
"Ada apa?"
"Panas!"
Kening Nafla berkerut mendengar jawaban Az tersebut. Ibarat buku, Az ini merupakan buku yang sulit sekali ia pahami. Terlalu banyak tulisan tanpa gambar.
"Maksudnya?" tanya Nafla tidak mengerti.
Az melangkah maju, semakin memangkas jarak di antara mereka tanpa melepaskan tatapannya dari mata Nafla sedetik pun. Lagi-lagi ia cuma diam, tetapi kali ini sebuah senyum tipis pelan-pelan terulas di bibir pemuda berhidung mancung itu. Membuat Nafla sedikit gugup ditatap demikian.
Sebenarnya, Nafla sempat hanyut dalam hangatnya tatapan Az. Entah kenapa, sehari saja tidak bertemu membuatnya begitu merindukan pemuda itu. Namun, sebisa mungkin Nafla mencoba bersikap biasa saja.
"Kamu kenapa, sih, Az?" Nafla mencoba menyelesaikan adegan tatap-tatapan tesebut. Kalau begini terus, ia bisa ketahuan.
"Az?" Az menaikkan sebelah alisnya, hingga membuat Nafla salah tingkah.
"Kak Azar, maksudku," kilah Nafla dengan pandangan tertunduk. Kemudian, beranjak dan memilih duduk di sofa. Ia baru sadar, jika rupanya Daniel memperhatikan interaksi mereka dari tadi.
"Jangan khawatir, Nafla baik-baik saja. Ada kami di sini," ucap Daniel, mencoba unjuk diri karena dari tadi dia cuma jadi penonton saja.
Az akhirnya mengalihkan tatapannya dari wajah Nafla, lantas memandang Daniel yang duduk di sofa. Kemudian, tersenyum. "Justru itu saya khawatir."
Jleb!
Tentu saja ucapan Az tersebut membuat Daniel sedikit tersinggung. Raut wajahnya tampak tidak bersahabat, terutama saat Az memilih duduk di samping Nafla.
"Maksud Anda?"
"Tidak apa-apa. Saya hanya sedang mencoba menjaga apa yang harus saya jaga."
Nafla yang kali ini menjadi pendengar obrolan kedua laki-laki itu, mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ia menolehkan kepalanya pada Az, menatap pria itu dalam.
Apa sebenarnya Az sudah tau mengenai pertukaran jiwa mereka? Apa Bianca sudah mengatakannya? Atau ... apa Az sebenarnya memang punya perasaan pada Bianca sejak dulu sampai sikapnya seposesif ini?
Ingin sekali Nafla menanyakan begitu banyak apa di kepalanya itu pada Az, tetapi tidak bisa. Ia tidak akan mengatakan atau bahkan menyinggung tentang pertukaran jiwanya dengan Bianca, sebelum Bianca dulu yang memulai. Dulu, Nafla pernah memanfaatkan tubuh Bianca untuk membalas sakit hatinya pada Faiz. Mungkin, sekarang gilirannya.
Suasana sempat canggung karena tidak ada yang mulai bicara. Az seolah hadir memang untuk menjadi jarak antara Nafla dan Daniel malan ini. Beruntung Laras akhirnya datang juga, hingga Az melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Saatnya kita pulang Pak Daniel." Az berdiri dari duduknya, lantas menatap Daniel dingin.
"Saya tau." Daniel menggeser tubuhnya, lantas meraih tubuh Jia ke dalam gendongannya. Kemudian, dengan hangat berkata, "Kami permisi dulu, Nafla. Terima kasih untuk hari ini."
Saat Nafla ingin ikut mengantar kepulangan mereka, Az mendorong pelan pundak Nafla agar gadis itu kembali duduk. Kemudian, tersenyum saat Nafla menatapnya bingung. "Nggak usah diantar. Kamu tidur nyenyak, ya."
Setelah mengucapkan hal itu, Az langsung menyusul langkah Daniel. Meski diselimuti rasa persaingan, tetapi Az dengan rendah hati membukakan pintu untuk Daniel karena kedua tangan pria itu sedang menggendong Jia.
"Terima kasih."
Az mengangguk ringan, lalu menunggu Daniel merebahkab tubuh Jia di jok mobil. Ia tahu, ada yang akan ayah satu anak itu bicarakan padanya.
Benar saja, setelah ia memastikan poisisi tidur Jia cukup nyaman, Daniel menutup pintu mobil. Kemudian, berdiri menghadap Az.
"Seingat saya, Anda menyukai Bianca."
Az tidak menjawab. Ia hanya membalas tatapan Daniel.
"Jangan bersikap seperti pada perempuan, Bro. Nanti mereka salah paham."
Kali ini Az menggeleng. "Aku bersikap sama pada perempuan yang sama." Az menarik kedua ujung bibirnya, hingga menciptakan sebuah senyum tipis. Kemudian, melanjutkan, "Anda tidak perlu khawatir."
