SUPERBIA

SUPERBIA
Panas



Jia merupakan anak yang manis dan penurut. Tidak sulit untuk menyayanginya meski baru bertemu. Usai menggambar dan mewarnai bersama Nafla, mereka sempat-sempatnya mengoreng sosis dan nugget. Kemudian, makan bersama.


Daniel baru tahu, Nafla begitu kreatif. Gadis itu menyusun potongan sosis, nugget, tomat, selada, dan telur puyuh, hingga membentuk sesuatu yang cantik.


"Ayo makan, Jia."


Jia menggeleng. Ia masih menatap makanan di hadapannya. "Kasihan."


Nafla dan Daniel saling berpandangan sejenak. Niat hati membuat Jia makan dengan semangat, justru kini gadis kecil itu merasa tidak tega untuk memakannya.


"Lebih kasihan kalau nggak dimakan. Nanti dia nangis," bujuk Nafla.


"Kenapa nangis?"


"Mereka kira, Jia nggak suka sama mereka."


"Suka."


Nafla tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Jia sebentar. Kemudian, memberikan sendok pada gadis kecil yang duduk di sampingnya itu. "Ayo,makan!"


Senyum Nafla terkembang saat melihat Jia mulai melahap makanannya. Sedangkan, Daniel yang duduk di seberang mereka tampak memperhatikan interaksi dua wanita berbeda generasi itu. Kemudian, diam-diam ikut tersenyum.


Usai makan malam, Nafla langsung merapikan meja makan yang dengan cekatan dibantu Daniel, meski sudah dilarang. Orang tua tunggal Jia itu bahkan tidak sungkan turun tangan untuk mencuci piring bekas makan mereka.


"Jangan, Mas! Biar aku aja yang cuci." Nafla yang melihat Daniel telah menggulung lengan kemejanya dan berdiri di depan wastafel segera mendekati pria itu dengan tampang tidak enak.


"Ini bukan pertama kalinya aku cuci piring. Jadi, jangan khawatir," balas Daniel sambil mengerling ke arah Nafla. Sedangkan, tangannya sudah dengan cekatan menggosokkan spons ke permukaan piring keramik yang tadi mereka pakai.


Nafla benar-benar merasa tidak enak. Namun, tidak mungkin ia mendorong Daniel dan merebut piringnya. Jadi, agar cepat selesai, ia memilih membantu Daniel dengan membilas piringnya. Mau tidak mau obrolan pun tercipta.


"Udah malam, Mas. Mending pulang kasian besok Jia sekolah."


Daniel menoleh pada Nafla, hingga membuat Nafla merasa telah salah bicara.


"Jia ... belum sekolah."


Nafla tampak terkejut mendengarnya karena jika dilihat secara fisik, Jia sudah harusnya sudah memasuki usia sekolah.


"Jia kesulitan bersosialisasi. Dia pernah sekolah, tetapi berhenti," jelas Daniel tanpa diminta. Ia tahu Nafla penasaran.


Nafla hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin bertanya lagi, hingga mengungkit luka Jia dan Daniel. Untuk urusan yang satu ini, Nafla cukup peka.


"Lagi pula aku tetap nggak bisa pulang karena nenek sudah menitipkanmu padaku. Sebagai pria sejati, tentu aku harus bertanggung jawab," ucap Daniel tiba-tiba, seolah mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Saat Nafla mendecak sebal mendengar ucapannya tersebut, Daniel justru tertawa renyah. Ia memang sedang menggoda gadis itu. Sedangkan, Nafla mau tidak mau ikut tersenyum juga.


Usai mencuci piring, Nafla kembali ke ruang tengah dan menemukan Jia telah tertidur di atas karpet. Ia duduk di dekat Jia, lalu mengusap sanyang rambut Jia. "Pasti kecapean," gumamnya.


Daniel yang juga baru tiba di ruang tengah, tampak mengulas senyum saat melihat sang putri yang telah tidur nyenyak. Kemudian, berjongkok di dekatnya.


"Angkat ke sini, Mas! Kasihan." Nafla menepuk sofa, lantas merapikannya. Kemudian, berlalu untuk mencari bantal dan selimut di kamar. Setelah itu, ia dengan hati-hati menyelimuti tubuh Jia yang sudah dipindahkan Daniel ke atas sofa.


"Maaf, ya, Mas. Jadi ngepotin kalian, gara-gara harus nemenin aku di rumah."


Hot daddy itu tersenyum saat melihat raut wajah bersalah Nafla, lalu melanjutkan, "Lagian Jia seneng banget setiap ketemu kamu."


Pelan-pelan Nafla ikut tersenyum. Kemudian, mengusap rambut Jia lagi. Namun, usapan tangannya di kepala Jia langsung terhenti saat Daniel berkata, "Aku juga."


Perlahan, Nafla menolehkan kepalanya, menatap Daniel yang rupanya juga sedang menatap dirinya. Ingin bertanya maksud ucapannya, namun nyatanya ia tidak bisa dan memilih mengatup kembali bibirnya. Suasana terasa canggung sejenak, hingga suara bel terdengar sampai ke penjuru ruangan.


"A-aku buka pintu dulu."


"Mungkin Mbak Laras," timpal Daniel, sembari ikut beranjak.


"Sepertinya begitu." Nafla berjalan menuju pintu depan sembari mengembuskan napasnya pelan, merasa lega karena akhirnya ia tidak berdua saja dengan Daniel di rumah.


Pintu dibuka dan bukannya wajah Laras yang ia temukan, melainkan wajah Az yang sudah berdiri tepat di depan pjntu. Pemuda itu tampak seperti biasa, tampak tak banyak bicara dengan pandangan tidak terbaca.


"Az?"


Tatapan Az beralih dari wajah Nafla ke wajah Daniel yang berjalan di belakang gadis itu. Ia masih belum bersuara.


"Ada apa? Kamu ngapain ke sini?" tanya Nafla.


"Periksa keadaan kamu." Az melangkah masuk melewati Nafla yang berdiri di ambang pintu dengan sebuah tas yang dijinjing.


"Memeriksa apa?"


"Banyak tanya!" Az menarik tangan Nafla, lalu membawanya berjalan melewati Daniel.


Ia sempat bergeming saat ekor matanya melihat Jia yang terbaring di atas sofa panjang. Sedangkan, Nafla yang tampak terkejut hanya memilih mengikuti Az.


"Aku baik-baik aja!" tukas Nafla, hingga membuat Az mengalihkan pandangannya dari Jia ke wajah Nafla.


Nafla tampak gelagapan karena Az hanya menatapnya saja dari tadi. Tatapan yang begitu dalam, seolah pemuda itu sedang mencari sesuatu di bola matanya.


"Kenapa?" tanya Nafla gugup. Ia menundukkan kepalanya, lalu dengan spontan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


Mata Nafla seketika dibuat melebar saat Az menarik tangannya, lalu menggenggamnya. Tatapan mereka kembali bertemu.


"Ada apa?" tanya Nafla lagi, semakin bingung. Kemudian, menarik tangannya pelan dari genggaman Az.


"Panas," jawab Az sekenanya.


"Hah?"


***


Selagi nunggu SUPERBIA update, yuk baca novel seru ini. Kawal sampai end, ya!