parah baya itu pun tampak begitu lelah.
"Lusa kita ke Singapura."
Baik Bianca maupun Nafla sama-sama terkejut. Namun, keduanya memilih diam dan tidak membalas.
"Aku ngantuk," ujar Bianca akhirnya, lalu menggeser tubuhnya untuk berbaring. Sedangkan, papa dengan perhatian menyelimuti tubuh Bianca, meski terlihat jelas wajahnya tampak sedih sekali.
Bianca tidur membelakangi mereka. Membuat Nafla melangkah menedekati papa, lalu memberanikan diri untuk menggenggam tangan ayah kandungnya itu. Awalnya terasa malu dan berat, tetapi saat tangan mereka tertaut rasanya hangat dan haru sekali.
Tanpa bicara, papa menolehkan wajahnya, menatap Nafla yang untuk pertama kalinya sejak dewasa memegang tangannya. Hatinya tiba-tiba terasa haru. Ia rindu perasaan ini.
"Papa kelihatan capek. Ayo, istirahat dulu!" Nafla tidak sedang membual. Mata papa terlihat cekung dan menggelap, seperti orang kurang tidur. Ia menarik pelan tangan papa menuju sofa panjang, lantas duduk berdua di sana.
Entah kenapa Nafla masih enggan melepaskan tangannya. Ia bahkan menyenderkan kepalanya ke pundak papa yang dibalas papa dengan usapan lembut di rambutnya.
"Pa?"
Mendengar Nafla memanggilnya saja, membuat hati papa dijalari rasa hangat. Hubungan mereka memang terlalu lama membeku.
Papa memutar tubuhnya menghadap Nafla, lalu menatap putri sulungnya itu dalam. Kemudian, dengan pelan ia menarik tubuh Nafla ke dalam pelukannya. Air mata yang selama ini ia simpan itu akhirnya luruh juga.
Papa mendekap tubuh yang dulu begitu munggil itu dengan erat. Mencoba membayar jeda yang terlalu panjang untuk mereka. "Papa yang bersalah sama kamu. Papa yang harusnya meminta maaf sama kamu, Nak."
Nafla menggelengkan kepalanya. Rupanya gadis itu juga tengah menangis. "Nafla sayang banget sama Papa."
"Papa juga, Nak. Papa juga."
Diam-diam, Bianca menghapus air matanya yang menetes ke bantal. Ia mendengar semuanya. Ia ikut merasakan bahagia. Setidaknya rasa bersalahnya karena tanpa sengaja telah memisahkan papa dan Nafla bisa sedikit terobati.
***
Usai saling mengungkapkan perasaan yang terkekang selama ini, papa tampak tertidur sambil duduk. Nafla membantu melepaskan kaca mata papa, lalu menatap wajah itu lama.
Senyum lembut perlahan terukir di bibir Nafla. Namun, senyum itu lama-kelamaan berubah sendu. Ia sudah mendapatkan kembali cinta papa. Cinta yang sebenarnya tidak pernah hilang darinya. Jadi ... mungkin cinta yang lain tidak lagi penting.
Nafla memutuskan keluar dari ruang inap untuk menghidup udara segar. Berada terlalu lama di ruangan membuatnya pengap. Ditambah lagi perasaannya yang memang sedang kalut.
Ia menutup pelan pintu agar tidak membangunkan Bianca atau papa. Kemudian, berjalan menelusuri lorong. Memperhatikan kesibukan para tenaga medis dan wajah muram para keluarga pasien menjadi alternaif bagi Nafla untuk mengalihkan kegalauannya.
Ia terus berjalan melewati deretan jendela kaca berukuran lebar dan akhirnya berhenti di sana. Kini, gedung-gedung dan kendaraan yang terlihat memadati kota dari atas sini menjadi perhatiannya. Hingga, sebuah botol mineral tiba-tiba terulur ke arahnya.
Nafla menolehkan kepala dan langsung menemukan pemuda tampan berhidung mancung sudah berdiri di sampingnya. Pemuda itu ikut memandang ke arah luar jendela saat Nafla mengambil botol air mineral tersebut dan mengucapkan terima kasih.
"Sudah menemukan jawabannya?" tanya Az tanpa menoleh. Tangannya tampak memegang besi pembatas jendela sebatas pinggang di depannya.
Saat Nafla tidak juga menjawab, Az baru menolehkan kepalanya.
"Nafla Afanin Tirta," panggil Az. Raut wajahnya begitu serius saat melanjutkan, "Sudah menemukan jawabannya?"
***
Aku bawa rekomendasi novel seru lagi, nih, buat kamu. Cinta, benci, cinta, benci. Mengaduk-aduk perasaan banget pokoknya.