
Sama seperti Az yang bingung kenapa terlalu banyak memberi toleransi, Nafla juga bingung kenapa ia terlalu percaya pada Az. Mereka akhirnya pergi menuju rumah sakit. Selama di mobil keduanya sama-sama diam. Nafla sedang menyiapkan mentalnya untuk melihat dirinya yang dulu, sedangkan Az entah apa yang dipikirkan pemuda itu.
"Menurutmu ... aku bakalan sadar lagi nggak, Az?"
Saat mendengar pertanyaan itu, Az menatap Nafla sejenak dari kaca spion dalam. "Kamu maunya gimana?"
"Enggak," jawab Nafla pelan. "Setelah urusanku selesai, aku harap aku tidur selamanya."
Di dunia ini, ada banyak orang yang gagal mencintai dirinya sendiri dan Nafla adalah salah satunya. Sampai saat ini, tidak satu pun alasan yang berhasil ia temukan untuk membuatnya cinta pada sosok Nafla Afanin Tirta. Gadis biasa dengan segala keserhanaannya.
Az tidak membalas. Ia hanya diam, menatap Nafla dari kaca spion dalam, lalu kembali fokus menyetir.
"Hah!" Nafla mengembuskan napasnya kuat, lalu mengibaskan rambut di pundaknya. "Tapi sekarang aku adalah Bianca. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau sampai Nafla kembali."
Meski tampak tersenyum, tetapi mata gadis itu tidak bisa berbohong. Dia sedang sedih sekarang.
Sekali lagi Nafla mengembuskan napasnya saat tiba di depan rumah sakit. Di sampingnya ada Az yang berjalan mengikutinya dalam diam. Hanya terdengar suara ketukan hak tinggi sepatu Nafla si sepanjang lorong. Suara itu baru berhenti saat mereka tiba dan berdiri tepat di depan ruang ICU.
Tanpa bicara, Nafla memandang ke balik kaca pintu ruang ICU. Di sana masih terbaring orang yang sama dengan kondisi yang sama. Kemudian, tersenyum getir. "Aku jelek, kan?"
Perlahan Az mengikuti arah pandang Nafla. Tatapannya juga terpaku pada wajah pucat gadis yang selalu menutup mata tersebut. Kemudian, ia menggelengkan kepala tanpa bicara. Sayangnya, Nafla tidak melihat itu.
"Jangan menilaiku dengan standarmu, Az. Jangan bilang aku nggak bersyukur." Nafla membalikkan tubuhnya, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Aku nggak akan bilang begitu!" bantah Az, hingga membuat Nafla tersenyum tipis.
Keduanya sama-sama terdiam cukup lama, hingga Az kembali bersuara. "Nafla?"
Mendengar nama aslinya disebut tentu saja membuat Nafla terkejut. Ia menatap Az, dalam.
"Kadang, sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada," lanjut Az. Tatapan pemuda itu sedikit berbeda hari ini. Terkesan lebih bersahabat dan hangat.
"Maksudnya?" Kening Nafla mengernyit. Namun, bukannya menjawab, Az justru melangkahkan kakinya pergi. Kemudian, dengan santai berkata,
"Ayo, makan es krim!"
"Emang boleh makan es krim? Nanti kalau hidungku berdarah aku nggak tanggung jawab, ya." Nafla mengejar langkah Az dengan antusias, lalu berjalan di sampingnya.
Kelopak mata Nafla berkedip pelan. Langkahnya memelan, hingga ia tertinggal di belakang. Senyum Az barusan ... kenapa menawan?
***
"Aku mau rasa cokelat!" Nafla mencomot satu buah es krim rasa cokelat dari freezer dengan wajah ceria. Kemudian, masih berdiri di sana, setia menunggu Az yang sedang membungkuk memilih es krim untuk dirinya sendiri.
Setelah menemukan es krim pilihannya, Az menegakkan tubuh, lalu mengambil alih es krim dari tangan Nafla tanpa izin. Kemudian, dengan santai berjalan menuju kasir. Sambil berjalan, ia berkata pelan, nyaris bergumam, "Bukannya kamu suka stroberi?"
Sekali lagi kening Nafla mengernyit. Ia masih berdiri di tempat yang sama dengan menatap lurus punggung Az yang sedang menyelesaikan pembayaran di kasir. Punggung lebar yang terasa begitu hangat dan nyaman.
Azariel Firdaus ... kamu siapa?
"Ayo!" Az mengedikkan dagunya saat melihat Nafla belum juga beranjak dari tempatnya. Kemudian, berjalan ke luar minimarket dengan menjinjing sebuah pelastik putih di tangannya.
Keduanya tidak langsung pulang, melainkan singgah dulu ke taman kota dekat mini market tadi. Hari nyaris beranjak senja, tetapi mereka malah bermain ayunan seperti anak-anak di taman.
"Nafla itu artinya apa?" Az bertanya, sembari duduk di atas ayunan. Ia tampak serius menjilati es krim rasa cokelat di tangannya. Tumben-tumbennya manusia es batu itu tampak imut.
"Bunga matahari," jawab Nafla. Kemudian, ikut menikmati es krimnya. Namun, tiba-tiba ia mengangkat wajahnya lagi saat teringat sesuatu. "Kalau Azariel, artinya apa?"
"Coba tebak!" Az sudah selesai dengan es krimnya. Ia melempar bungkus es krim tersebut, hingga tepat sasaran, masuk ke dalam tong sampah. Sejenak, Nafla memandangnya takjub.
"Pengendali air," gumam Nafla.
"Tau dari mana?" Az menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum usil. Kemudian, ia beranjak dari ayunannya dan berdiri di belakang Nafla.
"Siap-siap! Sebentar lagi kamu akan terbang," teriak Az sembari mendorong pelan ayunan Nafla. Namun, semakin lama, semakin kencang, hingga membuat Nafla panik.
"Kak Azar!"
"Apa, Anin?"
***
Maafkan aku yang harus bikin mak-emak googling perkara Judul SUPERBIA. Terus terang, aku bingung mau nangis apa ngakak mendengar fakta ini. Dari pada bingung, aku putusin buat bobo aja. Selamat tanggal 1 semuanya. Ingat ada SUPERBIA yang butuh di vote di sini 😂