
Faiz mengirimkan lokasi pertemuan mereka. Ia bahkan mengancam, jika tidak segera menemuinya, maka ia tidak akan segan menghampiri Nafla dan membuat kekacauan.
Akhirnya Nafla menyetujui permintaan itu. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Ia tidak ingin Bianca terkena imbas perbuatannya.
Sebenarnya, Nafla ingin pamit sejak tadi, tetapi melihat seluruh keluarga berkumpul ia jadi enggan untuk pergi. Di hadapannya ada Bianca yang tampak sangat lahap menyantap makanannya. Wajahnya bahkan tampak begitu bahagia. Sedangkan, di kursi lain diisi papa, nenek, Daniel dan Jia.
"Maaf, kami jadi ikut bergabung," ucap Daniel sungkan.
"Nggak apa-apa. Nenek memang sengaja masak banyak untuk kita semua. Harusnya Nak Daniel mengajak ibunya Jia biar lebih ramai." Nenek tersenyum ramah, lalu mendekatkan mangkuk bakso ke arah Jia. "Ayo, tambah lagi Jia. Enak, kan?"
"Ibu Jia ... sudah nggak ada," ucap Daniel. Kemudian, mengusap puncak kepala Jia. Sedangkan, nenek tampak menyesal dengan ucapannya. Ia langsung meminta maaf pada Daniel.
Tirta yang sedang menyuapi makanan di piringnya, tampak menatap Daniel lama. Tiba-tiba ia merasa sedang melihat dirinya sendiri di masa muda. "Pasti nggak mudah, Dan."
Daniel tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Tapi nggak mustahil juga," balasnya optomis.
Papa tersenyum mendengarnya. Sedangkan, senyum di bibir Bianca lebih sumringah lagi. Ia bahkan menatap Daniel dengan mata berbinar. "Masakan nenek enak semua! Ayo Jia makan yang banyak."
Setelah itu, semua tampak bercengrama dengan hangat, hanya Nafla yang masih tampak gelisah. Sup khusus untuknya yang dibuat nenek, bahkan belum ia sentuh.
"Kenapa, Bia?" Nenek yang menyadari kegelisahan sang cucu, bertanya. Sebenarnya, ia merasa iba pada gadis itu yang tidak boleh makan sembarangan dengan memasukkan terlalu banyak bumbu. "Nggak enak, ya?"
Nafla menggelengkan kepala, lalu tersenyum. Kemudian, melahap sup hambarnya tanpa menjawab.
Usai makan, Nafla sengaja mencari Bianca di kamar. Ia harus bicara empat mata dengan sang adik.
"Ini kamar kamu?" Itu adalah pertanyaan yang langsung Bianca lontarkan saat Nafla masuk dan menutup pintu.
Bianca tampak sedang berdiri sambil membolak-balikkan buku di tangannya, lalu meletakkannya lagi ke atas rak. Ada banyak buku yang tersusun rapi di jejeran rak yang terpaku di dinding.
"Kamu suka buku?" tanya Bianca lagi sambil menoleh pada Nafla.
"Kamu nggak kaget?" Nafla berdiri tepat di hadapan Bianca. "Jiwa kita tertukar. Kamu nggak kaget?"
"Kaget," jawab Bianca santai. Ia memutar tubuhnya menghadap cermin.
"Terus?"
"Kata papa, kamu mirip mama."
"Bukan itu!" balas Nafla gemas. Ia ikut menatap dirinya di cermin. Ada pantulan dua orang wanita yang tampak di cermin dengan jiwa yang tertukar.
"Terus apa?" Bianca melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memutar tubuhnya menatap Nafla. Kemudian, melanjutkan, "Aku suka tubuh ini. Aku bisa makan apapun yang aku mau."
Wajah Nafla berubah kecut. "Sekarang aku yang harus minum obat sama makanan neraka."
Bianca tertawa keras. Terkadang Nafla heran, bagaimana bisa Bianca tumbuh menjadi anak yang periang, padahal semua penyakit yang dideritanya sangat menakutkan.
"Sekarang kita berukar peran. Dari dulu aku penasaran, gimana rasanya jadi kamu." Ucapan Bianca tersebut membuat Nafla terkejut. Apa lagi sorot mata Bianca tampak sedih saat mengucapkan kalimat itu.
Ini aneh sekali. Harusnya Nafla yang iri dan ingin menjadi Bianca. Bukan sebaliknya. Namun, sebelum ia menanyakan alasannya, ponselnya kembali berdering. Nafla menerima panggilan tersebut tanpa mengucapkan salam.
