
Usai akad, Nafla dan Az belum bisa beristirahat dan menikmati indahnya status baru. Mereka langsung membantu Bianca mengepaki barang-barang yang sekiranya akan dibutuhkan, lalu mengantar Bianca dan Papa ke bandara.
"Nafla ikut, ya, Pa."
Kening Papa langsung berkerut, lantas tertawa geli. Ia merangkul pundak Nafla, lalu membawanya berjalan menjauh dari Bia dan Az.
"Kali ini, biarkan Papa yang menyembuhkan luka Papa."
"Maksud Papa?"
Langkah keduanya terhenti. Papa melirik ke arah Bia yang tampak sedang mengobrol dengan Az, lalu menatap Nafla lagi dengan tatapan sendu.
"Kepergian mama kamu, membuat Papa selalu hidup dalam ketakutan, Naf." Papa menghela napasnya berat, lalu melanjutkan, "Mungkin, karena Mama kamu tidak pernah mengizinkan Papa untuk melihatnya kesakitan."
Nafla ingat. Dulu, Mama memang lebih banyak memilih ke rumah sakit sendiri dan hanya membawa dirinya. Melewati semua masa terberatnya sendiri tanpa melibatkan suami.
Bukannya Mama tidak ingin membagi rasa sakitnya. Namun, saat itu Papa sedang merintis usaha dan Mama tidak ingin menambah beban pikirannya.
"Dulu kamu yang nemenin Mama, sekarang biar Papa yang nemenin Bia," ujar Papa nyaris menitikkan air mata.
Nafla menggelengkan kepalanya, tidak lagi ingin melihat ada air mata hari ini. Maka, ia melangkahkan kakinya maju dan menenggelamkan wajahnya di dada Papa.
"Papa sama Bia harus kembali, ya."
Papa tersenyum. Ya, hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan putri sulungnya tersebut.
"Ada Daniel." Papa berbisik, hingga membuat Nafla menolehkan kepalanya. Ia memandang Daniel cukup lama dari kejauhan. Andai, Daniel bisa mencintai Bia, mungkin ....
"Ayo kita ke sana." Papa kembali merangkul pundak Nafla dan membawanya kembali mendekati Bia.
Papa melempar senyum dan bersalaman dengan Daniel, sedangkan Nafla memilih berdiri di dekat Az. Suami Nafla itu dengan begitu santai merangkul pundak Nafla, hingga membuat Nafla mendongakkan kepalanya, kaget. Cepat juga Az menyesuaikan peran sebagai suami atau ....
"Oh, selamat, ya. Saya dengar kalian sudah menikah," ujar Daniel tersenyum canggung.
Az balas tersenyum, lalu mengangguk. Jadi, sebenarnya gestur tadi itu sebagai penegasan kalau Nafla kini seutuhnya miliknya dan dunia harus tahu itu.
"Terima kasih," jawab Az kalem, sedangkan Bia sudah terkikik duluan.
"Mas tau dari mana kami ada di sini?" tanya Nafla yang langsung disambut kening berkerut oleh Az. Panggilan Mas dari Nafla untuk Daniel cukup mengganggu telinganya.
Daniel melirikkan matanya ke arah Bia. "Sepertinya adik kamu nggak mau patah hati sendiri, makanya ngajak-ngajak aku."
Bia kembali tertawa. Wanita itu tidak kehilangan karakter cerianya, meski penyakit tidak sepele sudah menggeroti tubuhnya. "Biar patahnya nggak nanggung-nanggung, Mas. Jadi, sembuhnya juga bakalan cepat."
"Teori dari mana itu?"
"Dari aku barusan."
"Kalau obatnya kamu, mungkin sembuhnya bakalan cepat," celetuk Daniel, hingga membuat Bia, Nafla dan Papa spontans bersorak. Sedangkan, Az hanya tersenyum tipis.
Mungkin ucapan Daniel tersebut hanya lelucon untuk untuk mengurangi rasa canggungnya. Mungkin juga, lelucon itu hanya sebagai kamuflase untuk menyembunyikan hatinya yang terluka. Namun, setidaknya berkat lelucon itu suasana perpisahan dengan Bia bisa sedikit mencair.
"Jangan jenguk aku! Kalian dengar, kan?" Bia kembali memperingati Nafla dan Az saat Papa mulai mendorong kursi rodanya meninggalkan ruang tunggu.
Entah apa maksud Bia yang jelas hal itu berhasil membuat Nafla meneteskan air matanya. Namun, dengan cekatan Az melangkahkan kakinya maju ke hadapan Nafla dan mendekap pelan kepala sang istri ke dadanya.
***
Saat matahari nyaris berada di atas kepala, Nafla dan Az baru tiba di rumah. Untuk sementara mereka memutuskan pulang ke rumah Az dan tinggal di sana. Entah, ke depannya.
"Kamu istirahat dulu, ya," ucap Az lembut.
Nafla mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar Az. Tidak bisa dipungkiri, ia merasa sedikit gugup. Bagaimana pun juga, kini mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Saat Az hendak berdiri, Nafla memegang tangannya. "Kamu mau ke mana?"
"Ke luar sebentar."
"Di sini aja."
Sebelah alis Az terangkat dan Nafla paling tidak suka dengan itu. Karena kalau sudah begitu, jantungnya pasti kebat-kebit.
"Maksud aku, kamu istirahat juga. Semalaman kita kan nggak tidur."
"Oke." Az langsung merebahkan tubuh Nafla ke atas ranjang dengan hati-hati, sedangkan ia sendiri ikut berbaring di samping Nafla.
Nggak ada basa-basinya ini suami Nafla.
Entah kenapa Nafla merasa begitu tegang. Jadi, ia berdeham dan membalikkan tubuhnya membelakangi Az. Namun, pria itu justru dengan entengnya memeluk tubuh Nafla dari belakang.
Jantung Nafla jadi semakin tidak karuan, terlebih saat Az berbicara tepat di telinganya. Seolah sengaja menggodanya.
"Nafla?"
"Apa?"
"Kamu nyadar nggak?"
"Apa?"
"Nama kita itu, kalau disatuin jadi Nafaz."
Nafla tampak berpikir. Ia juga baru menyadari itu.
"Takdir yang indah, kan, Sayang?"
Deg! Nafla tidak bisa lagi mengendalikan degup jangtungnya. Jadi, ia hanya memilih diam. Sedangkan, Az justru tersenyum geli dengan ucapannya sendiri. Kemudian, semakin mengeratkan pelukannya.
"Udah tidur, Sayang?"
"Berisik!"
"Sayangnya mana?"
"Berisik, Sayang!"
***
Nggak ngasih gift gapapa, bestie. Cukup nonton iklan gratis aja aku udah senang 😂
Kayak gini, nih, ya ...
Aman, nggak ngabisin poin 😉