Tatapan keduanya kembali terlihat sengit. Mereka belum terlalu mengenal, tapi sudah menabuh genderang perang.
Setelah kepulangan Az, Daniel, dan Jia, Nafla tidak langsung tertidur. Hatinya masih terganggu oleh sikap Az padanya tadi. Ia membolak-balikkan tubuhnya di ranjang gusar. Tiba-tiba ia khawatir, ia salah menebak hati Az.
Az sendiri memilih kembali ke rumah sakit. Tadi ia terlalu terburu-buru ingin menemui Nafla sampai lupa janjinya dengan Dokter Idan. Tadi siang, dokter senior itu meminta menemuinya malam ini.
Sejak magang, hingga resmi bekerja di WRS Hospital, Az selalu menemani Dokter Idan dihampir setiap tugasnya. Bahkan, ia juga kerap diajak mengikuti seminar di luar kota dan negeri. Sehingga, bisa meraup banyak ilmu dari sana.
"Maaf, Dok, saya terlambat."
"Masuk!" titahnya bijaksana.
Az masuk ke dalam ruangan yang di kelilingi lemari kaca tersebut. Kemudian, duduk di hadapan Idan setelah dipersilakan.
"Lihat!" Idan menujukkan layar komputer di hadapannya, lalu menatap Az lagi. "Umurku makin tua saja Az."
Astaga! Ternyata Doktet Senior sedang menujuk kalender, hingga membuat Az mendecak.
"Udah lama, Pak!"
"Apanya?"
"Tua," jawab Az ringan.
Idan menggertakkan gigi palsunya kesal. Kalau ada yang paling tahan dengan sikap dingin Az, mungkin Idan inilah orangnya. Buktinya lebih dari empat tahun, ia sanggup menjadikan Az sebagai partner kerjanya.
Melihat reaksi Idan tersebut, Az langsung terbahak. Ini bukan kali pertama ia menggoda Idan. Baginya Idan adalah guru, orang tua, bahkan sahabatnya.
"Kita sebaya, Az. Jangan ngawur kamu!"
"Siap, Kak Idan!"
"Nah!" Idan menghadiahkan jempolnya untuk Az, lalu ikut tertawa.
Untuk bisa sampai pada hubungan seakrab ini, begitu banyak waktu dan pengalaman yang harus mereka lalui. Idan melihat sendiri bagaimana semangat dan dedikasi Az di dunia kesehatan. Di mata Idan, Az merupakan anak yang cerdas dan potensial.
Idan melempar sebuah map ke atas meja, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Baca! Dilihat aja."
Az meraih map tersebut, lalu membuka dan membaca isinya. Kemudian, menatap Idan lagi.
"Saya berharap kamu melanjukan pendidikan jadi Dokter," ujar Idan serius.
"Dok?"
"Saya merekomendasikan kamu. Jadilah Dokter hebat, Azariel Firdaus."
Az tidak bisa langsung memberi jawaban untuk tawaran Idan tersebut. Ia tahu, kesempatan tidak boleh disia-siakan. Namun, kini kondisinya sedikit kurang tepat.
Az keluar dari ruangan Idan dengan langkah pelan. Pikirannya masih terus menimbang. Bahkan, saat beberapa rekan menyapanya dengan ramah, Az tampak setengah merespons.
Azariel Firdaus bukan perawat biasa. Mungkin, dokter di WRS Hospital yang bisa bertemu dengan komisaris rumah sakit bisa dihitung dengan jari. Namun, Az yang bersatus sebagai perawat sudah berkali-kali bertemu dengannya.
Beberapa perawat wanita tampak melempar senyum pada Az. Selain karena popularitasnya di kalangan WRS Hospital, Az juga memiliki paras yang sedap dipandang. Tidak satu, dua perawat saja yang mencoba mendekati Az, tetapi pemuda itu seolah selalu menciptakan jarak. Bahkan, dokter wanita juga ada yang menaruh hati padanya.
Az terkenal pandai menempatkan diri. Dia cakap dan profesional. Pembawaannya yang tenang, mampu membuat kondisi darurat tertangani dengan aman.
"Pak Az itu udah punya istri, ya?"
"Kenapa?"
"Kayak orang yang sedang menjaga hati," bisik para perawat yang sedang bertugas malam ini.
Az terus saja melanjutkan langkahnya, hingga ponselnya terasa bergetar. Ia meraih ponselnya dari dalam saku dan nama Bianca langsung tampil di layar.
"Halo?"
"Kamu di mana? Tolong temui aku."
Az teringat dengan Bianca yang tadi seperti ingin mengatakan sesuatu. Jadi, ia menyetujui keinginan Bianca tersebut.
"Oke."
***
Selagi menunggu SUPERBIA update, yuk kepoin novel keren ini. Baca dulu deh, pasti ketagihan.