SUPERBIA

SUPERBIA
Gelisah



Usai Salat Magrib, nenek pamit untuk menjenguk Bianca di rumah sakit seperti janjinya pada papa tadi. Ia merasa cukup tenang meninggalkan Nafla karena masih ada Daniel dan Jia di rumah. Jia, putri kecil Daniel itu tampak masih begitu asik mewarnai bersama Nafla.


"Beneran nggak apa-apa, Nak Daniel?"


Daniel tersenyum. "Tidak apa-apa, Nek. Lagian Jia masih asik sekali gangguin Nafla."


Keduanya menoleh ke arah yang sama, ke arah Nafla dan Jia yang tampak begitu asik mewarnai buku yang sengaja dibawa gadis kecil itu hari ini. Jia bahkan berkali-kali meminta digambarkan sesuatu pada Nafla, hingga membuat Nafla mendadak menjadi pelukis profesional yang selalu mendapat tepuk tangan Jia.


"Kalau begitu Nenek berangkat, ya. Tolong jaga Nafla sebentar. Nanti Laras Nenek suruh pulang lebih cepat."


"Nggak masalah, Nek. Hati-hati!"


Nenek berangkat ke rumah sakit dengan di antar sopir dan ditemani Laras, asisten rumah tangga mereka. Ia dengar pengidap leukimia dianjurkan memakan banyak protein, jadi kali ini nenek datang dengan membawa sup telur yang ia masak sendiri sore tadi. Meski ia tidak yakin apakah Bianca diperbolehkan makan sembarangan atau tidak.


Kehadiran nenek di ruang rawat sempat membuat Bianca khawatir. Ia menyambut kedatangan nenek dengan napas tertahan, menunggu sosok lain yang mungkin ikut datang besamanya. Namun, rupanya nenek justru menutup kembali pintu ruang rawat dengan hati-hati. Itu berarti nenek datang sendiri.


Fiuh!


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Az yang duduk di kursi samping ranjang, langsung berdiri menyambut kedatangan nenek. Kemudian, mencium punggung tangannya seperti biasa. Membuat Bianca yang memandangnya semakin kagum pada pemuda itu.


"Tirta mana?" tanya nenek saat tidak menemukan sang menantu di sana.


"Papa ketemu Dokter, Nek," jawab Bianca dengan senyum terkulum. Semenjak kondisi Bianca memburuk, papa memang sering berkonsultasi dengan dokter. Sekaligus membicarakan rencana pengobatan Bianca di Singapura.


Nenek menoleh menatap Bianca, lalu berjalan mendekatinya. Kemudian, meletakkan rantang bawaannya ke atas meja kecil di samping ranjang, lalu mengusap pipi cucunya itu dengan lembut.


"Jadi ... kalian di sini berdua aja?" goda nenek sambil mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Kemudian, tersenyum usil.


"Kami nggak ngapa-ngapain, Nek!" rajuk Bianca malu-malu. Ia bahkan memeluk neneknya dengan gemas. Lebih dari seminggu tinggal bersama, membuatnya cukup dekat dengan wanita penyayang itu. Sedangkan, Az yang masih berdiri di tempat tadi tampak biasa saja.


"Sama Laras, tapi dia nunggu di luar."


"Nafla?" tanya Az cepat. Terlalu cepat, hingga membuat Bianca tampak memasang raut tidak suka.


"Di rumah." Nenek mengulum senyum tipis, lalu melanjutkan, "Ada Nak Daniel dan Jia juga di rumah. Mereka tadi bawa soto lomongan."


"Yang bener, Nek?" Bianca tampak antusias mendengarnya. Namun, tidak lama karena ia kembali mengendalikan dirinya agar bersikap tenang.


Setelah itu, nenek dengan tidak kalah antusias menceritakan pendapatnya tentang sosok Daniel. Baginya, Daniel merupakan seorang laki-laki bertanggung jawab. Hal ini terlihat dari sikap Daniel pada Jia dan tanggung jawabnya pada Nafla saat kecelakaan, hingga pemulihan.


Keduanya tampak begitu asik bercerita dan berbagi kejadian lucu, hingga Az mengintrupsi. "Saya pamit dulu."


Keduanya sontak menoleh pada Az yang tampak gelisah. Pemuda itu bahkan belum juga duduk.


"Mau kemana?" tanya Bianca.


"Sudah dua hari aku nggak memeriksa kondisi Nafla," balas Az.


Nenek mengangguk setuju. Meski kini terlihat baik-baik saja, tetapi bagaimana pun juga Nafla pernah tidak sadarkan diri selama hampir sebulan dan itu membuat nenek khawatir juga.


"Terima kasih, Az. Bianca biar Nenek yang jaga." Nenek menoleh pada Bianca, lalu mengusap rambut gadis itu dengan tatapan sayang. Sehingga, membuat Bianca yang hendak protes terpaksa mengulum senyum.


Kali ini Az yang mengangguk. Ia kembali mencium punggung tangan nenek, lalu pamit pergi. "Assalamulaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kak Azar!" panggil Bianca pelan. Namun, panggilannya itu cukup mampu membuat langkah Az terhenti. Pemuda itu menolehkan kepalanya, menatap Bianca, tetapi hanya sebentar karena Az kembali melanjutkan langkahnya lagi.