"Aku ke sana sekarang." Nafla memutuskan panggilannya begitu saja. Kemudian, tampak mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Nafla Afanin
Aku butuh bantuanmu.
16.37 WIB
"Hei! Mau kemana?" teriak Bianca. Namun, Nafla tidak menjawab pertanyaannya, hingga membuat Bianca mendengkus kesal. Kemudian, gadis itu kembali menatap cermin dan memegang pipinya sendiri. Seketika dahinya berkerut. "Nafla nggak pernah pakai skin care, ya?"
***
Nafla sudah tiba di lokasi kesepakatan tepat pukul 17.40 WIB. Warna langit sudah berubah gelap saat Nafla berjalan menelusuri sebuah halaman sebuah ruko. Ia tidak menyangka tempatnya agak sepi.
"Bia." Faiz muncul dari dalam dan langsung ingin memeluk Nafla. Namun, Nafla mengelak. "Kenapa? Mas kangen banget sama kamu."
Nafla menatap Faiz dengan tatapan tidak terbaca. Baru beberapa tidak bertemu saja, penampilan Faiz sudah berantakan.
"Kamu tinggal di sini sekarang?" tanya Nafla mencoba mengulur waktu. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah toko tersebut.
"Untuk sementara. Aku diusir dari rumah karena kamu."
Nafla mendecih. "Karena ulahmu sendiri!" tegasnya.
Tampaknya Faiz tidak terima. Namun, ia memilih mengalah dan mencoba memeluk Nafla lagi. Matanya tampak memerah saat lagi-lagi Nafla mengelak.
"Apa maumu?!" sentak Faiz, marah. "Kau mempermainkan aku, ya?!"
Nafla melebarkan matanya pura-pura kaget. Kemudian, tertawa mengejek. "Mata keranjang sepertimu sesekali memang butuh diberi pelajaran, kan?"
"Jadi benar kau sengaja mempermainkan aku? Brengs*k!" Faiz mengeluarkan pisau lipat dari pinggangnya, membuat Nafla bergidik ngeri juga.
"Sadar, Faiz! Penyebab kehancuranmu, kamu sendiri." Sebenarnya Nafla sudah merasa takut. Namun, ia berusaha keras agar suaranya tidak terdengar gemetar. Ia bahkan mengeluarkan alat setrum dari dalam tasnya. Kemudian, mengarahkannya pada Faiz.
Cepat datang, Kak Azar!
Faiz tertawa melihat Nafla yang rupanya telah mempersenjatai dirinya sendiri. "Kau pintar juga rupanya."
Gantian Nafla yang tertawa. "Kau kira semua perempuan bod*h seperti, Nafla?"
Kening Faiz berkerut. "Nafla?"
"Lupa?" Nafla mendecih. "Perempuan bod*h yang begitu tulus padamu, tapi kau permalukan di depan umum."
"Kau ... ada hubungannya dengan Nafla?"
Nafla mengeringai. "Menurutmu?"
"Bangs*t!" Faiz bergerak maju, mencoba menyerang Nafla. Namun, dengan cekatan gadis itu menyentrumnya, hingga pisau terlepas dan terpental dari tangan Faiz.
Saat Faiz memegang sikunya yang terasa mati rasa sambil meringis, Nafla menendang kuat pisau di lantai agar menjauh. Napas Nafla sudah tampak tersengal. Sejujurnya, ia tidak seberani itu.
Cepat datang, Kak Azar!
Urat di dahi Faiz tampak menonjol. Ia menatap tajam Nafla yang masih mengarahkan alat sentrum padanya. Matanya tampak memerah.
"Kita lihat saja, siapa yang akan menyesal pada akhirnya!" Faiz melangkah maju, mendekati Nafla, meski gadis itu berkali-kali mengayunkan alat setrum ke arahnya.
Kali ini Nafla tidak bisa menahan gemetar di tangannya. Faiz terlihat begitu menakutkan. Ia bahkan terlihat tidak bereaksi saat alat setrum itu mengenai kulitnya, hingga dengan sekali tepisan alat pelindung diri di tangan Nafla itu terpental dan jatuh ke lantai.
Nafla berteriak kaget. Kemudian, mencoba berlari secepat yang ia bisa. Namun, terlambat karena Faiz telah mengunci leher Nafla dengan lengannya, lantas menarik paksa gadis itu memasuki ruko.
***
Udah terjawab, ya, status Mamas Daniel 😆