
Jumat, 2 Maret 2007
Suasana rumah begitu ramai. Ada banyak laki-laki dan perempuan berpakaian hitam duduk dan mengelilingi sesosok manusia yang terbaring dengan diselimuti kain panjang. Tangis dan pengajian saling bersahut-sahutan. Di luar sana banyak papan-papan bunga berjejeran.
Seorang laki-laki bertubuh tegap, tengah membopong seorang gadis kecil yang tidak sadarkan diri menuju kamar. Wajahnya sudah tampak begitu sembab, namun air matanya kembali mengalir saat membaringkan gadis kecil tadi ke atas ranjang.
"Tirta, saatnya jenazah di solatkan."
Tirta menoleh ke arah pintu, lalu mengangguk. Sekali lagi, ia menatap wajah malaikat kecilnya yang sedang menutup mata itu. Kemudian, mengusap pelan rambutnya dan beranjak dari sana.
"Titip Anin, Bu," ucap Tirta sembari memakai kopiah. Wajahnya benar-benar terlihat lelah.
Wanita yang dipanggil ibu itu mengangguk sembari menyeka air matanya menggunakan ujung hijab. Di pangkuannya ada seorang gadis kecil lainnya sedang memandang polos ke arah Tirta.
"Bia, ikut Papa, ya." Tirta meraih tangan Bianca, lalu membawanya pergi bersama. Setidaknya, ada salah satu putri yang mengantar kepergian ibunya.
Saat prosesi pemakaman selesai, Tirta kembali ke rumah. Kesedihan di wajahnya tampak menganggtung berat. Seberat langkah kakinya untuk memasuki rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Wanita berhijab tadi menghampiri Tirta. Kini rumah sudah mulai sepi, bahkan terasa sangat sepi.
"Anin gimana, Bu?"
"Belum bangun."
Meski menunggu hingga pagi lagi, Anin tetap tidak bangun. Walau segala cara sudah digunakan untuk membangunkan gadis kecil itu. Hingga, akhirnya Tirta membawanya ke rumah sakit.
"Semuanya normal. Anin sedang tidur."
Tirta meringsek maju, lalu mencengkram kerah jas putih dokter di depannya dengan mata merah. "Tapi kenapa putriku belum bangun-bangun juga?!"
Dokter bergeming. Ia menunggu Tirta bisa mengendalikannya dirinya dulu. Baru kemudian, menjelaskan, "Kita usahakan dia bangun hari ini. Jika tidak ...."
"Jika tidak, apa? Apa?!" Tirta meledak lagi. Ia baru saja kehilangan istrinya dan jangan sampai ada yang hilang lagi.
"Jika tidak, maka Nafla didiagnosis sindrom langka, yaitu Kleine-Levin Syndrome (KLS) atau sindrom putri tidur."
Tirta tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia hanya diam dan kembali menangis.
Segala upaya sudah dilakukan untuk membangunkan Anin. Dipanggil namanya, ditepuk wajahnya, diguncang tubuhnya, bahkan Tirta sudah membisikkan permohonan di telinga Anin agar putrinya itu segera bangun. Namun, tidak ada satu usaha pun yang berhasil.
Beruntung, saat disuapi, Anin masih mau mengunyah makannya. Hingga, di hari ketiga Anin dibawa pulang meski belum juga terbangun dari tidur panjangnya.
"Trauma, lelah, atau ... depresi."
Sekali lagi air mata Tirta mengalir. Ia lelah dan ingin menyerah saja. Namun, saat melihat ada dua malaikat kecil yang membutuhkan dirinya, Tirta harus kuat.
Tepat di hari ke delapan, saat Tirta mengaji di dekatnya, Anin merengek, lalu menangis. Tirta meletakkan cepat kitab sucinya, lalu berlari ke arah Anin.
"Anin sayang. Ini papa, Nak."
Anin terus menangis dengan mata tertutup. Membuat hati Tirta hancur melihatnya.
"Anin, bangun sayang."
Perlahan Anin membuka matanya. Rasanya ucapan syukur tidak cukup untuk mengungkapkan rasa bahagianya. Ia menarik tubuh Anin ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat dengan air mata yang terus saja mengalir.
Anin yang sekarang, tidak seperti Anin yang dulu. Gadis kecil yang ceria itu kini lebih sering menangis. Ia kerap ketahuan memanjat dinding untuk mengambil foto ibunya, lantas memeluknya erat sambil memangis.
Azar, putra sopir keluarga Tirta, yang selalu mengikuti Anin, hanya bisa duduk di dekatnya dan ikut menangis. Kemudian, menawarkan punggung padanya. "Ayo, naik, Anin! Aku gendong ke kamar."
Anin memeluk leher Azar, lalu naik ke gendongan remaja itu. Menyandarkan wajahnya ke punggung Azar yang terasa nyaman, lalu terlelap di sana.
Setiap kali Anin tidur, Tirta selalu merasa takut. Ia takut gadis kecilnya itu kembali tidur panjang dan tidak pernah terbangun lagi. Apa lagi saat melihat Anin kembali menangis histeris setiap kali melihat Firdus, sopir pribadi mereka, Tirta menjadi sangat waspada.
Dulu, Firdaus dan Azarlah yang selalu mengantar Mama Anin untuk kemotrapi. Hingga, mungkin setiap kali melihat Firdaus, Anin teringat lagi dengan ibunya. Maka, dengan berat hati Tirta memberhentikan Firdaus sebagai sopir. Kemudian, meminta Firdaus dan Azar untuk pergi jauh.
Tirta juga menyingkirkan semua foto yang menggantung di dinding. Ia juga bahkan mengubah nama panggilan Anin menjadi Nafla.
Semua demi Nafla Afanin Tirta.
Rupanya cobaan belum juga usai untuk Tirta. Ia kembali diuji dengan diagnosis dokter untuk putri keduanya, Bianca. Bianca dipastikan terkena penyakit yang sama seperti mendiang ibunya, kanker darah, leukimia.
"Kamu ikut Nenek dulu, ya, Nak. Nafla segalanya bagi Papa."
Tirta tidak ingin Nafla kembali depresi jika harus kehilangan Bianca, adik tersayangnya. Tirta tidak ingin kehilangan Nafla juga pada akhirnya.
"Kamu ikut Nenek dulu, ya, Nak. Nafla segalanya bagi Papa."
***
Aku nggak suka bab ini 😢