SUPERBIA

SUPERBIA
Terganggu



Obrolan mereka sudah berlalu dari setengah jam yang lalu, tetapi Az masih memikirkan perkataan Nafla tadi.


Perhatikan angkanya, deh! Aneh, kan? Tadi 72:00 sekarang 69:45


Entah kenapa hatinya jadi tidak tenang. Tiba-tiba, ia teringat sering melihat Bianca memakai jam yang sama.


Meski tidak lagi menjadi perawat pribadi, tapi di waktu senggangnnya, Az selalu datang memastikan keadaan Nafla. Seperti pagi ini. Selagi ia masuk shift malam, pagi ini ia sudah bertandang ke kediaman Tirta.


"Pagi banget!"


"Bukan aku yang kepagian ...."


"Tapi aku yang ke siangan!" sambar Nafla cepat. Sepertinya ia sudah bisa mengimbangi Az.


Az hanya tersenyum, sembari melakukan beberapa pemeriksaan dan mencatat hasilnya. Belakangan, kondisi fisik Nafla mulai membaik. Gadis itu bahkan jarang mondar-mandir rumah sakit. Ia juga terlihat bersemangat dan bertenaga. Namun, hal itu bukan berarti ia harus melonggarkan kewaspadaan.


"Kenapa?" Az menyentuh lengan Nafla. Ada tanda lebam di sana.


Nafla mengikuti arah pandang Az. "Nggak tau."


"Jatuh?"


"Enggak." Nafla menurunkan lengan bajunya. "Mungkin dicubit hantu."


Az hanya menatap Nafla dengan pandangan datar. "Sekarang kamu kembali ke kamar. Periksa semua tubuh dan laporkan padaku kalau ada tanda seperti itu."


"Woah!" Nafla dibuat takjub. Ia bahkab menatap Az dengan pandangan tidak percaya. "Kamu bisa ngomong banyak?"


Az tidak mau meladeni Nafla. Ia memutar tubuh Nafla, lalu mendorong punggung gadis itu agar masuk ke kamar.


"Aku nggak apa-apa, Az!" protes Nafla. Namun, Az tidak peduli dan terus mendorong tubuhnya. Melihat perbuatan Az itu, Nafla membalikkan tubuhnya kesal, lalu menatap Az jengkel.


"Segitu sayangnya kamu sama Bianca?" Nafla mencibir, lalu akhirnya masuk ke kamar sesuai intruksi perawat ilegal tersebut. Mengabaikan Az yang menghela napas.


Tidak lama kemudian, Nafla keluar lagi dengan beberapa laporan lisan. "Ada di paha. Sebesar ini," jelasnya sambil membuat lingkaran dengan jemarinya. "Tapi nggak sakit."


Sejenak Az terdiam. Ia menatap jam yang masih melingkar di pergelangan tangan Nafla. Kemudian, meraih tangan Nafla dan melihat jam yang kini menunjukkan angka 59:45.


"Punya Bianca?" tanya Az tanpa mengalihkan pandangannya dari jam tersebut.


Sekali lagi Nafla mendengkus. Ia menarik tangannya kesal. "Punyaku!"


Nafla yang kesal karena Az selalu menyebut nama Bianca langsung kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Kemudian, membanting pintunya.


***


Setelah selesai melakukan pemeriksaan pada Nafla, kini Az beralih menemui Bianca, sesuai mandat Tirta. Keadaan gadis itu semakin baik. Cedera fisik yang dialaminya pulih dengan cepat. Hanya ada beberapa bekas luka lecet dan jahitan yang akan memudar nantinya.


Bianca tampak sepeti Bianca biasa yang ceria dan sumringah. Ia berhasil membuat nenek tertawa dan melakukan apapun yang ia suka. Saat menyadari keberadaan Az, Bianca langsung menghampirinya dan mengamit lengan perawat tersebut.


"Kak Azar datang lagi?"


Cara Bianca memanggil namanya membuat Az sedikit merasa terganggu. Dulu, hanya Nafla kecil yang memanggilnya begitu. Namun, entah sejak kapan Bianca mulai memanggil namanya dengan cara yang sama.


Az mengangguk, lalu meminta Bianca duduk. Kemudian, memeriksa bekas luka di pelipis Bianca. Hari ini perban sudah bisa dibuka. Jahitan di siku Bianca juga sudah mulai mengering.


Saat Az melakukan tugasnya, Bianca tampak menatap dalam pemuda itu. Ia begitu merindukan Az.


"Aku udah boleh berhenti minum obat, kan?" tanya Bianca saat Az menarik tangannya dari lengan Bianca.


"Habiskan dulu sesuai resep," balas Az. "Kapan kontrol lagi?"


"Lusa. Temani aku, ya, Kak."


Az melepaskan tangan Bianca yang kembali mengamit lengannya, hingga Bianca memasang wajah cemberut. Gadis itu memang suka melakukan kontak fisik.


"Bia?"


Bianca kembali menatap Az, lalu mengangkat sebelah alisnya.


"Jam ... kesayaangan kamu mana?"


Raut wajah Bianca tampak sedikit berubah. Ia terlihat lebih tegang dan menghindar. "Rusak," jawabnya singkat.


"Mana?"


"Aku nggak tau. Semenjak aku pindah ke tubuh ini ingatanku nggak begitu bagus, Kak!" jelas Bianca seolah ingin topik ini berakhir.


Kali ini Az tidak memaksa lagi. Ia tampak diam dan berbikir. Seingatnya, angka di jam Bianca norma-normal saja, tidak aneh seperti punya Nafla.


***


Selagi menunggu SUPERBIA UPDATE, yuk baca novel temanku dulu .... Tinggalkan jejak di sana, ya !